One Week Later
Jakarta.
07.45 PM.
Apartemen Faris dan Hana.
⸻
“Aku nggak ngerti.”
gumam Faris sambil menatap secangkir kopi.
Hana yang sedang memotong buah langsung mendongak.
“Apanya?”
“Kenapa…”
“…setiap orang mau nikah…”
“…yang paling stres malah temannya.”
Hana tertawa.
“Karena kamu kebagian jadi project manager.”
“Aku nggak daftar.”
“Mas Jakub tadi pagi nanya.”
“Hm?”
“‘Is there a specific tradition regarding rings?’”
Hana sudah mulai menahan senyum.
“Terus?”
“Aku jawab ada.”
“Terus dia buka Notes.”
“Notes?”
“Iya.”
Faris mengeluarkan ponselnya.
Masih ada foto yang diam-diam ia ambil.
⸻
Ring
Family discussion
Budget
Custom
Presentation timing
⸻
Hana langsung menutup wajah.
“Ya Allah…”
“Mas Jakub…”
“Itu orang mau lamaran apa mau audit.”
⸻
Di apartemen dinas.
Jakub benar-benar sedang membaca berbagai artikel.
Bukan tentang model cincin.
Melainkan…
tentang adat lamaran Indonesia.
“Apakah cincin dipasang saat lamaran?”
“Perbedaan khitbah dan pertunangan.”
“Tradisi keluarga Sunda.”
Sesekali ia berhenti.
Menghapus satu catatan.
Lalu menulis lagi.
Baginya…
lebih baik bertanya sepuluh kali…
daripada salah sekali.
Ponselnya berbunyi.
Faris.
“Mas.”
“Hm?”
“Besok kita cari cincin.”
Jakub mengangguk.
“I’ll trust your recommendation.”
“Nggak.”
“Hm?”
“Kita cari…”
“…yang Darla bakal pakai setiap hari.”
Jakub terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
“You’re right.”
⸻
Sementara itu…
Jakarta Selatan.
Hana sedang duduk di kos Darla.
Pinterest terbuka di layar iPad.
“Darla.”
“Hm?”
“Misalnya ya…”
“…MISAL.”
“Kamu dikasih cincin.”
Darla langsung menyipitkan mata.
“Kak…”
“Itu jebakan.”
“Bukan.”
“Jebakan.”
“Bukan.”
Hana sudah mulai tertawa.
“Jawab aja.”
Darla akhirnya menyerah.
“Aku nggak suka yang rame.”
“Simple.”
“Band-nya tipis.”
“Nggak terlalu tinggi.”
“Supaya nggak nyangkut pas pakai hijab.”
Hana berhenti mengetik.
“Ya ampun.”
“Kamu mikirin itu?”
“Iya lah.”
“Nanti kainnya ketarik.”
“White gold?”
“Kalau bisa.”
“Kalau enggak juga nggak apa-apa.”