Saturday
03.15 PM
Terminal 3.
Soekarno-Hatta International Airport.
Setelah berganti pakaian dan berpamitan dengan keluarga…
suasana terasa berbeda.
Gaun akad telah berganti menjadi long cardigan linen warna oatmeal dengan khimar krem sederhana yang menutupi dada. Makeup Darla kini jauh lebih ringan, hanya menyisakan rona lembut di pipinya.
Jakub pun tak lagi mengenakan beskap putih. Kini ia memakai kemeja linen putih berlengan panjang yang digulung rapi sampai lengan bawah, chino warna beige, dan sneakers putih.
Kalau bukan karena cincin baru di jari manis mereka…
tak ada yang akan menyangka bahwa beberapa jam sebelumnya mereka baru saja mengucapkan akad.
⸻
Check-in berlangsung cepat.
Bagasi ditimbang.
Boarding pass dicetak.
Mereka berjalan melewati pemeriksaan keamanan.
Tak banyak percakapan.
Sesekali hanya saling memastikan.
“Passport?”
“Got it.”
“Phone?”
“Here.”
“Power bank?”
Darla mengangkat tas kecilnya.
“Already packed.”
Jakub mengangguk kecil.
“Good.”
⸻
Gate 12.
Masih sekitar empat puluh menit sebelum boarding.
Mereka duduk berdampingan.
Jakub membuka Kindle.
Darla mengeluarkan paper bag pemberian ibunya.
“Oh…”
“Ibu masih nyelipin risoles.”
Jakub melirik.
“I had a feeling.”
Mereka berbagi lagi satu risoles.
Satu kurma.
Sambil melihat pesawat datang dan pergi melalui jendela besar terminal.
Tak lama kemudian…
pengumuman boarding terdengar.
⸻
Garuda Indonesia GA-410.
Jakarta — Denpasar.
Darla mendapat window seat.
Jakub di tengah.
Di sebelah aisle duduk seorang bapak yang langsung membuka koran begitu duduk.
Pesawat mulai taxi.
Jakub mencoba mengatur posisi duduknya.
Lututnya menyentuh kursi depan.
Ia menggeser sedikit.
Masih mentok.
Mencoba menyandarkan siku.
Armrest kanan sudah dipakai bapak di sebelahnya.
“…”
Ia menarik lagi sikunya.
Darla memperhatikan dari samping.
“Kenapa?”
Jakub menghela napas kecil.
“I forgot…”
“…how little legroom…”
“…economy has.”
Darla langsung menahan tawa.
“Kamu kan tinggi.”
“Unfortunately.”
Ia kembali mencoba mencari posisi.
Tetap serba salah.
Darla tersenyum.
“Mau tukeran?”
Jakub menoleh.
“Hm?”
“Aku ke tengah aja.”
Jakub refleks melirik ke arah aisle.
Melihat bapak di sampingnya.
Lalu melihat jendela di samping Darla.
“No.”
“I’m good.”
Jeda.
“You enjoy the view.”
Darla mengangguk.
“Okay then.”
⸻
Pesawat mulai berbelok menuju runway.
Suara mesin perlahan membesar.
Lampu sabuk pengaman masih menyala.
Darla memandang keluar jendela.
Namun jemarinya mulai saling menggenggam.
Jakub memperhatikannya sekilas.
Tak berkata apa-apa.
⸻
Beberapa detik kemudian…
pesawat berhenti di ujung runway.
Mesin meraung lebih keras.
Dorongan mulai terasa.
Darla berbisik sangat pelan.
“Jakub…”
“Hm?”
“…I’m sorry.”
Jeda.
“I can’t handle take-off.”
Jakub menoleh.
Napas Darla mulai sedikit lebih cepat.
“I…”
“…need your hand.”
Tanpa banyak bicara…
Jakub membalik telapak tangan kirinya.
Meletakkannya di atas armrest di antara mereka.
Darla langsung menggenggamnya.
Beberapa detik kemudian…
saat pesawat mulai berlari semakin cepat…
ia refleks merapat.
Lengannya melingkari lengan Jakub.
Kepalanya bersandar pelan di bahunya.
Matanya terpejam rapat.
Jakub tidak bergerak.
Ia hanya memperhatikan beberapa saat.
Lalu semuanya langsung ia pahami.
She isn’t afraid of flying.
She’s afraid of take-off.
Ia sedikit memiringkan kepala.
Suaranya begitu pelan hingga hanya Darla yang bisa mendengarnya.
“Take a deep breath.”
Darla menurut.
“Every time…”
“…you breathe out…”
“…say…”
“…Subhanallah.”
Jeda.
“With me.”
Pesawat mulai mengangkat hidungnya.
Jakub menarik napas.
“Subhanallah…”
Darla mengikuti.
“…Subhanallah…”
Sekali lagi.
Napas masuk.
Keluar.
“Subhanallah…”
Tanpa mereka sadari…
roda telah meninggalkan landasan.
Getaran mulai menghilang.
Pesawat perlahan stabil menembus awan.
Genggaman Darla mulai mengendur.
Ia membuka mata.
Lalu mendongak.
Baru saat itulah ia sadar…
wajah mereka sangat dekat.
Hidung mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
Mata mereka bertemu.
Tak satu pun berbicara.
Darla tersenyum kecil.
“…It worked.”
Jakub membalas senyum tipisnya.
“Alhamdulillah.”
Beberapa detik kemudian Darla baru sadar ia masih memeluk lengan suaminya.
“Oh…”
“Sorry.”
Ia buru-buru melepaskan genggamannya.
Jakub menggeleng pelan.
“You don’t have to apologize.”
Ia kembali melihat ke depan.
Tetap tenang.
Seolah tak terjadi apa-apa.
Tak ada yang tahu…
ujung telinganya perlahan memerah.
⸻
Tak lama kemudian…
lampu sabuk pengaman dipadamkan.
Pramugari mulai menyiapkan troli makanan.
Kabut tipis di luar jendela berubah menjadi hamparan awan putih yang luas.
Darla kembali menatap keluar.