Saturday Night
Jakarta hampir tertidur.
Hujan turun tipis sejak selepas Isya.
Di lantai tiga sebuah rumah kos di Jakarta Selatan, lampu kamar Darla masih menyala redup.
Laptopnya sudah tertutup.
Notebook kecilnya juga sudah ia simpan kembali ke dalam laci.
Di atas meja…
tinggal tersisa dua Marriage Profile.
Dan dua lembar jawaban terakhir.
Darla menatap semuanya beberapa saat.
Lalu mengembuskkan napas pelan.
“…Bismillah.”
Ia mengambil mukena yang tergantung di belakang pintu.
Malam itu…
ia tidak ingin membaca apa pun lagi.
Ia hanya ingin berbicara kepada Rabb-nya.
⸻
Di waktu yang hampir bersamaan…
di apartemen dinas Kedutaan Besar Polandia…
Jakub juga bangun lebih awal dari biasanya.
Apartemen itu sunyi.
Ia mengambil wudhu.
Lalu berdiri menghadap kiblat.
Tidak ada dokumen di meja.
Tidak ada laptop.
Tidak ada telepon.
Hanya dirinya…
dan Allah.
⸻
Malam itu…
tidak ada mimpi yang diminta.
Tidak ada tanda yang dimohonkan.
Mereka hanya memohon hal yang sama.
Dengan bahasa yang berbeda.
Namun makna yang serupa.
Bila ini baik…
mudahkan.
Bila tidak…
palingkan hati kami dengan cara yang paling baik.
⸻
Setelah salam…
Darla tetap duduk di atas sajadah.
Mukena putihnya masih menutupi bahu.
Ia menundukkan kepala.
Ternyata…
semua kalimat yang sejak beberapa hari ia susun di dalam kepalanya…
menghilang begitu saja.
Yang tersisa hanya doa-doa sederhana.
“Ya Allah…”
“Kalau memang dia baik untuk agamaku…”
“…mudahkan.”
“Kalau ternyata aku yang belum siap…”
“…tolong perbaiki aku.”
Ia tersenyum kecil.
“…Sesederhana itu ya.”
⸻
Di sisi lain kota…
Jakub juga belum beranjak.
Tangannya masih terbuka.
Doa istikharah selesai sejak beberapa menit yang lalu.
Namun ia tetap duduk.
Menikmati sunyi.
Menikmati tenang.
Hingga akhirnya ia berbisik pelan.
Dalam bahasa Polandia.
“Powierzam to Tobie.”
“I leave this in Your hands.”
Lalu ia bangkit.
Mematikan lampu ruang tamu.
Dan tidur.
⸻
Keesokan paginya…
tidak ada mimpi.