Two Weeks Before the Akad
Bogor
09.15 AM
Ruang tamu rumah keluarga Suradinata sudah tidak lagi terlihat seperti ruang tamu.
Lebih menyerupai pusat komando.
Di atas meja terdapat dua map dokumen pernikahan, sampel kain, denah sederhana halaman belakang, katalog bunga, daftar tamu, kartu nama vendor, dan laptop Darla yang menampilkan spreadsheet dengan terlalu banyak tab.
Di layar ponselnya, grup WhatsApp baru terus berbunyi.
Garden Akad — Jakub & Darla
Anggotanya hanya keluarga inti, Faris, Hana, dan wedding organizer.
Namun jumlah pesannya sudah menyerupai grup kantor menjelang audit.
Darla duduk bersila di karpet.
Rambutnya tertutup hijab instan.
Satu tangan memegang ponsel.
Satu tangan lagi mengetik di laptop.
“Aku merasa ada yang belum.”
Hana yang duduk di sofa menatapnya.
“Apa?”
“Nggak tahu.”
“Kalau nggak tahu, berarti belum tentu ada.”
“Tapi rasanya ada.”
Hana mengembuskan napas kecil.
“Darla.”
“Hm?”
“Kamu udah buka rundown berapa kali pagi ini?”
Darla melihat jam.
Baru pukul sembilan lewat lima belas.
“…Tiga.”
Hana hanya menatap.
“Empat.”
“Laptopnya tutup.”
“Kak—”
“Tutup.”
Darla menurut dengan enggan.
Hana lalu menunjuknya.
“Tarik napas.”
Darla menarik napas.
“Pelan.”
Ia mengembuskannya.
“Sekali lagi.”
“Kak, aku nggak lagi kontraksi.”
“Belum.”
Darla langsung tertawa.
Ketegangan di bahunya sedikit turun.
⸻
Dari ruang makan terdengar suara Ibu.
“Darlaaa!”
“Iya, Bu?”
“Florist!”
Darla langsung menegakkan tubuh lagi.
“Kenapa florist?”
Ibu muncul dengan ponsel di tangan dan kacamata bertengger rendah di hidung.
“Katanya bunga putih yang itu…”
Beliau melihat layar.
“…euca—euca—”
“Eucalyptus?”
“Yes.”
Ibu mengangkat ponselnya seperti baru memenangkan sesuatu.
“Eucalyptus.”
“Katanya stoknya maybe not enough.”
Darla mengulurkan tangan.
“Coba aku lihat.”
Belum sempat ponsel berpindah tangan, Hana sudah menyela.
“WO sudah tahu, Bu. Tadi malam mereka bilang akan dicampur dengan ruscus.”
Ibu menatapnya.
“Ruskus?”
“Ruscus.”
“Oh.”
Beliau mengangguk seolah mengerti.
“Bagus.”
Lalu, dua detik kemudian,
“Itu yang mana?”
Darla menahan tawa.
“Daun hijau juga, Bu.”
“Ya terus kenapa namanya beda-beda?”
Ayah yang sejak tadi memeriksa dokumen dari meja makan menjawab tanpa mengangkat kepala.
“Karena bukan daun yang sama, Bu.”
Ibu menoleh.
“Ayah jangan mulai botanical lecture.”
“Ayah belum mulai.”
“Good.”
Beliau kembali melihat ponselnya.
“Yang penting nanti tamannya mooi.”
Darla mengangkat alis.
“Bu…”
“Apa?”
“Kenapa ada Dutch?”
“Biar global.”
Hana langsung membuang muka agar tidak tertawa terlalu keras.
⸻
Konsep akad itu sebenarnya sederhana.
Akad dan resepsi dilaksanakan di halaman belakang rumah.
Tamu tidak lebih dari keluarga dan teman-teman terdekat.
Kursi kayu berwarna natural.
Bunga putih dan dedaunan hijau.
