Jakarta.
Enam bulan setelah pertemuan singkat di China Visa Application Center.
⸻
Hidup berjalan seperti biasa.
Setidaknya begitulah yang terlihat.
Jakub tetap datang ke Kedutaan setiap pagi.
Rapat.
Meninjau dokumen.
Konferensi daring dengan Warsawa.
Makan siang bersama kolega.
Sesekali menghadiri acara diplomatik.
Dua kali seminggu mengikuti kelas Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia.
Rutinitas yang teratur.
Rutinitas yang ia sukai.
Namun, ada satu hal kecil yang sesekali menyelinap di sela-sela hari-harinya.
Bukan sesuatu yang mengganggu.
Lebih seperti... sebuah ingatan yang muncul tanpa diundang.
Kadang ketika melihat seseorang membawa map transparan.
Kadang saat melewati gedung China Visa Application Center.
Kadang ketika mendengar seseorang mengeluh soal birokrasi Indonesia sambil bercampur bahasa Inggris.
Ia teringat pada seorang perempuan.
Perempuan yang sedang bermain Homescapes sambil menggerutu soal antrean.
Perempuan yang membantunya memahami prosedur visa dengan sabar, padahal jelas bukan pekerja di sana.
Perempuan yang sempat tertawa kecil saat ia memilih kata dalam bahasa Indonesia dengan terlalu formal.
Jakub selalu tersenyum tipis setiap kali ingatan itu muncul.
Lalu kembali bekerja.
Sesederhana itu.
Yang bahkan masih ia ingat...
adalah namanya.
Darla.
Hanya itu.
Tidak ada nomor telepon.
Tidak ada nama belakang.
Tidak ada apa-apa lagi.
⸻
Di sisi lain Jakarta...
Darla juga sedang menjalani harinya.
Beberapa bulan telah berlalu sejak hubungannya dengan Adrian benar-benar berakhir.
Ia tidak lagi menangis.
Tidak lagi berharap.
Setidaknya...
begitu yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.
Sampai malam sebelumnya.
Sebuah unggahan sederhana muncul di Instagram.
Adrian.
Bersama perempuan lain.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada kalimat panjang.
Hanya sebuah foto.
Dan entah mengapa...
foto sederhana itu justru menjadi penutup yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Ia menatap layar beberapa detik.
Lalu menguncinya.
Membukanya lagi.
Kemudian tersenyum kecil kepada dirinya sendiri.
"Udah ya..."
bisiknya pelan.
"Udah selesai."
⸻
Keesokan paginya...
Alarm berbunyi lebih awal dari biasanya.
Hari itu sebenarnya ia sudah berencana menghadiri kajian di Blok M.
Sempat terlintas keinginan untuk membatalkannya.
Menyelimuti diri lagi.
Tidur.
Melupakan semuanya.
Namun akhirnya ia bangun juga.
Mandi.
Memakai gamis sederhana berwarna krem.
Merapikan hijab di depan cermin.
Lalu berangkat.
Mungkin...
yang ia butuhkan hari itu memang bukan tidur.
Melainkan menenangkan hati.
⸻
Beberapa jam kemudian...
Kajian selesai.
Jemaah mulai meninggalkan masjid sedikit demi sedikit.
Darla ikut berjalan bersama arus manusia.
Hatinya belum benar-benar ringan.
Namun setidaknya...