Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #35

CHAPTER 34: Brother

Five Days Before the Akad


08.15 AM


Soekarno-Hatta International Airport


Terminal 3.


Pintu kedatangan internasional terus terbuka dan tertutup.


Orang-orang keluar silih berganti.


Ada yang langsung dipeluk keluarganya.


Ada yang sibuk mencari koper.


Ada pula yang masih menguap setelah penerbangan panjang.


Di balik pagar pembatas…


Darla berdiri sambil sesekali melirik layar informasi penerbangan.


Tangannya menggenggam segelas iced americano yang sejak lima belas menit lalu belum juga diminum.


Sudah hampir tiga tahun…


ia tidak bertemu kakaknya.


Terakhir kali…


Bilal pulang sebelum pandemi benar-benar berakhir.


Saat itu…


Darla bahkan masih tinggal di kos dekat kantornya di Jakarta Selatan.


Sekarang…


ia datang menjemput sebagai seorang calon pengantin.


Memikirkannya saja masih terasa aneh.



Pintu otomatis kembali terbuka.


Gelombang penumpang berikutnya keluar.


Darla mengangkat wajah.


Lalu…


senyumnya langsung mengembang.


Seorang laki-laki tinggi dengan koper abu-abu besar dan ransel hitam di bahu sedang melambai ke arahnya.


Rambutnya sedikit lebih panjang daripada biasanya.


Janggut tipis memenuhi rahangnya.


Kaos putih.


Overshirt hijau olive.


Jeans gelap.


Masih seperti yang selalu ia ingat.


“Aa!”


Bilal ikut tersenyum lebar.


“Adek!”


Darla hampir berlari.


Begitu jarak mereka tinggal beberapa langkah…


ia langsung memeluk kakaknya erat.


“MasyaAllah…”


gumam Bilal sambil membalas pelukan itu.


“Finally home.”


Darla tidak langsung melepas.


“Kangen.”


“I know.”


“Banget.”


“I know.”


Bilal tertawa pelan.


Lalu mengusap kepala adiknya seperti dulu.


“Masih anak kecil ternyata.”


Darla langsung mendongak.


“Aku udah mau nikah, Aa.”


“Iya.”


“Tapi tetap aja…”


“…adiknya Aa.”



Mereka berjalan perlahan menuju area parkir.


Bilal tetap menarik koper besarnya sendiri.


Seperti biasa.


Tidak pernah suka merepotkan orang lain.


Baru beberapa langkah…


ia berhenti.


Menoleh ke arah Darla.


Mengamatinya dari atas sampai bawah.


“Hm.”


“Apa?”


“Kurus.”


Darla langsung mendengus.


“Semua orang ngomong gitu.”


“Ya memang.”


“Aku diet.”


Bilal mengangguk puas.


“Bagus.”


“Tapi jangan sampai pas akad malah pingsan.”


“Aa…”


“Aku sehat.”


“Kata semua calon pengantin.”


Darla spontan mencubit pelan lengan kakaknya.


“Ih.”


Bilal hanya tertawa.


“Nah.”


“Masih galak.”


“Masih.”


“Berarti sehat.”



Begitu koper berhasil dimasukkan ke bagasi…


Bilal membuka pintu mobil.


“Laper.”


“Parah.”


Darla terkekeh.


“Ibu dari tadi pagi masak banyak.”


“Nah itu.”


“Makanya.”


“Aku harus makan dulu.”


“Biar masih punya ruang buat ronde kedua.”


Darla langsung tertawa.


“Strategis banget.”


“Tiga belas jam naik pesawat.”


“Aa nggak mau kalah sama rendang Ibu.”



10.40 AM


Pondok Indah Mall


Restoran belum terlalu ramai.


Mereka memilih duduk di dekat jendela.


Bilal meletakkan ponselnya di atas meja.


Lalu mengembuskan napas panjang.


“Akhirnya.”


Darla mengangkat alis.


“Apa?”


“Es teh Indonesia.”


Darla tertawa.


“Segitunya?”


“Kamu nggak ngerti.”


“Australia punya banyak hal bagus.”


“Tapi…”


“…es tehnya tetap nggak pernah terasa kayak rumah.”


Pelayan datang membawa menu.


Bilal bahkan belum sempat membukanya.


“Adek.”


“Hm?”


“Recommend.”


Darla tersenyum.


“Aa udah lama nggak pulang ya.”


“Iya.”


“Aku udah lupa restoran Indonesia yang enak.”



Beberapa menit kemudian…


makanan mulai berdatangan.


Nasi.


Ayam bakar.


Tumis kangkung.


Tahu.


Tempe.


Sambal.


Bilal langsung menarik napas panjang.


“Oh…”


“I missed this.”


Darla memperhatikannya sambil tersenyum.


“Aa tuh…”


“…di Sydney makan apa sih?”


Bilal memotong ayamnya.


