Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #38

CHAPTER 37: The First "Hi"

Saturday


10.03 AM


Bogor.


Ruang akad yang beberapa menit lalu begitu hening kini perlahan kembali dipenuhi suara.


Ucapan selamat.


Tawa kecil.


Doa-doa.


Suara kamera yang tidak berhenti berbunyi.


Jakub masih berdiri di dekat meja akad.


Satu per satu orang datang menyalaminya.


“Selamat, yaa.”


“Congratulations.”


“Semoga menjadi keluarga yang sakinah.”


“Terima kasih.”


Ia menjawab semuanya dengan senyum yang sama.


Tenang.


Rendah hati.


Namun sesekali…


ia masih tanpa sadar melirik ke arah pintu ruang rias.


Seolah sedang menunggu seseorang.



Di dalam rumah.


Ruang rias masih dipenuhi orang.


Dua MUA.


Hijab stylist.


Sepupu-sepupu perempuan.


Dan tentu saja…


beberapa uwa yang sedari tadi tidak berhenti berkomentar.


“Sebentar ya, Darla.”


“Lipstiknya dikit lagi.”


“Iya.”


Darla mengangguk pelan.


Tangannya masih menggenggam tasbih digital kecil.


Ibu Darla masuk sambil membawa segelas air.


“Gimana?”


“Masih hidup?”


“Bu…”


Darla tertawa kecil.


“Masih.”


“Good.”


“Minum dulu.”


Salah satu uwa langsung nyeletuk.


“Euleuh…”


“Penganténna meni geulis pisan.”


(“Aduh… pengantinnya cantik sekali.”)


Uwa lain langsung menyambung.


“Jakub mah moal bisa kedip engké.”


(“Nanti Jakub pasti lupa berkedip.”)


Ruangan langsung dipenuhi tawa.


Darla hanya bisa menutupi wajahnya.


“Uwa…”


“Atuh…”



Di luar.


Faris berdiri di samping Jakub.


“Mas.”


“Hm?”


“Udah siap?”


“I think so.”


“Bohong.”


Jakub menoleh.


“Why?”


“Soalnya dari tadi Mas lihat pintunya terus.”


Jakub berkedip pelan.


“…Have I?”


“Very obviously.”


Jakub hanya mengembuskan napas kecil.


“…I see.”



Beberapa menit kemudian…


pintu ruang rias akhirnya terbuka.


Suara di ruangan perlahan mengecil.


Semua orang otomatis menoleh.


Darla melangkah keluar.


Gaun putih sederhana.


Hijab putih yang jatuh lembut menutupi dadanya.


Buket bunga kecil di kedua tangannya.


Tidak berlebihan.


Persis seperti yang selama ini ia inginkan.


Jakub ikut menoleh.


Tatapannya berhenti.


Benar-benar berhenti.


Beberapa detik.


Lalu…


nyaris tanpa sadar…


terdengar lirih.


“My goodness…”


Sangat pelan.

Lihat selengkapnya