Larrick merasa sangat marah karena seorang Froskur Bertongkat yang memiliki kepercayaan diri tinggi, dan hal tersebut tak bagus nantinya jika terjadi dalam waktu yang lama. Sesaat setelah menerima serangan asam yang membakar kulitnya, Larrick memegang kedua belatinya menghadap ke tanah dan langsung berlari menerjang hujan ke arah Froskur Bertongkat itu. Dirasa sesuai jarak serang, Larrick melompat dan menancapkan dua belati itu ke masing-masing pundak targetnya.
“AAAAA-” teriak Froskur Bertongkat yang terputus karena belati kanan Larrick telah lepas dari pundak dan bersarang di tenggorokannya.
“Hahh, makhluk yang menjengkelkan” ucap Larrick, sebelum ia kembali menghilangkan presensinya.
Tsibil kembali mencoba menggunakan pisau lemparnya, berbeda daripada sebelumnya, kali ini Tsibil membidik targetnya, seekor Hagya yang sedang tertidur dengan pulasnya. Pisau lempar itu melesat menembus ribuan air hujan dan menancap tepat di kepala Hagya, yang akhirnya terbangun karenanya.
Galahad yang melihat Hagya di hadapannya sudah terbangun dengan pisau kecil yang menancap di kepalanya berniat untuk menambah rasa sakitnya dengan menusuk tubuh berbulu putihnya. Namun Hagya tersebut berhasil menghindar dengan cukup mudah dengan sedikit lompatan ke samping. Setelahnya, hagya tersebut melancarkan serangan balasan menggunakan kedua cakar kaki depannya, yang juga dapat dihindari oleh Galahad.
“Grr” aum lirih Hagya tersebut.
Hemia sudah bersiap dengan crossbow yang sudah diisi dengan baut panah. Dari dua target yang tersisa, ia lebih memilih Hagya dengan pisau di kepala layaknya Unicorn. Dengan konsentrasi penuh ia membidik Hagya yang tersisa itu. Hemia merasa sangat baik hari ini, ditembakkannya baut peluru ke arah tubuh singa putih itu, lebih tepatnya ke arah jantung. Dengan satu tembakan akurat tersebut, baut peluru menembus tubuh dan menusuk jantung Hagya ‘bertanduk’ tersebut, dan tubuhnya tersungkur di tanah berlumpur.
Kairnt dihadapkan dengan King Coronu yang masih berdiri pusing karena sambaran kilat magis oleh Hemia di giliran sebelumnya. Kairnt kembali bersiap dengan kuda-kuda terbaiknya dan melesatkan tebasan ke arah leher King Coronu. Satu serangan yang sangat kuat, namun belum mampu memenggal kepala Raja Katak itu, namun bagaimanapun, King Coronu mengalami luka yang fatal karena tebasan Kairnt, dan kembali meraih kesadarannya.
“AAAAAAKKKHHH!!!!!” pekik King Coronu sambil refleks memegang lehernya.
“Berani-beraninya kau!” teriak King Coronu yang diakhiri dengan tusukan tombak bermata tiga miliknya ke tubuh Kairnt. Karena rasa sakit dan amarah yang memuncak, tusukan tersebut tak mampu dihalau oleh Kairnt dan menembus tubuh besinya, ketika tombak tersebut dicabut, terlihat lobang dan serpihan besi yang jatuh ke tanah berlumpur.
“Ugh” pekik lirih Kairnt, tubuhnya bergontai lemah.
“Kau makhluk hina yang telah menghancurkan kehidupan indah kami hanya karena ambisi bodoh!”
“Bangunlah, takkan kubiarkan kau mati secepat ini! Kau harus merasakan rasa sakit yang lebih besar dari ratusan wargaku yang telah mati gegara ulah kalian!”
“Meka bedebah! Bangun! Ay-”
“Berisik. Dia juga merasakan hal yang menyakitkan karena ulah sesamanya, dan mencoba bertanggungjawab, yang padahal bukan salahnya” ucap Larrick setelah berhasil membungkam ocehan King Coronu dengan cara memenggal kepalanya. Setelahnya, perlahan ia membantu Kairnt untuk duduk dan kemudian ia ikut juga duduk di sebelahnya. Tak lama, rekan-rekan juga berjalan mendekati mereka.
“Kairnt, ku perbaiki dulu tubuhmu” ucap Hemia yang langsung memulai prosesi perbaikan pada Kairnt.
“Kerja bagus” ucap Tsibil.
“Kau juga” balas Larrick.
“Lain kali, gunakanlah ucapan yang lebih lembut untukku” ucap Tsibil.
“Heh, ku usahakan” balas Larrick. Setelahnya suasana menjadi hening, hanya suara air hujan yang meramaikan suasana ini.
Tiba-tiba, Kairnt memecah keheningan dengan menoleh secara heboh ke jasad Lev, membuat teman-temannya kaget dan ikut menoleh ke arah yang Kairnt lihat. Disana para petualang menemukan jasad Lev yang sudah bercahaya, dan jiwanya sudah berkumpul dengan Crag dan Podg. Entah sudah berapa banyak hal yang mereka bicarakan bersama sebelum akhirnya dapat berpamitan dengan para petualang ini. Sesaat setelah para petualang melihat tiga makhluk itu, mereka melambaikan tangan dan menghilang. Tak lama setelah itu, Thalmund berjalan mendekat ke arah Kairnt dan rekan-rekan.