“Masak.”


“Sendiri?”


“Iya.”


“Rajin amat.”


“Nggak.”


“Murah.”


Darla langsung tertawa.


“Oh…”


“Kirain karena healthy lifestyle.”


Bilal menggeleng.


“Engineer.”


“Bukan content creator.”


“Budget matters.”



Obrolan mengalir begitu saja.


Tentang kantor.


Tentang Sydney.


Tentang tetangga apartemen Bilal yang berasal dari Turki.


Tentang hujan Bogor.


Tentang Ibu yang hampir setiap minggu mengirim foto tanaman baru di halaman rumah.


Mereka mengejar tiga tahun yang hilang…


tanpa benar-benar menyadarinya.



Di tengah makan…


Bilal tiba-tiba meletakkan sendoknya.


Menatap adiknya cukup lama.


“Gimana?”


“Hm?”


“Capek?”


Darla langsung tahu maksudnya.


Persiapan akad.


Ia mengembuskan napas pelan.


“Capek.”


“Tapi…”


“…lebih ke capek mikir.”


Bilal tertawa kecil.


“Contoh.”


“Pagi bangun.”


“Langsung ingat…”


“…eh fitting.”


“Eh dekor.”


“Eh souvenir.”


“Eh WO.”


“Eh jadwal keluarga.”


“Eh ini.”


“Eh itu.”


Bilal mengangguk penuh simpati.


“Classic.”


“Aku bahkan belum nikah…”


“…udah capek dengernya.”


Darla ikut tertawa.


“Tapi lucunya…”


“…aku nggak pernah nyesel.”


“Kenapa?”


Darla berpikir sebentar.


“Soalnya…”


“…yang bikin capek bukan pernikahannya.”


“…cuma persiapannya.”


Bilal tersenyum kecil.


“Good.”


“Itu jawaban yang benar.”



Tak lama kemudian…


seseorang melambaikan tangan dari arah pintu restoran.


Bilal langsung menoleh.


“Oh.”


“She’s here.”


Darla ikut menoleh.


Lalu wajahnya langsung berbinar.


“Teh Alya!”



Tak lama kemudian…


seorang perempuan melambaikan tangan dari arah pintu restoran.


Bilal langsung berdiri.


“There she is.”


Darla ikut menoleh.


Wajahnya langsung berbinar.


“Teh Alya!”


Alya tersenyum lebar.


“Hi, Adek.”


Mereka berpelukan hangat.


Sudah hampir dua tahun juga mereka tidak bertemu.


“Ya Allah…”


Alya mundur selangkah.


“Lihat deh.”


“Kamu cantik banget sekarang.”


Darla langsung tertawa malu.


“Teh…”


“Jangan mulai.”


“I’m serious.”


Alya memperhatikan wajah Darla beberapa detik.


“You look…”


“…calmer.”


Kalimat itu membuat Darla tersenyum.


“I hope so.”



Alya kemudian duduk di samping Bilal.


“Sorry.”


“Meeting tadi molor.”


Bilal mengangkat bahu.


“I know.”


“Jakarta.”


“Exactly.”


Pelayan datang membawa satu gelas iced latte.


“Your usual?”


tanya Bilal.


Alya mengangguk.


“You still remember?”


“I remember everything.”


Alya mendengus pelan.


“Show off.”


Bilal hanya tersenyum kecil.


Darla yang melihat mereka cuma geleng-geleng kepala.


“Kalian masih sama aja.”


Bilal dan Alya saling menoleh.


“Lah emang kenapa?”


“Kompak.”


“Annoying.”


Alya langsung tertawa.


“I’ll take that as a compliment.”



Obrolan kemudian berpindah ke persiapan akad.


“So…”


Alya menopang dagunya.


“How’s bride life?”


Darla langsung tertawa kecil.


“Chaotic.”


“I knew it.”


“Aku tiap bangun tidur…”


“…rasanya checklist di kepala udah jalan sendiri.”


“Flowers.”


“Guest list.”


“WO.”


“Makeup.”


“Documents.”


“Everything.”


Alya mengangguk penuh pengertian.


“I’ve seen this movie.”


“Hah?”


“My sister.”


“Oh.”


“Two weeks before her wedding…”


“…she cried because the ribbon…”


“…was the wrong shade of ivory.”


Darla langsung membelalakkan mata.


“Seriously?”


“Dead serious.”


Bilal menyela datar.


“That’s terrifying.”


Alya langsung menyenggol lengan pacarnya.


“Excuse me.”


“It matters.”


“It absolutely doesn’t.”


“It absolutely does.”


Bilal menoleh ke Darla.


“See?”


“This is why engineers shouldn’t plan weddings.”


Alya tertawa.


“No.”


“This is why engineers should stay away…”


“…from colour palettes.”



Mereka semua tertawa.


Suasananya ringan.


Hangat.

Lihat selengkapnya