Friday Morning
Embassy of the Republic of Poland
Jakarta
Jakub baru saja menyelesaikan beberapa dokumen ketika terdengar ketukan pelan di pintu ruangannya.
“Come in.”
Faris masuk sambil membawa secangkir kopi.
“Busy?”
“A little.”
“I only need two minutes.”
Jakub menutup map di depannya.
“You have them.”
Faris menyandar santai di depan meja.
“So…”
“Tomorrow.”
Jakub mengangguk kecil.
“The ta’aruf.”
Hening.
Bukan karena terkejut.
Melainkan…
karena akhirnya hari itu benar-benar datang.
⸻
“Where?”
Faris menyebutkan alamat sebuah ruang konsultasi keluarga di Islamic Center.
Privat.
Tenang.
Sederhana.
Tidak terasa seperti acara resmi.
Jakub mengangguk.
“I like that.”
“I knew you would.”
Faris sudah hampir keluar ketika teringat sesuatu.
“Oh.”
“One more thing.”
Jakub mengangkat kepala.
“Hm?”
“What are you wearing tomorrow?”
“I haven’t decided yet.”
“No suit.”
“…”
“I wasn’t planning to.”
“Oh?”
“I was considering one.”
Faris langsung menggeleng.
“Mas.”
“You’ll look like you’re attending an embassy reception.”
Jakub berpikir.
“So…”
“What should I wear?”
“Just be yourself.”
“…”
“…which version of myself?”
Faris tertawa.
“The one that doesn’t look like a diplomat.”
Untuk pertama kalinya pagi itu…
Jakub ikut tersenyum kecil.
“Fair enough.”
⸻
Friday Evening
Apartemen dinas.
Lemari pakaian terbuka.
Jakub memperhatikan beberapa kemeja.
Putih.
Abu.
Biru muda.
Tangannya berhenti pada Oxford shirt biru muda.
Sederhana.
Rapih.
Tidak terlalu formal.
Ia mengambilnya.
Lalu memotretnya.
Jakub
How about this one?
Balasan Faris datang cepat.
Faris
Nah.
This is very you.
Jakub melihat foto itu sekali lagi.
“Good.”
Besok…
ia ingin datang sebagai Jakub.
Bukan sebagai Mr. Zieliński, Legal Affairs Diplomat.
⸻
Di sisi lain Jakarta…
Darla masih berdiri di depan lemari.
Maroon.
Hitam.
Navy.
Maroon lagi.
Ponselnya berbunyi.
Ibu Calling
“Assalamu’alaikum, Bu.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Gimana?”
“InsyaAllah besok.”
Ibu diam sebentar.
“Lagi bingung milih gamis?”
Darla tertawa.
“Ketahuan ya.”
“Nak.”
“Hm?”