Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #24

CHAPTER 23: Two Families

Wednesday


07.25 PM


Bogor.


Ruang makan rumah Suradinata malam itu terasa sedikit lebih ramai dari biasanya.


Bukan karena ada tamu.


Melainkan karena sebuah tablet berdiri di tengah meja makan.


Di layarnya…


Bilal sedang makan malam dari apartemennya di Sydney.


Meski dipisahkan ribuan kilometer…


rasanya hampir seperti ia sedang duduk bersama mereka.


Suara sendok beradu dengan piring.


Sesekali diselingi obrolan ringan.


Baru setelah makan hampir selesai…


Ayah meletakkan gelas tehnya.


Lalu menatap layar.


“Gimana?”


Bilal tahu persis pertanyaan itu.


Bukan tentang pekerjaannya.


Bukan tentang cuaca Jakarta.


Melainkan tentang Jakub.


Bilal berpikir beberapa detik.


“He’s…”


“…calm.”


Ayah mengangguk pelan.


“Habis itu?”


“He listens.”


Ibu tersenyum.


“Itu dari kemarin juga.”


Bilal ikut tersenyum.


“I know.”


“Tapi…”


“…dia bukan tipe orang yang ngomong supaya terdengar pintar.”


“Kalau dia nggak tahu…”


“…dia bilang dia nggak tahu.”


“Kalau dia butuh waktu mikir…”


“…dia benar-benar mikir.”


Ayah mengangguk lagi.


“Bagus.”


Bilal terdiam.


Lalu menyandarkan punggungnya.


“Tapi…”


“Aku masih kepikiran satu hal.”


Ruangan langsung sedikit lebih tenang.


Ibu memandang putranya.


“Apa?”


Bilal menarik napas pelan.


“Dia orang baik.”


“Aku nggak meragukan itu.”


“Tapi…”


“…dia tetap orang asing.”


“Negara berbeda.”


“Budaya berbeda.”


“Bahasa berbeda.”


Ia berhenti sejenak.


“Darla itu belum pernah hidup jauh dari rumah.”


“Kalau nanti…”


“…dia ikut tinggal di luar negeri…”


“…aku cuma takut.”


Sunyi.


Bukan karena ada yang tidak setuju.


Melainkan…


karena semua orang memahami ketakutan itu.


Bilal sudah merasakan sendiri bagaimana rasanya hidup sendirian di negeri orang.


Ia tidak ingin adiknya mengalami kesepian yang sama.


Ayah menatap putra sulungnya cukup lama.


Lalu tersenyum kecil.


“Bilal.”


“Iya, Yah.”


“Kamu ingat…”


“…waktu pertama kali berangkat ke Australia?”


Bilal mengangguk.


“Ingat.”


“Kamu juga takut.”


“Iya.”


“Tapi tetap berangkat.”


Bilal tersenyum kecil.


“Iya.”


Lihat selengkapnya