POV ALINA
Langkah Alina masih terasa berat saat ia keluar dari area parkir menuju gerbang sekolah, kakinya bergerak otomatis meski pikirannya masih terjebak di percakapan singkat namun mengerikan yang baru saja terjadi. Suara riuh perayaan di sekelilingnya terdengar seperti berasal dari dunia yang berbeda, tidak benar-benar menyentuhnya.
Ibunya sudah menunggu di dekat mobil, wajahnya masih basah oleh air mata haru, tangannya menggenggam buket bunga kecil yang dibelinya dari pedagang kaki lima di luar gerbang sekolah. Begitu melihat Alina berjalan mendekat, ia langsung merentangkan tangan.
"Selamat ya, Na. Ibu bangga banget," katanya, memeluk erat.
Alina membalas pelukan itu, mencoba menyerap kehangatannya, berharap kehangatan itu bisa mengusir rasa dingin yang masih menempel di kulitnya sejak beberapa menit lalu. Tapi rasa dingin itu tidak pergi. Ia hanya tersembunyi lebih dalam, menunggu waktu yang tepat untuk muncul lagi.
Mobil angkot yang mereka tumpangi berguncang pelan setiap kali melewati jalan berlubang, dan Alina duduk diam di dekat jendela, membiarkan angin sore menampar wajahnya. Di luar, toko-toko dan rumah-rumah yang biasa ia lewati setiap hari terlihat sama seperti biasa, tidak tahu apa-apa soal apa yang baru saja terjadi beberapa menit lalu di balik gedung sekolah.
Sepanjang perjalanan pulang, ibunya bercerita banyak hal, tentang rencana kecil-kecilan untuk merayakan malam ini, tentang tetangga yang menitip salam, tentang betapa cepatnya waktu berlalu sejak Alina masih memakai seragam putih merah. Alina menjawab seperlunya, mengangguk di titik-titik yang tepat, tertawa kecil saat ibunya melempar candaan. Semua responsnya keluar otomatis, seperti mesin yang sudah terlatih menjalankan rutinitas tanpa perlu berpikir.
Di dalam kepalanya, kalimat itu terus terulang.
Satu telepon dariku, dan semua itu... hilang.
Ibumu bisa saja mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan.
Jangan sampai Raka atau Riani tahu.
Ia menoleh ke arah ibunya yang masih tersenyum lebar, tidak menyadari apa pun. Dada Alina terasa sesak melihatnya seperti itu, begitu bahagia, begitu tidak curiga bahwa hari yang seharusnya jadi salah satu hari terbaik dalam hidup anaknya, baru saja dirusak oleh seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar mereka kenal.
Sesampainya di rumah, ibunya sibuk di dapur menyiapkan makan malam sederhana, ayam goreng dan sayur asem, menu favorit Alina sejak kecil. Alina duduk di meja makan, menonton ibunya bergerak lincah antara kompor dan wastafel, sesekali bersenandung pelan. Untuk sesaat, ia hampir membuka mulut, hampir membiarkan kalimat itu keluar begitu saja: Bu, ada yang mau aku ceritain. Tapi begitu ibunya menoleh dan tersenyum lebar ke arahnya, kata-kata itu kembali tertelan.
Bagaimana caranya bilang ke seseorang yang baru saja menangis bahagia di hari kelulusan anaknya, bahwa hari itu juga hampir hancur oleh ancaman seorang lelaki yang bahkan tidak pernah mereka temui sebelumnya?
Ia membantu ibunya menata meja makan, mengambil piring dari rak, menuangkan air ke gelas, gerakan-gerakan kecil yang sudah begitu terbiasa hingga bisa dilakukan tanpa perlu berpikir, memberinya sedikit ruang untuk menahan diri agar tidak runtuh di depan orang yang paling ia sayangi.
Malam itu, setelah makan malam yang dimasak khusus untuk merayakan kelulusannya, Alina menutup pintu kamarnya lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap dinding kosong di hadapannya, tidak benar-benar melihat apa pun.
Tubuhnya masih di sana, tapi sebagian dari dirinya terasa melayang entah ke mana, seperti terlempar keluar dari momen ini, mengamati dari kejauhan. Ia mendengar detak jam dinding, tapi suaranya terasa jauh, teredam, seolah datang dari balik kaca tebal. Ia mencoba menggerakkan jarinya, dan butuh beberapa detik sampai tubuhnya benar-benar merespons.