Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #29

CHAPTER 28: The Visit

Saturday


09.56 AM


Bogor.


Rumah keluarga Suradinata.


Langit masih cerah setelah hujan semalam. Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dari halaman depan.


Di dalam rumah, Darla baru saja memindahkan vas bunga dari meja ruang tamu ke meja makan.


Lima menit kemudian…


vas itu kembali ke ruang tamu.


Ibu memperhatikan dari dapur.


“Darla.”


“Hm?”


“Itu bunga mau dipindah sampai layu?”


Darla menoleh, lalu baru sadar apa yang sedang ia lakukan.


“…Aku gugup.”


Ibu terkekeh pelan.


“Ibu juga tahu.”


“Tapi bunganya nggak salah apa-apa.”


Darla menutup wajahnya sebentar sambil tertawa.


“Ya Allah…”


Belum sempat ia menjawab lagi…


bel rumah berbunyi.


Semua langsung saling berpandangan.


Ayah bangkit lebih dulu.


“Biarkan Ayah.”



Di depan pintu…


Jakub berdiri bersama Faris dan Hana.


Hari itu ia mengenakan kemeja linen putih gading. Terasa hangat, approachable, dan elegan.


Tidak membawa buket bunga.


Tidak membawa hadiah yang berlebihan.


Hanya sebuah paper bag berisi buah tangan sederhana.


Begitu pintu terbuka…


ia sedikit menundukkan kepala.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


“Saya Jakub Zieliński.”


“Terima kasih sudah menerima kami.”


Ayah tersenyum hangat.


“Silakan masuk.”



Suasana ruang tamu jauh lebih santai daripada yang dibayangkan Darla.


Obrolan pertama justru tentang perjalanan.


Tentang jalan tol yang mulai ramai.


Tentang hujan Bogor.


Tentang bagaimana Jakarta selalu berhasil membuat orang terlambat.


“Untung hari ini nggak terlalu macet.”


kata Faris.


Ayah langsung tertawa.


“Itu berarti memang rezekinya.”


Jakub ikut tersenyum.


“I think Jakarta is trying to be kind today.”


“It doesn’t happen often.”


sahut Faris.


Semua ikut tertawa.


Ketegangan perlahan menghilang.



Baru beberapa menit kemudian…


Ayah menoleh kepada Jakub.


“Jakub.”


“Iya, Ayah.”


“Boleh temani Ayah sebentar?”


“Tentu.”


Faris refleks ikut berdiri.


Ayah langsung menunjuk kursinya.


“Kamu nggak usah.”


Faris langsung duduk lagi.


“Iya, Ayah.”


Hana langsung menunduk sambil menahan senyum.


Darla melirik mereka berdua.


“…Kasihan.”


bisiknya pelan.



Teras belakang terasa jauh lebih tenang.


Hanya suara burung dan angin yang sesekali menggoyangkan daun mangga.


Ayah tidak langsung berbicara.


Beliau justru menyiram dua pot tanaman terlebih dahulu.


Baru setelah itu berkata,


“Betah di Indonesia?”


Jakub mengangguk kecil.


“Very much.”


“Sampai mau tinggal di sini?”


“Iya.”


“Kenapa?”


Jakub tersenyum tipis.


“It started as an assignment.”


“…then it slowly became home.”


Ayah mengangguk pelan.


Kalimat itu terdengar sederhana.


Namun jujur.


Beliau menyukainya.



Beberapa detik berlalu.


Barulah Ayah bertanya,


“Sekarang pertanyaan yang sebenarnya.”


Jakub ikut tersenyum.


“I’ve been expecting that.”


Ayah ikut terkekeh kecil.


“Kenapa Darla?”


Sunyi.


Jakub menatap halaman beberapa saat.


Lalu tertawa kecil sendiri.


“I’ve actually…”


“…been trying to find a short answer.”


Ayah mengangkat alis.


“Belum ketemu?”


Jakub menggeleng sambil tersenyum.


“No.”


Mereka sama-sama tertawa pelan.


Keheningan yang tadi terasa tegang…


kini berubah menjadi jauh lebih ringan.


Jakub akhirnya berkata,


“People usually show their best side…”


“…when they’re introducing themselves.”


Ayah mengangguk.


“I know.”


“But with Darla…”


“…I experienced the opposite.”


Ayah memperhatikan.


“The longer we talked…”


“…the more everything she wrote…”


“…made sense.”


Ia berhenti sejenak.


“I never felt…”


“…that I had to guess…”


“…who she really was.”


“It was…”


“…surprisingly peaceful.”


Ayah tersenyum kecil.


Jawaban itu…


lebih membumi daripada yang beliau bayangkan.



Beliau kembali bertanya.


“Kalau nanti dia berubah?”


Jakub kali ini tidak langsung menjawab.


Ia benar-benar berpikir.


“I hope she does.”


Ayah sedikit mengangkat alis.


“Kalau dua puluh tahun lagi…”


“…dia masih sama persis seperti hari ini…”


“…mungkin berarti hidup berhenti mengajarinya.”


Sunyi.


“I hope…”


“…we both become better people.”


“And if one of us changes faster…”


“…I hope the other has enough patience…”


“…to catch up.”


Ayah memandang laki-laki itu cukup lama.


Lalu tersenyum.


“Itu jawaban yang bagus.”


Jakub ikut tersenyum.


“I’ve learned…”


“…good answers usually take time.”


Ayah tertawa kecil.


“Nah.”


“Itu baru Jakub yang saya kenal.”



Mereka kembali ke ruang tamu.


Faris langsung melihat wajah keduanya bergantian.


“Gimana?”


“Masih aman?”


Ayah langsung menjawab santai.


“Masih.”


Semua tertawa.



