Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #21

CHAPTER 20: The Question That Was Never Asked

Saturday


11.28 AM


Sudah hampir dua jam sejak mereka duduk di ruangan itu.


Anehnya…


tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa waktu berlalu.


Percakapan terus bergerak.


Kadang perlahan.


Kadang diselingi tawa.


Kadang berhenti beberapa detik hanya untuk memberi ruang bagi orang lain menyelesaikan pikirannya.


Dan tanpa ada yang benar-benar menyadari…


mereka mulai saling menyela.


Bukan karena ingin menang sendiri.


Justru karena mulai terbiasa mengikuti ritme satu sama lain.



“…so when I first started working in HR—”


“Oh, sorry.”


Jakub langsung berhenti begitu sadar suaranya bertumpuk dengan suara Darla.


Darla menggeleng sambil tersenyum.


“No, you first.”


Jakub ikut menggeleng.


“You were already talking.”


“I honestly forgot.”


Jakub berkedip.


“You… forgot?”


“I did.”


Ia tertawa kecil sambil mengangkat bahu.


“You interrupted me too politely.”


Ruangan hening satu detik.


Lalu Jakub mengangguk pelan.


“…I’ll take that as a compliment.”


Darla langsung tertawa.


“So you do know how to accept compliments.”


“I’ve been practicing.”


Jawaban itu keluar begitu saja.


Bahkan Jakub sendiri tampak sedikit terkejut karena mengucapkannya.


Faris melirik Hana.


There he is.



Beberapa menit berikutnya percakapan kembali mengalir.


Tentang makanan.


Tentang Jakarta.


Tentang bagaimana Jakub masih belum mengerti mengapa setiap daerah di Indonesia seolah memiliki versi sotonya sendiri.


“I’ve counted…”


“…at least eight.”


Darla tertawa.


“Only eight?”


“Oh no…”


Jakub menghela napas pura-pura pasrah.


“There’s more?”


“A lot more.”


“I should’ve known.”


Faris langsung menyahut,


“Belum rendang.”


“Belum nasi goreng.”


“Belum sambal.”


Jakub menoleh pelan.


“I’m still recovering from sambal.”


“Kamu makan sambal apa?”


“I don’t know.”


“But…”


Ia menunjuk telinganya.


“…I could hear colours.”


Seluruh ruangan langsung pecah oleh tawa.


Bahkan Hana sampai menutup mulutnya.


“MasyaAllah…”


“It wasn’t food.”


“It was a survival test.”


Jakub ikut tertawa pelan.


“I survived.”


“Barely.”


Lihat selengkapnya