Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #22

CHAPTER 21: Home Knows First

Saturday


03.17 PM


Mobil Faris perlahan meninggalkan halaman Islamic Center.


Jakub duduk di kursi penumpang.


Oxford shirt biru mudanya masih rapi.


Lengan baju belum tergulung.


Sabuk pengaman masih terpasang seperti tadi.


Hanya satu hal yang berubah.


Wajahnya terlihat jauh lebih rileks dibanding dua jam sebelumnya.


Di luar jendela…


Jakarta tetap sibuk.


Motor berseliweran.


Pedagang kaki lima mulai membuka lapak.


Orang-orang menjalani akhir pekan mereka seperti biasa.


Di dalam mobil…


hanya ada suara pendingin udara.


Tidak ada yang merasa perlu buru-buru berbicara.



Beberapa menit kemudian…


Faris melirik sekilas.


“So?”


Jakub masih memandang jalan.


Lalu menjawab pelan,


“I’d like to continue.”


Jawabannya sederhana.


Seolah ia sudah memikirkannya jauh sebelum Faris bertanya.


Faris mengangguk.


“I figured.”


Jakub menoleh.


“You did?”


“I’ve known you long enough.”


Jeda sebentar.


“You looked…”


Faris tersenyum kecil.


“…comfortable.”


Jakub menghela napas pendek.


“I was.”


Kalimat itu keluar begitu saja.


Tanpa dibuat-buat.



Beberapa saat kemudian ia kembali berkata,


“What surprised me…”


“…wasn’t that she was kind.”


Faris mendengarkan.


“It was…”


“…how consistent she was.”


Ia tersenyum tipis.


“The woman I met today…”


“…was the same person who wrote those pages.”


Jeda.


“I didn’t feel…”


“…like I was meeting someone different.”


Faris mengangguk pelan.


“That’s a rare compliment coming from you.”


Jakub tersenyum kecil.


“I know.”


Lalu kembali melihat jalan di depan.


Percakapan selesai begitu saja.


Namun Faris tahu…


keputusan temannya sudah bulat.



Di sisi lain…


Mobil Hana melaju menuju Bogor.


Darla duduk di sampingnya.


Tas kecil masih dipangku.


Sesekali ia melihat keluar jendela.


Namun pikirannya jelas masih tertinggal di Islamic Center.


Hana membiarkan keheningan itu beberapa menit.


Baru kemudian bertanya pelan.


“Gimana?”


Darla tersenyum kecil.


“He listens.”


Hana menoleh.


“He really listens.”

Lihat selengkapnya