Setelah semua kembali duduk…


Ayah menatap Jakub.


“Silakan.”


Jakub mengangguk.


Ia merapikan posisi duduknya.


Lalu menatap Ayah dan Ibu bergantian.


“Saya datang hari ini…”


“…karena saya ingin menyampaikan niat saya secara langsung.”


“Saya ingin meminta izin…”


“…untuk melamar putri Ayah dan Ibu.”


Ruangan mendadak sunyi.


“Saya tidak bisa menjanjikan hidup yang mudah.”


“Tapi saya bisa berjanji…”


“…bahwa saya akan menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh.”


“Saya akan terus belajar.”


“Sebagai suami.”


“Sebagai bagian dari keluarga ini.”


Dan…


“Sebagai orang yang dipercaya menjaga Darla.”


Tidak ada pidato panjang.


Justru karena sederhana…


setiap kalimat terasa lebih tulus.



Ayah menoleh kepada Ibu.


Ibu mengangguk pelan.


Beliau kemudian melihat layar tablet.


“Bilal.”


Bilal langsung tersenyum.


“Pak.”


“Pendapatmu?”


Bilal mengembuskan napas pelan.


“Kalau sebagai kakak…”


“…jujur.”


“…masih berat.”


Darla langsung menoleh.


Bilal tersenyum kecil.


“Bukan karena Jakub.”


“Tapi karena…”


“…nggak ada kakak yang benar-benar siap melepas adiknya.”


Ruangan menjadi sunyi.


Ayah tidak memotong.


Bilal melanjutkan,


“Tapi…”


“…aku juga belajar sesuatu minggu ini.”


Ia menatap Jakub melalui layar.


“Niat baik…”


“…harus dibalas dengan prasangka baik.”


Ayah tersenyum.


“Itu juga yang Ayah pikir.”


Bilal mengangguk.


“Kalau begitu…”


“…aku ridha.”



Ayah kembali memandang Jakub.


“Kalau begitu…”


“Ayah juga.”


Jakub terdiam.


Benar-benar terdiam.


Ia hanya mengangguk pelan.


“…Thank you.”



Ayah mengangkat satu jari.


“Tapi…”


Faris langsung berbisik,


“Nah.”


“Ini dia.”


Hana menyenggol lengannya pelan.


“Diam.”


Ayah tersenyum.


“Ada satu titipan.”


Jakub langsung duduk sedikit lebih tegak.


“Kalau nanti…”


“…Darla lagi keras kepala.”


“Jangan langsung dilawan.”


Dua detik.


Ruangan hening.


Lalu…


Darla langsung protes.


“Ayah!”


Bilal dari layar langsung menyahut,


“Itu mah fakta.”


“Aa!”


Semua langsung tertawa.


Bahkan Ibu sampai menutup mulutnya sambil tersenyum.


Di tengah tawa itu…


Jakub menoleh kepada Darla.


Senyumnya kali ini sedikit lebih jelas.


“I noticed.”


Darla menatapnya.


“Already?”


Jakub mengangguk kecil.


“But…”


“I’ve also noticed…”


“…you always come back…”


“…after you’ve had time to think.”


Sunyi.


Darla benar-benar tidak menyangka ia diperhatikan sedetail itu.


Jakub lalu menambahkan pelan,


“So…”


“…I’ll wait.”


Hanya tiga kata.


Namun bagi Darla…


entah kenapa…


itulah kalimat yang paling membuatnya tenang.


Di sudut ruang tamu…


Ayah dan Ibu saling berpandangan.


Tanpa perlu mengatakan apa-apa.


Mereka sama-sama tahu…


laki-laki ini mungkin belum mengenal putri mereka sepenuhnya.


Tetapi ia sudah memahami sesuatu yang jauh lebih penting.


Bahwa tidak setiap perbedaan harus dimenangkan.


Kadang…


cukup ditemani.


Sampai hati kembali tenang.

——————-


Tawa di ruang tamu perlahan mereda.


Namun suasananya tidak pernah kembali seperti sebelum Ayah memberikan izin.


Ada sesuatu yang sudah bergeser.


Tidak dramatis.


Tidak juga membuat semua orang tiba-tiba bersikap sentimental.


Hanya terasa lebih ringan.


Seolah sejak tadi seluruh ruangan menahan napas, dan akhirnya boleh mengembuskannya bersama-sama.


Jakub masih duduk tegak di tempatnya.


Kemeja linen putih gading yang dikenakannya tetap rapi. Kedua tangannya bertumpu tenang di atas lutut.


Dari luar, tidak banyak yang berubah.


Namun Faris yang duduk tidak jauh darinya tahu persis.


Rahang Jakub tidak lagi setegang ketika baru datang.


Senyum kecilnya juga belum sepenuhnya hilang.


Ibu memandang semua orang bergantian.


Lalu menepukkan kedua tangannya sekali.


“Nah.”


Semua menoleh.


“Udah selesai belum serius-seriusnya?”


Ayah menahan senyum.


“Sudah, sepertinya.”


“Good.”


Ibu langsung berdiri.


“Sekarang makan.”


Faris spontan mengangguk.


“Nah, ini bagian yang dari tadi saya tunggu, Bu.”


Hana menoleh kepadanya.


“Mas.”


“Apa?”


“Kita datang buat nemenin Mas Jakub.”


“Iya.”


“Bukan cari makan.”


Faris mengangkat bahu.


“Bisa dua-duanya.”


Ruang tamu kembali dipenuhi tawa.


Jakub menoleh kepada Faris.


“You said we had breakfast before leaving.”


“We did.”


“And now you’re hungry again?”


Faris menjawab tanpa rasa bersalah.


“Bogor air.”


Jakub mengernyit.


“Bogor air makes you hungry?”

Lihat selengkapnya