Friday
04.12 PM
Kedutaan Besar Republik Polandia.
Jakarta.
Langit mulai berubah warna.
Sisa cahaya sore jatuh menembus jendela besar ruang kerja Jakub.
Di atas mejanya…
tergeletak sebuah draft.
Belum bertanda tangan.
Belum dikirim.
Beberapa kali sudah ia baca.
Beberapa kali pula kembali ia simpan.
Bukan surat pengunduran diri.
Belum.
Lebih tepatnya…
permintaan untuk mendiskusikan masa depan penempatannya setelah masa tugas di Indonesia berakhir.
Ketukan pelan terdengar.
“Come in.”
Faris masuk sambil membawa dua gelas kopi.
Satu diletakkan di meja Jakub.
“Mas.”
Jakub mengangguk.
“Thank you.”
Faris melirik draft yang masih terbuka.
“Masih di situ?”
Jakub tersenyum kecil.
“I keep rewriting it.”
“Letter-nya?”
“No.”
“My reasons.”
Faris terkekeh pelan.
“That sounds more like you.”
Jakub ikut tersenyum.
⸻
Faris mengambil draft itu.
Membacanya perlahan.
Lalu mengembalikannya.
“You’ve already decided.”
Jakub mengangkat sebelah alis.
“Have I?”
“I think you’re only waiting…”
“…until your mind catches up with your heart.”
Jakub tidak langsung menjawab.
Ia berjalan ke dekat jendela.
Jakarta di bawah sana masih sama.
Motor.
Busway.
Langit mendung.
Suara azan Ashar yang mulai terdengar samar dari kejauhan.
Faris akhirnya bertanya,
“Can I ask you something?”
“Always.”
“Forget Darla for a moment.”
Jakub menoleh.
“If you’d never met her…”
“…would you still be thinking about staying?”
Ruangan kembali sunyi.
Jakub tidak buru-buru menjawab.
Beberapa detik berlalu.