Monday
Alarm berbunyi pukul 05.30.
Jakub sudah terbangun beberapa menit sebelumnya.
Bertahun-tahun bekerja di dunia diplomasi membuat tubuhnya nyaris tidak lagi membutuhkan alarm.
Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa saat.
Apartemen dinasnya masih sunyi.
Jakarta bahkan belum benar-benar terjaga.
⸻
Banyak orang mengira keputusan besar lahir dari perasaan yang besar.
Jakub justru belajar kebalikannya.
Keputusan-keputusan paling penting dalam hidupnya hampir selalu lahir setelah emosinya selesai.
Ia pernah jatuh cinta.
Pernah menikah.
Pernah percaya bahwa rumah tangga dibangun oleh dua orang yang sama-sama ingin bertahan.
Lalu semuanya berakhir.
Ia pernah berdiri di titik ketika pulang ke rumah terasa lebih berat daripada tetap berada di kantor.
Pernah menjalani hari-hari yang hanya berputar antara pekerjaan, pengadilan, dan mengantar putrinya pulang.
Pernah merasa kehilangan hampir semua hal yang dulu ia sebut sebagai rumah.
Namun hidup tidak berhenti di sana.
Allah membawanya melewati jalan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Mengenal Islam.
Belajar sedikit demi sedikit.
Meninggalkan kebiasaan lama.
Membangun hidupnya lagi dari awal.
Sejak menjadi muslim...
cara Jakub memandang pernikahan ikut berubah.
Ia tidak lagi melihatnya sebagai tujuan setelah jatuh cinta.
Melainkan sebagai ibadah yang dimulai dengan niat yang benar.
Karena itu...
ia tidak pernah mencari seseorang untuk diajak menghabiskan malam dengan percakapan panjang.
Ia mencari seseorang...
yang suatu hari, jika Allah menghendaki, mungkin layak diajak membangun rumah.
Kalau ternyata tidak berjodoh...
maka cukup sampai di situ.
Tidak ada yang perlu dipaksakan.
⸻
Jakub membuka tirai.
Langit Jakarta masih berwarna abu kebiruan.
Di atas meja makan...
ponselnya menyala sesaat.
Tidak ada notifikasi.
Di dalam daftar kontaknya kini ada satu nama baru.
Darla.
Jarinya sempat menyentuh layar.
Lalu berhenti.
Ia bisa saja mengirim pesan pagi itu.
"Good morning."
Atau sekadar memperkenalkan diri lagi.
Tidak sulit.
Yang sulit...
adalah memastikan setiap langkah berikutnya memiliki tujuan yang benar.
Ia mengunci kembali layar ponselnya.
"No."
gumamnya pelan.
"Not yet."
⸻
Perjalanan menuju kantor berlangsung seperti biasa.
Kemacetan Jakarta.
Motor yang menyelip di antara mobil.
Radio yang menyala pelan.
Namun pikirannya beberapa kali kembali pada Sabtu sore.
Bukan pada nomor telepon itu.
Melainkan pada tawa kecil Darla.
Tulus.
Ringan.
Jakub tanpa sadar ikut tersenyum.
Lalu menggeleng pelan kepada dirinya sendiri.
"Focus."
⸻
Gedung Kedutaan Besar Polandia mulai ramai.
"Good morning, Mr. Zieliński."
"Morning."
Ia membalas sambil mengangguk sopan.
Beberapa staf menyapanya di koridor.
Agenda rapat sudah menunggu.
Dokumen legal yang harus ditinjau juga tidak sedikit.
Hari itu seharusnya sama seperti Senin-Senin sebelumnya.
⸻
"Morning, boss."
Suara Faris terdengar dari belakang.
Di tangannya ada dua gelas kopi.
Ia menyodorkan salah satunya.
"Black. No sugar."
Jakub menerimanya.
"Dzięki."
Faris langsung menyeringai.
"Polish?"
"My mood is exceptionally good today."
"Oh?"
"Interesting."
Mereka berjalan menuju pantry.
Membahas jadwal delegasi minggu depan.
Beberapa perubahan agenda.
Dan satu rapat yang kemungkinan molor.
Obrolan berlangsung santai.
Sampai Faris tiba-tiba berhenti.
Ia melirik Jakub dari samping.
"So..."
Jakub mengangkat alis.
"So?"
"The donut shop."
Jakub pura-pura berpikir.
"What about it?"
"The girl."
Beberapa detik Jakub tidak menjawab.
Sudut bibirnya hanya naik sedikit.
Sangat sedikit.
Namun cukup.
Faris langsung tertawa.
"There it is."
"What?"
"That smile."
"I smile."