Embassy of the Republic of Poland
Jakarta
Jakub baru saja menyelesaikan beberapa halaman revisi dokumen legal ketika terdengar ketukan pelan di pintunya.
“Come in.”
Pintu terbuka.
Faris masuk sambil membawa sebuah map tipis.
Namun bukannya langsung duduk, ia justru bersandar santai di sisi meja kerja.
Senyum kecil terlihat di wajahnya.
Jakub mengangkat pandangan.
“You found someone.”
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Faris terkekeh.
“I haven’t even said anything.”
“You didn’t have to.”
⸻
Jakub mempersilahkannya duduk.
“So?”
Faris menarik napas pelan.
“I talked to Hana last night.”
Jakub mengangguk.
“How did it go?”
“She didn’t say yes immediately.”
Ekspresi Jakub justru tampak lebih lega.
“Good.”
Faris mengangkat alis.
“Good?”
“I would’ve been concerned if she agreed without thinking.”
Beberapa detik Faris hanya menatapnya.
Lalu tersenyum kecil.
“I told her the same thing.”
Jakub hanya membalas dengan anggukan.
⸻
“She agreed.”
Faris melanjutkan.
“But under one condition.”
“I’m listening.”
“She’ll approach Darla herself.”
“No problem.”
“And…”
“If at any point Darla feels uncomfortable…”
“We stop.”
“If she isn’t interested…”
“We stop.”
“If she prefers not to respond…”
“We stop.”
Jawabannya selalu sama.
Tanpa ragu.
Tanpa negosiasi.
Faris mengangguk pelan.
“Exactly what Hana hoped you’d say.”
⸻
“There is one more thing.”
Jakub mendongak.
“Hana asked for some basic information about you.”
“My information?”
“Nothing complicated.”
“Education.”
“Work.”
“Family.”
“Anything that would help Darla understand who you are…”