Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #23

CHAPTER 22: Bilal

Sunday


08.15 AM


Bogor.


Udara pagi masih sejuk.


Embun belum sepenuhnya hilang dari daun-daun di halaman.


Ibu sedang menyiram tanaman.


Ayah duduk di teras membaca koran sambil menyeruput teh hangat.


Darla baru saja membantu menyiapkan sarapan ketika ponselnya bergetar.


Video Call


Aa Bilal


Senyumnya langsung muncul.


“Assalamu’alaikum, Aa.”


“Wa’alaikumussalam.”


Layar menampilkan wajah Bilal dari apartemennya di Sydney.


Rambutnya sedikit lebih panjang dibanding terakhir mereka bertemu.


Janggut tipis memenuhi rahangnya.


Kaos abu-abu polos.


Masih sama seperti biasanya.


Sederhana.


“Gimana?”


“Baik.”


“Ibu sama Ayah?”


“Lagi di rumah.”


Bilal mengangguk.


Lalu langsung menyandarkan punggungnya ke kursi.


“So…”


“Udah ketemu?”


Darla langsung tertawa.


“Baru juga halo.”


“Jawab.”


“Iya.”


“Gimana orangnya?”


Darla berpikir cukup lama.


“…Baik.”


Bilal langsung mengembuskan napas.


“There.”


“Hm?”


“That’s your HR answer.”


Darla langsung tertawa.


“Maksudnya?”


“‘Baik.’”


“‘Professional.’”


“‘Communicative.’”


“‘Works well under pressure.’”


“Itu performance review.”


“I asked about a person.”


Darla ngakak.


“Ya Allah…”


“Oke, oke.”


“I’ll tell you.”



Dan akhirnya…


cerita itu mulai mengalir.


Tentang ruang ta’aruf yang sederhana.


Tentang Oxford shirt biru muda yang ternyata jauh lebih cocok daripada jas yang ia bayangkan.


Tentang teh hangat.


Tentang sambal yang menurut Jakub terdengar seperti “a dangerous cultural experience.”


Tentang bagaimana laki-laki itu benar-benar mengira Darla membuka jasa mengajar Bahasa Indonesia.


“‘You don’t charge?’”


Bilal tertawa.


“He actually asked that?”


“Iya.”


“He looked genuinely confused.”


“Aku sampai nggak tega.”


Bilal menggeleng sambil tertawa.


“Poor guy.”



Lalu cerita bergeser.


Tentang percakapan mereka.


Tentang keheningan.


Tentang bagaimana dua jam terasa jauh lebih singkat dari yang mereka kira.


Bilal hampir tidak pernah memotong.


Ia hanya sesekali bertanya,


“And then?”


“Habis itu?”


“What did he say?”


Sampai akhirnya…


Darla selesai bercerita.


Ruangan di kedua sisi sama-sama sunyi.


Bilal memperhatikan wajah adiknya beberapa detik.


Lalu tersenyum kecil.


“Kamu ketawa.”


“Hm?”


“Sepanjang cerita.”


Darla baru sadar.


“Iya ya…”


“It means…”


“…you were comfortable.”


Darla tidak membantah.


Karena…


Aa-nya memang selalu seperti itu.


Jarang banyak bicara.


Tapi hampir selalu membaca dirinya dengan tepat.



“Takut?”


“…Masih.”


Bilal mengangguk.


“Good.”


Darla mengernyit.


“Hah?”


“Kalau kamu nggak takut…”


“…berarti kamu belum sadar…”


“…kalau ini keputusan besar.”


Ia berhenti sebentar.


“Tapi…”


“…jangan sampai rasa takutmu…”


“…lebih besar daripada rasa tenangmu.”


Kalimat itu membuat Darla terdiam.


Entah kenapa…


ia langsung teringat ucapan Ayah semalam.


“Kalau seorang perempuan berkata, ‘Aku merasa aman’… itu pondasi rumah.”

Lihat selengkapnya