Sunday
06.18 AM
Suara ombak menjadi hal pertama yang didengar Darla ketika membuka mata.
Pelan.
Teratur.
Bercampur dengan dengung AC dan cahaya pagi yang mulai menyusup dari sela tirai.
Beberapa detik ia hanya diam.
Masih setengah mengantuk.
Masih hangat di bawah selimut.
Lalu ingatan tentang kemarin datang sekaligus.
Bogor.
Akad.
Bali.
Dinner.
Dan…
Darla memiringkan tubuhnya.
Senyumnya muncul begitu saja.
Jakub masih tertidur di sampingnya.
⸻
Ia jarang sekali melihat laki-laki itu benar-benar tidak waspada.
Tidak sedang membaca sesuatu.
Tidak sedang memikirkan pekerjaan.
Tidak sedang memasang ekspresi tenang seorang diplomat yang seolah punya jawaban untuk apa pun.
Sekarang…
rambut pirangnya berantakan di atas bantal.
Satu tangan terselip di bawah kepala.
Napasnya panjang dan teratur.
Wajahnya begitu rileks sampai beberapa tahun seperti menghilang begitu saja.
Darla menatapnya cukup lama.
Damn.
Tidur saja ganteng.
Ia tersenyum sendiri.
Lalu dengan ujung jemarinya…
perlahan merapikan rambut Jakub yang jatuh ke dahinya.
Sangat hati-hati agar tidak membangunkannya.
Jemarinya turun ke pelipis.
Lalu menyentuh pipinya pelan.
Hangat.
Nyata.
Suaminya.
Darla menggigit ujung senyumnya.
Kemudian bergumam sangat pelan,
“…my gorgeous husband.”
Satu mata Jakub terbuka.
“…Morning, honey.”
Darla langsung menarik tangannya.
“Eh!”
Jakub bahkan belum benar-benar bangun.
Matanya yang satu masih tertutup.
Darla menatapnya tak percaya.
“Hey, sleepyhead. Udah bangun toh?”
Sudut bibir Jakub bergerak.
“I heard someone…”
Ia menarik napas panjang, masih nyaris tertidur.
“…calling me her gorgeous husband.”
Mata satunya akhirnya terbuka.
“How could I possibly sleep through that?”
Darla langsung mencubit lengannya.
“Rese!”
Jakub tertawa serak.
Suara pagi yang jauh lebih rendah daripada biasanya.
“I was only quoting you.”
“Harusnya pura-pura tidur.”
“I considered it.”
“Terus?”
“I wanted to hear if there was more.”
Darla menatapnya.
“Kagak ada.”
“Shame.”
Darla kembali mencubit lengannya.
Jakub kali ini menangkap tangannya sebelum sempat kabur.
Ia membawa jemari Darla ke bibirnya dan mengecup punggung tangannya pelan.
Darla langsung berhenti menyerang.
“Hm.”
Jakub tersenyum puas.
“Effective.”
“Curang.”
“Also effective.”
Darla terkekeh.
Lalu berusaha menarik tangannya.
“Gotta pee.”
Jakub melepaskannya.
“Go.”
Darla turun dari tempat tidur.
Baru beberapa langkah menuju kamar mandi, Jakub memanggil,
“Honey?”
“Hm?”
Jakub masih tergeletak di bantal.
“Good morning.”
Darla tersenyum.
“Good morning.”
⸻
Pintu kamar mandi tertutup.
Jakub kembali merebahkan kepala.
Ia belum berniat bangun.
Tidak dalam waktu dekat.
Tubuhnya masih berada dalam fase negosiasi dengan kesadaran.
Satu tangan menutupi mata.
Kaki bergerak sedikit di bawah selimut.
Lalu ketika hendak mengubah posisi…
tatapannya jatuh ke seprai.
Ia berhenti.
Ada noda darah kecil.
Jakub langsung terjaga beberapa persen lebih banyak.
Ia mengernyit.
Menarik selimut sedikit.
Memastikan apa yang dilihatnya.
Pintu kamar mandi kemudian terbuka.
Darla keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil.
Jakub menoleh.
“Honey.”
“Hm?”
“…You’re bleeding.”
Darla mengikuti arah pandangannya.
“Oh.”
Ia mendekat.
Baru saat itu menyadari noda kecil tersebut.
“Oh.”
Jakub langsung duduk sedikit lebih tegak.
“Are you okay?”
“Iya.”
“Anything hurts?”
Darla berpikir sebentar.
“Not really.”
Lalu menambahkan,
“Sedikit perih pas pipis tadi.”