(Un)Released Feelings

imseil
Chapter #6

Halaman Pertama - Bagian 5

Kesibukan Riani sebagai ketua OSIS, ditambah tanggung jawabnya sebagai calon pewaris perusahaan ayahnya, membuat hari-harinya penuh sesak. Pertemuan dengan Alina, sahabat yang sudah seperti saudara, kini menjadi kemewahan yang jarang ia miliki. Jadwal rapat, tugas sekolah, dan urusan keluarga membuat Riani sering hanya bisa mengirim pesan singkat ketimbang bertatap muka.

Ada kalanya, di sela rapat OSIS yang berlarut-larut, ia sempat melirik jam dan sadar sudah tiga hari berturut-turut ia tidak sempat makan siang bersama Alina seperti biasa. Ia akan mengetik pesan singkat, "sorry banget Na, nanti kita ngobrol ya", lalu kembali tenggelam dalam tumpukan berkas yang menunggunya.

Di sela-sela kesibukannya, Riani mulai memperhatikan satu hal: Raka, teman seangkatan mereka, belakangan kerap terlihat bersama Alina. Awalnya ia mencoba mengabaikan, meyakinkan diri bahwa itu hanya kebetulan. Selama Raka tak punya niat buruk, ia memilih untuk tidak ikut campur. Namun, ada naluri protektif yang tak bisa ia hentikan. Apalagi sesekali ia menangkap senyum kecil di wajah Alina saat bersama Raka, senyum yang membuatnya sadar, sahabatnya itu mulai nyaman berada di dekat lelaki itu.

Meski jarang ada di sisinya, Riani tetap mengawasi dari jauh. Ia bahkan pernah memperingatkan Raka, dengan nada santai yang dibungkus serius, untuk tidak macam-macam. "Gue nggak ngelarang lo deket-deket Alina," katanya waktu itu, menepuk bahu Raka sedikit lebih keras dari seharusnya, "tapi kalau lo bikin dia sedih, gue ga bakal tinggal diam." Raka hanya tertawa dan mengangkat kedua tangan tanda menyerah, tapi Riani tahu, ia sudah cukup jelas menyampaikan maksudnya. Bagi Riani, Alina bukan sekadar teman. Ia adalah bagian dari hidupnya yang tak boleh terluka.

POV Alina

Sejak Riani semakin sibuk, Alina mulai merasakan kesepian yang tak ia sadari sebelumnya. Riani biasanya selalu ada, menemani makan siang, mengobrol di sela jam pelajaran, atau sekadar berjalan pulang bersama. Kini, ia sering hanya melihat punggung sahabatnya itu dari kejauhan.

Alina tahu, dunia mereka berbeda. Tapi ia berusaha tak memikirkan hal itu terlalu dalam. Fokusnya kini adalah mempertahankan nilai akademik dan beasiswa yang menjadi harapan masa depannya.

Sore itu, ia duduk di taman sekolah, tenggelam dalam buku dan catatan. Udara hangat sore hari membawa sedikit rasa tenang, angin sepoi menerbangkan beberapa halaman bukunya sebelum ia sempat menahannya dengan telapak tangan. Beberapa murid lain masih berkeliaran di sekitar lapangan, entah menunggu jemputan atau sekadar bermalas-malasan sebelum pulang, tapi Alina lebih memilih sudut taman yang lebih sepi ini, jauh dari keramaian yang selalu membuatnya sedikit gelisah, sampai sebuah suara memecah konsentrasinya.

“Sendirian aja? Boleh saya temani?”

Alina mengangkat wajah. Raka. Lelaki yang akhir-akhir ini sering muncul, kadang hanya menyapa, kadang membawa camilan lalu pergi.

Tanpa menunggu persetujuan, Raka duduk di depannya dan menatap wajah Alina.

“Kalau lagi serius gini… makin lucu, deh,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Alina hanya memutar bola mata, kembali pada bukunya.

Raka tertawa pelan lalu berdiri. “Sepertinya saya harus pergi sebelum sahabat kamu yang satu itu marah. Dia lagi jalan ke sini, tuh, Lebih aman saya kabur dulu.”

Ia melangkah pergi, meninggalkan sebungkus camilan di meja. Alina refleks menoleh, dan ternyata benar, Riani sedang berjalan ke arahnya dengan langkah cepat.

“Hai, Na. Tadi Raka, ya? Ngapain dia? Gangguin kamu?” tanya Riani tanpa jeda.

“Enggak, dia cuma ngasih camilan itu,” jawab Alina.

“Oke. Pokoknya kalau dia mulai macam-macam, bilang ke aku,” ujar Riani tegas.

“Iya, iya… bawel banget. Mending sekarang buka tugasmu. Besok dikumpulin, kan?” balas Alina, tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya