Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #20

CHAPTER 19: The Conversation

Saturday


10.18 AM


Islamic Center, Jakarta


Teh hangat akhirnya tersaji di atas meja.


Tidak ada seorang pun yang langsung berbicara.


Bukan karena canggung.


Melainkan karena semuanya memahami satu hal.


Hari ini bukan tentang mencari jawaban secepat mungkin.


Melainkan melihat…


apakah percakapan mereka benar-benar bisa berjalan.


Faris mempersilakan semuanya mengambil cangkir masing-masing.


“Bismillah.”


Jakub mengangguk pelan.


“Bismillah.”


Darla ikut tersenyum sebelum meraih tehnya.


Suasana kembali hening beberapa detik.


Lalu Hana menggeleng kecil sambil tertawa.


“…Aku sama Mas Faris ternyata lebih deg-degan daripada kalian.”


Darla langsung tertawa.


“Kayaknya iya deh, Kak.”


Bahkan Jakub ikut tersenyum kecil.


Faris mengembuskan napas sambil menyandarkan tubuh ke kursi.


“Oke.”


“Hari ini nggak ada daftar pertanyaan.”


“Nggak ada moderator.”


“Nggak ada sesi interview.”


Ia menunjuk mereka bergantian.


“Just… have a conversation.”


Jeda sesaat.


“Like normal people.”


Darla spontan menahan tawa.


Jakub ikut mengangguk pelan.


“I’ll do my best.”


Nada bicaranya datar seperti biasa.


Justru itu yang membuat semuanya tertawa.



Beberapa detik berlalu.


Darla akhirnya memulai lebih dulu.


“So…”


“How’s your Indonesian?”


Jakub berpikir sebentar.


“It’s improving.”


Darla mengangkat sebelah alis.


“That’s a very diplomatic answer.”


Sudut bibir Jakub sedikit terangkat.


“…Would you like the honest one?”


“Always.”


Jakub mengembuskan napas pelan.


“It’s… humbling.”


Kini Darla yang tertawa.


“Humbling?”


“I understand most words.”


“…Just not when they’re all in the same sentence.”


Bahkan Faris ikut tertawa.


Jakub melanjutkan sambil sedikit mengangkat bahu.


“And the prefixes…”


“…I still don’t trust them.”


“Me-, ber-, memper-, per-…”


Ia menggeleng kecil.


“They’re plotting against me.”


Ruangan langsung dipenuhi tawa.


“Itu bahkan orang Indonesia juga sering bingung.”


Darla masih tertawa.


“So I’m not alone?”


“Definitely not.”


Jakub mengangguk pelan.


“That’s reassuring.”



Percakapan mulai mengalir.


Tanpa terasa.


Tanpa dipaksa.


Darla bercerita sedikit tentang Bogor.


Tentang hujan yang hampir selalu turun menjelang sore.


Tentang Ibu yang sekarang lebih sering berkebun.


Tentang Ayah yang mulai menikmati masa pensiun.


Tentang Aa Bilal yang tinggal di Australia sejak SMA dan hampir tidak pernah melewatkan telepon Minggu pagi untuk orang tuanya.


Jakub lebih banyak mendengarkan.


Namun kali ini…


ia tidak hanya diam.

Lihat selengkapnya