Kalau ada satu hal yang paling dibenci Darla dari pekerjaan HR...
Itu bukan lembur.
Bukan interview.
Bukan payroll.
Melainkan kalimat,
"Darla, sekalian ya."
Karena kata sekalian hampir selalu berarti...
"Tambahan kerjaan buat kamu."
⸻
"Darla."
"Iya, Pak?"
"Tolong urusin visa China saya."
Darla mengangguk sambil membuka kalender di laptopnya.
"Berangkat kapan, Pak?"
"Minggu depan."
Jarinya berhenti di atas keyboard.
"...Minggu depan?"
"Iya."
"Pak."
"Hm?"
"Visa China bukan Indomie."
Bosnya malah tertawa.
"Makanya saya minta tolong kamu."
"..."
Tentu saja.
⸻
Jadi, Selasa pagi itu...
Alih-alih duduk nyaman di kantor dengan segelas kopi...
Darla justru berada di China Visa Application Center.
Map dokumen bosnya dipeluk di dada.
Nomor antrean di tangan.
Dan ekspresi seseorang yang sudah pasrah dengan hidup.
Ruang tunggu hampir penuh.
Orang datang silih berganti.
Ada yang berbicara Mandarin.
Ada yang berbicara Inggris.
Beberapa keluarga tampak sibuk mengurus paspor anak-anak mereka.
Di salah satu sudut, seorang pria terus menelepon sambil sesekali melihat jam.
Darla menemukan satu kursi kosong.
Lumayan.
Ia duduk.
Membuka map.
Menghitung ulang dokumen.
Paspor.
Ada.
Foto.
Ada.
Surat sponsor.
Ada.
Jadwal perjalanan.
Ada.
Visa application form.
Ada.
Oke.
Harusnya aman.
Harusnya.
Nomor antrean di layar berganti.
A108.
Darla melihat nomor di tangannya.
B146.
"...Ya Allah."
Masih lama.
Ia menyandarkan kepala ke kursi.
Mengambil ponsel.
Membuka Homescapes.
Kalau memang harus menunggu tiga jam...
Setidaknya Austin masih bisa merenovasi rumahnya.
⸻
Sepuluh menit berlalu.