Kain krem yang ringan.
Fairy lights untuk sore hari.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada pelaminan megah.
Tidak ada ballroom.
Namun sederhana bagi Darla bukan berarti asal-asalan.
Ia ingin halaman rumah tempat ia tumbuh tetap terlihat seperti rumah.
Hanya sedikit lebih cantik.
Sedikit lebih hangat.
Dan cukup indah untuk dikenang.
“Backdrop-nya jangan terlalu penuh,” katanya kepada Hana sambil kembali membuka laptop.
“Aku nggak mau rumahnya hilang di balik dekorasi.”
Hana mengangguk.
“Sudah ditulis.”
“Terus kursi untuk teman Ayah yang sudah sepuh harus di bagian teduh.”
“Sudah.”
“Kalau hujan?”
“Tenda transparan sudah di-booking.”
“Kalau angin?”
“Dekorasi akan dikunci.”
“Kalau listrik mati?”
“Genset.”
“Kalau—”
Hana menutup layar laptopnya lagi.
“Darla.”
Darla diam.
“Semuanya sudah diatur.”
“I know.”
“Kamu punya WO.”
“I know.”
“Punya keluarga.”
“I know.”
“Punya aku.”
Darla memandangnya.
Hana tersenyum.
“Dan kamu nggak harus mengurus semuanya sendirian.”
Bahu Darla akhirnya benar-benar turun.
“Aku cuma nggak mau acaranya terasa asal.”
“Nggak akan.”
“Aku juga nggak mau terlalu besar.”
“Nggak akan.”
“Aku pengin cantik, tapi tetap…”
“Low-key?”
“Iya.”
“Pinterest-ready, tapi nggak kelihatan seperti kamu menjual ginjal untuk dekorasi?”
Darla langsung tertawa.
“Exactly.”
⸻
Ibu kembali muncul.
Kali ini membawa dua gulung pita.
“Yang mana?”
Beliau mengangkat pita sage dan ivory.
Darla menunjuk ivory.
“Yang itu.”
Ibu memicingkan mata.
“Yang ini?”
“Itu sage.”
“Yang ini?”
“Ivory.”
“Mirip.”
“Nggak mirip, Bu.”
“Kalau lampunya redup, sama.”
Ayah akhirnya melepas kacamatanya.
“Bu.”
“Hm?”
“Kalau salah pita, akadnya tetap sah.”
Ibu langsung menoleh tajam.
“Ya bukan begitu, Ayah.”
“Ayah cuma mengingatkan prioritas.”
“Prioritas juga harus aesthetic.”
Ayah tersenyum kecil.
“Baik.”
Ibu mengangkat pita ivory.
“Berarti yang ini.”
“Iya, Bu.”
Beliau berjalan menuju ruang makan.
Baru tiga langkah, kembali lagi.
“Darla.”
“Hm?”
“Wedding cake jadi nggak?”
“Kita nggak pakai wedding cake.”
“Oh iya.”
Ibu diam sebentar.
“Cupcake?”
“Bu…”
“Okay. No cake.”
Beliau kembali berjalan.
Lima detik kemudian suaranya terdengar dari dalam.
“Tapi dessert table tetap ada, kan?”
Darla menutup wajahnya.
Hana tertawa sampai bersandar ke sofa.
⸻
Ayah memandang putri dan istrinya bergantian.
“Kalau tamunya bisa duduk…”
Ibu berhenti dari kejauhan.
“…pengantinnya datang…”
Darla sudah mulai tersenyum.
“…akadnya sah…”
Hana ikut menunggu.
“…dan semua orang dapat makan…”
Ayah menyusun kembali dokumennya.
“…acaranya berhasil.”
Ibu muncul lagi sambil berkacak pinggang.
“Minimal bunganya juga bagus.”
Ayah mengangguk.
“Bunganya juga bagus.”
“Nah.”
Barulah Ibu terlihat puas.
