Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #43

CHAPTER 42: At Last

Saturday


09.26 PM


Malam Bali terasa begitu tenang.


Dari balik pintu balkon yang masih terbuka, suara ombak datang silih berganti, seolah menjadi latar yang tak pernah lelah menemani malam.


Lampu-lampu taman memantulkan cahaya hangat ke permukaan private pool.


Sesekali angin membawa aroma laut ke dalam kamar.


Tidak ada yang berbicara.


Bukan karena kehabisan topik.


Justru karena hari itu…


terlalu penuh.


Akad.


Resepsi.


Perjalanan.


Penerbangan.


Makan malam.


Dan kini…


akhirnya hanya tersisa mereka berdua.



Darla berdiri di dekat balkon.


Masih memegang gelas sparkling grape juice yang tinggal sedikit.


Ia memandangi pantulan bulan di atas air.


Samar-samar tersenyum.


“…Beautiful.”


gumamnya pelan.


Jakub, yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakangnya, ikut melihat ke arah yang sama.


“It is.”


Jeda.


“…But I don’t think…”


“…that’s what you’ve been looking at.”


Darla menoleh.


Mengangkat sebelah alis.


“Oh?”


Jakub tersenyum tipis.


“I think…”


“…you’ve been enjoying…”


“…the silence.”


Darla tertawa kecil.


“…Caught.”


“I needed this.”


“So did I.”



Beberapa detik kembali berlalu.


Tidak terasa canggung.


Justru nyaman.


Jakub berjalan mendekat.


Kini mereka berdiri berdampingan.


Bahu mereka nyaris bersentuhan.


Angin kembali meniup beberapa helai rambut Darla ke depan wajahnya.


Tanpa berpikir panjang…


Jakub mengangkat tangan.


Pelan.


Sangat pelan.


Ia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga Darla.


Gerakannya begitu alami.


Seolah sudah pernah melakukannya berkali-kali.


Padahal…


baru malam itu.


Darla mengangkat wajah.


Tatapan mereka bertemu.


Dekat.


Sangat dekat.


Jakub tersenyum kecil.


“…There.”


“Much better.”


Darla balas tersenyum.


“I wasn’t aware…”


“…it was bothering you.”


“It wasn’t.”


Jeda.


“I simply wanted…”


“…to see your face.”


Kalimat itu begitu tenang.


Begitu sederhana.


Namun cukup membuat pipi Darla menghangat.


“…You’re getting better at this.”


“What?”


“Complimenting people.”


Jakub tampak berpikir.


“I wasn’t trying to.”


“I know.”


“That’s why it works.”


Kini giliran Jakub yang tertawa pelan.



Darla memperhatikan wajah suaminya dari dekat.


“…Can I?”


“Hm?”


Ia menunjuk rambut Jakub yang masih sedikit berantakan.


“Hold still.”


Jakub menurut tanpa bertanya.


Darla merapikan beberapa helai rambut di dekat dahinya.


Lalu membenarkan sedikit kerah kaus putih yang tadi terlipat.


“Nah.”


“Approved.”


Jakub menunduk melihat dirinya sendiri.


“…Should I say thank you…”


“…or am I being inspected?”


“Both.”


“Fair enough.”



Keheningan kembali datang.


Namun kali ini…


tidak ada satu pun dari mereka yang ingin memecahnya.


Jakub memperhatikan cincin di jari manis Darla.


Masih tampak baru.


Kilau emasnya memantulkan cahaya lampu taman.


Perlahan ia menggenggam tangan istrinya.


Tanpa berkata apa pun.


Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan itu.


Refleks.


Seolah ingin memastikan…


bahwa semua ini benar-benar nyata.


Darla ikut menunduk melihat jemari mereka yang kini saling bertaut.


“…Still surreal?”


tanyanya pelan.


Jakub mengangguk.


“Very.”


“You?”


“A little.”


Ia tersenyum.


“But in a good way.”



Jakub mengangkat pandangannya kembali.


“…May I?”


Darla terkekeh.


“You still ask.”


“I probably will…”


“…for a while.”


“I don’t mind.”


Jawaban itu keluar begitu lembut.


Begitu menenangkan.


Jakub melangkah sedikit lebih dekat.


Masih menyisakan ruang.


Masih memberi kesempatan.


Namun ketika Darla justru ikut memperpendek jarak di antara mereka…


senyum kecil muncul di wajahnya.


Tangannya perlahan merangkul pinggang Darla.


Membawanya ke dalam pelukan yang hangat.


Tidak tergesa.


Tidak berlebihan.


Hanya cukup untuk mengatakan,


“Aku di sini.”


Darla membalas pelukan itu.


Kali ini tanpa ragu.


Kepalanya bersandar di dada Jakub.


Ia bisa mendengar detak jantung suaminya.


Cepat.


Ia tersenyum kecil.


“…You’re nervous.”


Suara tawanya terdengar pelan di dada Jakub.


“So are you.”


“…Am I that obvious?”

Lihat selengkapnya