Saturday Night
Jakarta.
Malam turun perlahan.
Hujan yang sejak sore turun akhirnya berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang masuk dari jendela kamar.
Di atas meja kerja…
sebuah map berwarna biru tua masih tergeletak rapi.
Darla belum membukanya.
Bukan karena ragu.
Melainkan karena ia merasa…
beberapa tulisan memang pantas dibaca ketika hati sedang tenang.
⸻
Setelah Isya.
Setelah membaca beberapa halaman Al-Qur’an.
Setelah duduk cukup lama tanpa melakukan apa pun.
Barulah ia menarik map itu mendekat.
Ia mengusap pelan sampul depannya.
Marriage Profile
Jakub Zieliński
Darla mengembuskan napas pelan.
“Bismillah…”
⸻
Ia mulai membaca.
Pelan.
Tidak terburu-buru.
Beberapa menit pertama…
ia bahkan lupa bahwa yang sedang dibacanya adalah sebuah marriage profile.
Rasanya lebih seperti membaca surat perkenalan.
Tidak terdengar berusaha mengesankan.
Tidak terdengar sedang menjual diri.
Dan yang paling mengejutkan…
tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mengejar jawaban.
Darla tersenyum kecil.
“Ini persis cara beliau ngomong…”
Pelan.
Terukur.
Seolah setiap kalimat sudah melewati proses proofreading di kepalanya sebelum akhirnya ditulis.
⸻
Ia membuka halaman berikutnya.
Tentang pekerjaannya.
Tentang hukum.
Tentang mengapa ia memilih menjadi diplomat.
Darla berhenti pada satu kalimat.
Every person deserves to be heard before being judged.
“Hm…”
gumamnya pelan.
“No wonder…”
Kalimat itu terdengar sangat sederhana.
Namun entah mengapa…
membuatnya lebih memahami laki-laki yang pernah duduk di sebelahnya enam bulan lalu.
⸻
Halaman berikutnya.
Tentang Islam.
Tidak panjang.
Tidak dipenuhi kutipan.
Hanya beberapa paragraf.
Islam didn’t erase who I was.
It taught me who I should become.
Darla membaca ulang kalimat itu.
Dua kali.
Lalu menutup mata sejenak.
“Beautiful…”
Bukan karena terdengar puitis.
Melainkan karena terasa jujur.
⸻
Halaman berikutnya.
Family
Untuk pertama kalinya…
nama Monika muncul.
Jakub menulisnya tanpa banyak penjelasan.
Tanpa cerita tentang kegagalan pernikahannya.
Tanpa menyalahkan siapa pun.
Tanpa mencari simpati.