⸻
Darla memandang denah kecil halaman rumah di layar.
Untuk sesaat, kepalanya kembali dipenuhi daftar.
Dokumen.
Fitting.
Vendor.
Souvenir.
Cuaca.
Tamu.
Makeup.
Rundown.
Namun di balik seluruh kepanikan itu, ia tahu persis satu hal.
Garden party itu hanya berlangsung satu hari.
Pernikahannya, bila Allah mengizinkan, akan berlangsung jauh setelah kursi-kursi dikembalikan, bunga-bunga layu, dan lampu-lampu dilepas dari pepohonan.
Ia ingin hari itu cantik.
Tentu saja.
Tetapi ia jauh lebih peduli pada pagi setelahnya.
Dan semua hari yang datang kemudian.
Hana mengamati wajahnya.
“Pikiranmu ke mana?”
Darla mengembuskan napas.
“Ke semuanya.”
“Wedding?”
Darla menggeleng kecil.
“Marriage.”
Senyum Hana berubah lebih lembut.
“Nah.”
“Yang itu memang nggak bisa diatur WO.”
“I know.”
“Makanya simpan tenagamu buat yang lebih panjang.”
Darla mengangguk.
“Okay.”
Jeda.
“Boleh buka spreadsheet lagi?”
“Lima belas menit.”
“Deal.”
⸻
Jakarta Selatan
Menjelang siang.
Hana menghentikan mobil di depan sebuah bridal spa.
Darla melihat papan namanya melalui kaca.
Lalu menoleh.
“Ini hari ini?”
“Iya.”
“Aku kira minggu depan.”
“Kalau minggu depan kulitmu protes, kamu akan menyalahkan aku.”
Darla membuka seat belt.
“Fair.”
Begitu masuk, ia sudah jauh lebih santai.
Facial, body scrub, hair treatment, manicure, pedicure, dan massage bukan hal asing baginya.
Ia rutin melakukannya sesekali ketika pekerjaan sedang tidak terlalu gila atau saat ingin memanjakan diri.
Yang berbeda hanyalah durasinya.
Dan daftar treatment yang kini memiliki label:
Bridal Preparation Package.
Seorang beautician membacakan jadwal mereka.
“Kita mulai dari facial, lalu body treatment dan massage. Setelah itu manicure-pedicure, hair spa, underarm waxing…”
Darla masih mengangguk.
“…Brazilian waxing, lalu terakhir ratus.”
Tangannya yang tadi sedang membuka Pinterest berhenti.
Ia mengangkat wajah perlahan.
“Sorry?”
Hana langsung menunduk, menyembunyikan senyum.
Beautician tetap profesional.
“Brazilian waxing, Kak.”
Darla menoleh kepada Hana.
“Kamu nggak bilang bagian ini.”
“Aku bilang bridal package.”
“Itu bukan penjelasan.”
“Kalau dijelaskan satu-satu, kamu kebanyakan mikir.”
Darla menyipitkan mata.
“You ambushed me.”
Hana akhirnya tertawa.
“Sedikit.”
Beautician ikut tersenyum.
“Tenang aja, Kak. Nanti dijelaskan dulu prosedurnya.”
Darla mengembuskan napas.
“Okay.”
Lalu menatap Hana lagi.
“Tapi kamu tunggu.”
“I’m not going anywhere.”
“Good.”
⸻
Satu jam pertama berjalan nyaman.
Facial.
Pijat wajah.
Masker.
Hair spa.
Darla bahkan sempat tertidur beberapa menit ketika kulit kepalanya dipijat.
Hana duduk di kursi sebelah sambil membalas pesan.
Ketika Darla membuka mata, Hana sedang memotretnya.
“Hapus.”
“Buat dokumentasi.”
“Aku kelihatan kayak mayat dengan masker putih.”
“Calon pengantin yang rileks.”
“Hapus.”
Hana tertawa dan menyimpan ponselnya.