Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #42

CHAPTER 41: The Quiet After

Saturday


07.05 PM


Bali.


Pintu kamar resort tertutup perlahan.


Klik.


Sunyi.


Untuk pertama kalinya sejak subuh…


tidak ada suara tamu.


Tidak ada keluarga.


Tidak ada fotografer.


Tidak ada jadwal.


Hanya suara ombak yang datang dan pergi dari arah balkon.


Darla mengembuskan napas panjang.


“…Finally.”


Jakub ikut melepas napas.


“I was thinking…”


“…the exact same thing.”


Keduanya saling pandang.


Lalu tertawa kecil.



Jakub meletakkan koper di dekat lemari.


Sementara Darla berjalan mengelilingi kamar.


Tidak besar.


Namun hangat.


Dominasi kayu.


Lampu-lampu kekuningan.


Balkon langsung menghadap laut.


“Nice.”


gumam Darla.


Jakub mengangguk.


“I thought…”


“…you’d like somewhere quiet.”


“I do.”


Ia membuka pintu balkon.


Angin laut langsung memenuhi kamar.


Tirai putih bergerak pelan.


Di kejauhan…


matahari mulai turun ke balik laut.



Mereka berdiri berdampingan beberapa menit.


Tak banyak bicara.


Hanya menikmati pemandangan.


Lalu Darla menoleh.


“Aku mandi dulu ya.”


“Take your time.”



Pintu kamar mandi tertutup.


Jakub membuka koper.


Menggantung beberapa kemeja.


Meletakkan paspor ke dalam laci.


Jam tangan di atas nakas.


Ponselnya ia sambungkan ke charger.


Semuanya dilakukan seperti biasa.


Rapi.


Teratur.


Sesekali ia melirik pintu kamar mandi.


Lalu kembali merapikan barang.



Sekitar dua puluh menit kemudian…


pintu kamar mandi terbuka.


Jakub yang sedang menuang air minum refleks menoleh.



Lalu berhenti.


Benar-benar berhenti.


Darla keluar dengan rambut yang sudah kering dan ditata sederhana.


Riasannya kini jauh lebih ringan.


Harum aroma sampo dan parfum lembut memenuhi ruangan.


Ia mengenakan long satin nightdress warna champagne dengan robe tipis senada.


Elegan.


Sederhana.


Sangat…


Darla.


Jakub menatap beberapa detik.


“…”


“My goodness…”


Darla mengangkat alis.


“What?”


Jakub seperti baru sadar dirinya bicara.


“…Nothing.”


Jeda.


“…Hi.”


Darla langsung tertawa.


“Hi.”


Keheningan turun lagi.


Namun kali ini…


terasa jauh lebih ringan daripada sebelumnya.


Jakub berjalan mendekat.


Pelan.


Masih menyisakan ruang yang sopan di antara mereka.


Tatapannya belum juga berpindah.


“…Is this…”


Ia berhenti sebentar.


“…really my wife?”


Darla menggigit bibir menahan senyum.


“I’m afraid so.”


Keduanya sama-sama tertawa kecil.


Darla menggeleng.


“Stop staring.”


“…I’m trying.”


“You are not.”


“…Apparently not.”


Angin dari balkon meniup beberapa helai rambut ke depan wajah Darla.


Jakub mengangkat tangan.


Pelan.


Menyingkirkan helai rambut itu ke belakang telinganya.


Gerakannya begitu hati-hati.


Seolah meminta izin tanpa kata-kata.


“…There.”


Darla menatapnya beberapa detik.


Lalu tersenyum.


“Thank you.”


Hening lagi.


Masih saling memandang.


Sampai akhirnya Darla terkekeh lebih dulu.


“Mandi.”


Jakub berkedip.


“Hm?”


“Kamu.”


“Oh.”


Ia melihat bajunya sendiri.


Kemeja linen putih yang sudah sedikit kusut setelah seharian dipakai.


Ia tertawa kecil.


“I suppose…”


“…I do look…”


“…rather travelled.”


“A little.”


Jakub membungkukkan badan sedikit, setengah bercanda.


“Give me twenty minutes.”


“I shall return…”


“…looking considerably more respectable.”


Darla mengangkat gelas kosong di meja kecil.


“I’ll be waiting.”


“Don’t disappear.”


“I’ll try.”


Jakub tersenyum tipis.


Lalu masuk ke kamar mandi.


Pintu tertutup.



Darla menuangkan sparkling grape juice ke dalam gelas tinggi.


Butiran gelembung kecil naik perlahan ke permukaan.


Lihat selengkapnya