Jakub Zieliński tidak pernah menganggap dirinya orang yang pemalu.
Selama bertahun-tahun menjadi diplomat, ia terbiasa berbicara dengan orang yang baru dikenalnya.
Presentasi.
Negosiasi.
Pertemuan resmi.
Makan malam diplomatik.
Percakapan dengan pejabat yang usianya dua kali lipat darinya.
Tidak ada yang membuatnya gugup.
Jadi...
Secara logika...
Mengajak berkenalan seorang perempuan seharusnya bukan sesuatu yang sulit.
Secara logika.
⸻
Kenyataannya...
Jakub justru berdiri memandangi pintu keluar ruang tunggu.
Tanpa bergerak.
⸻
Urusan visanya selesai lebih cepat dari perkiraan.
Petugas mengembalikan paspor dan dokumennya.
"Everything is complete, Sir."
"Thank you."
Jakub memasukkan semuanya ke dalam map.
Selesai.
Tidak ada lagi yang perlu dilakukan.
Ia berjalan menuju pintu keluar.
Saat melewati ruang tunggu...
Matanya kembali menangkap sosok yang sama.
Perempuan itu masih duduk di kursi yang sama.
Kali ini bukan bermain game.
Ia sedang membalas email dari ponselnya.
Sesekali membuka map.
Sesekali melihat jam tangan.
Kelihatannya terburu-buru.
Jakub hanya melihat sekilas.
Lalu melanjutkan langkah.
⸻
Sampai di dekat pintu...
Ia berhenti.
"Saya bahkan belum mengucapkan terima kasih dengan benar."
Pikiran itu muncul begitu saja.
Ia menoleh ke belakang.
Perempuan itu masih sibuk.
"Saya hanya ingin berpamitan."
Masuk akal.
Sangat masuk akal.
⸻
Lalu muncul suara lain di kepalanya.
"Tidak."
"Kamu sudah mengucapkan terima kasih."
Jakub mengembuskan napas pelan.
Baik.
Kalau begitu...
Mungkin ia hanya ingin memperkenalkan diri lebih baik.
Tadi percakapannya terlalu singkat.
"Nama saya juga sudah saya sebut."
Benar juga.
Alasan berikutnya gugur.
⸻
Ia hampir tersenyum pada dirinya sendiri.
Luar biasa.
Seumur hidup bekerja menyusun argumentasi hukum...
Hari ini ia kalah berdebat dengan pikirannya sendiri.
Karena semua alasan yang ia buat...
Selalu berakhir pada satu kesimpulan yang sama.
Ia memang ingin mengenal perempuan itu.
Sesederhana itu.
Dan entah kenapa...