Sunday
08.07 AM
Restoran hotel bermandikan cahaya matahari pagi.
Jendela-jendela kaca besar menghadap langsung ke laut.
Langit cerah.
Air berkilau terkena matahari.
Suara alat makan beradu pelan dengan musik yang mengalun rendah dari speaker.
Darla berjalan masuk bersama Jakub.
Tangannya masih berada di dalam genggaman suaminya.
Entah sejak kapan.
Mungkin sejak keluar kamar.
Tak satu pun ingat siapa yang lebih dulu meraih tangan siapa.
Dan rupanya…
tak satu pun merasa perlu mencari tahu.
⸻
“Di luar?”
Darla menunjuk beberapa meja di teras.
Jakub melihat ke arah laut.
“Absolutely.”
“Panas nggak?”
“It’s eight in the morning.”
“Kamu belum kenal matahari Indonesia.”
Jakub menoleh.
“I’ve lived here for years.”
“Still European.”
“That sounds discriminatory.”
Darla langsung tertawa.
“Please file a complaint.”
“I might.”
“To whom?”
Jakub menarik kursi untuknya.
“My wife.”
Darla duduk.
“She doesn’t care.”
“I’ve noticed.”
Jakub mengambil tempat di sebelahnya.
Bukan di seberang.
Darla melirik.
Namun tidak mengatakan apa-apa.
Senyumnya saja yang muncul.
⸻
Seorang staf menghampiri meja.
“Good morning, Mr. and Mrs. Zieliński.”
“Good morning.”
“Morning.”
Mereka memesan sarapan.
Kopi untuk keduanya.
Telur.
Roti.
Buah.
Beberapa menu Indonesia yang menarik perhatian Jakub.
Setelah staf pergi…
Darla masih melihat ke arah meja.
Jakub memperhatikannya.
“What?”
“Nothing.”
“That wasn’t nothing.”
Darla tersenyum.
“Mr. and Mrs. Zieliński.”
Jakub mengembuskan napas kecil melalui hidung.
“Again.”
“Mhm.”
“Still strange?”
“Sedikit.”
Jakub mengangguk.
“Same.”
Darla menoleh cepat.
“Really?”
“Yesterday at reception…”
“…I genuinely looked around for a second.”
Darla langsung tertawa.
“BOHONG.”
“I didn’t say I turned my entire body.”
“Tetep aja!”
“I heard Mr. and Mrs. Zieliński and my brain went…”
Ia mengangkat sebelah alis.
“…who?”
Darla tertawa sampai menutupi mulut.
“Kasihan banget istrinya.”
“Apparently.”
Jakub mengambil cangkir kopi yang baru diletakkan staf.
“I only met her yesterday.”
“Ah.”
Darla mengangguk serius.
“How is she?”
Jakub menyeruput kopinya.
“Troublesome.”
Darla langsung menendang pelan sepatunya di bawah meja.
Jakub tersenyum ke dalam cangkir.
⸻
Sarapan mereka datang tak lama kemudian.
Tidak ada pembicaraan soal itinerary.
Belum.
Darla sibuk mencicipi bubur ayam milik Jakub karena menurutnya sambalnya kelihatan menarik.
Jakub mengambil potongan sourdough dari piring Darla tanpa meminta.
Darla melirik.
“Excuse me?”
Jakub sudah menggigitnya.
“Hm?”
“That was mine.”
“There are three.”
“Still.”
Jakub mengambil satu potong dari piringnya sendiri.
Menaruhnya di piring Darla.
“Compensation.”
Darla melihat roti itu.
Kemudian Jakub.
“Accepted.”
“Good.”
Beberapa menit kemudian…
garpu Darla justru masuk lagi ke piring Jakub.
Jakub melihatnya.
Tidak berkomentar.
Hanya menggeser piring sedikit lebih dekat kepadanya.
Darla tersenyum kecil.
“Thank you.”
“You’re welcome.”
⸻
Angin laut bertiup pelan.
Rambut-rambut kecil di sekitar wajah Darla bergerak di balik hijabnya.
Jakub duduk santai dengan satu lengan di sandaran kursi.
Jauh lebih relaxed daripada laki-laki yang baru dua hari lalu masih memeriksa offering letter dan surat resign.
Darla memperhatikannya.
“You look different.”
Jakub menoleh.
“Different how?”
“Relaxed.”
“I am.”
“Banget.”
“Is that concerning?”
“Sedikit.”
Jakub tertawa.
“Why?”