Sunday
09.32 AM
Bali.
Mobil melaju meninggalkan kawasan hotel.
Matahari sudah naik cukup tinggi, tetapi udara di dalam mobil masih sejuk.
Darla duduk merapat di sisi Jakub.
Kacamata hitam bertengger di wajahnya.
Satu tangannya memegang ponsel.
Tangan lainnya…
berada di dalam genggaman suaminya.
Sejak tadi.
Tidak ada yang membicarakannya.
Rasanya sudah mulai terlalu natural untuk dibicarakan.
⸻
Jakub memandang keluar jendela.
Deretan hotel perlahan berganti menjadi pertokoan kecil.
Pura.
Rumah-rumah warga.
Sesekali sawah muncul di sela bangunan.
Canang sari tergeletak di depan beberapa toko yang baru membuka pintu.
Darla sendiri sedang melihat Maps.
Bukan mengejar jadwal.
Hanya memastikan mereka tidak menghabiskan setengah honeymoon terjebak macet.
Jakub melirik layar ponselnya.
“Still following the itinerary?”
“Barely.”
“It’s nine-thirty.”
“I know.”
“And you’ve abandoned it already?”
Darla mematikan layar.
“See? Growth.”
Jakub tertawa pelan.
“I’m proud of you.”
“Thank you.”
Darla menyandarkan kepalanya ke bahunya.
“Sekarang kita lihat aja.”
“Mhm.”
“Kalau ada yang menarik, berhenti.”
“Okay.”
“Kalau capek, balik.”
“Okay.”
“Kalau aku berubah pikiran…”
“Also okay.”
Darla mendongak.
“Kok nurut banget?”
Jakub melihatnya dari balik kacamata hitam.
“Would you prefer an argument?”
“No.”
“Then enjoy it.”
Darla terkekeh.
“Fair.”
⸻
Mobil berhenti di lampu merah.
Di pinggir jalan, seorang bapak sedang membelah kelapa muda untuk pembeli.
Darla otomatis mengikuti gerakannya dengan mata.
“Baby, look.”
Jakub menoleh.
“Hm?”
Darla menunjuk keluar.
“Besok aku mau kelapa.”
“Okay.”
“Yang kayak begitu.”
“Mhm.”
“Bukan yang di hotel.”
“Understood.”
“Yang dibelah langsung.”
Jakub mengangguk serius.
“Very specific.”
“I have standards.”
“I’ve noticed.”
Darla tertawa.
Mobil kembali bergerak.
Baru beberapa detik kemudian…
Darla membeku.
Ia perlahan menoleh.
Jakub masih melihat keluar jendela.
“…Eh.”
“Hm?”
“Tadi aku manggil kamu apa?”
Jakub menahan senyum.
“I heard it.”
“Baby?”
“Very clearly.”
Darla tertawa kecil.
“Refleks.”
“I don’t mind.”
“Oh.”
Jeda.
Darla memperhatikannya.
“Actually…”
Jakub menoleh.
“Aku panggil kamu Kuba boleh?”
Ekspresi Jakub berubah sedikit.
Bukan terkejut.
Lebih seperti pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang familiar.
“Why not?”
“Soalnya…”
Darla mengangkat bahu.
“Jakub tuh kamu.”
“Mhm.”
“Tapi Kuba juga kamu.”
“It is.”
“Dan yang manggil Kuba biasanya orang-orang dekat kamu.”
Jakub menatapnya beberapa saat.
“You are my wife.”
Senyum kecil muncul.
“I think you qualify.”
Darla langsung tersenyum.
“Okay.”
Ia mencoba.
“Kuba.”
“Hm?”
Entah kenapa…
terdengar berbeda dari mulut Darla.
Jakub tidak mengatakan apa-apa lagi.
Hanya ibu jarinya yang bergerak sekali di punggung tangan istrinya.
Kemudian ia bertanya,
“Can I call you Aisyah?”
Darla langsung menoleh.
“Why not?”
“You don’t use it often.”
“Orang rumah kadang. Tapi iya, kebanyakan Darla.”
Jakub mengangguk.
“Aisyah.”
Darla memandangnya.
Jakub ikut memandangnya.
Beberapa detik.
Kemudian Darla mengerutkan hidung.
“Hmm.”
“What?”
“I think I prefer calling you baby.”
Jakub terkekeh.
“I see.”
“And honey.”
“Anything else?”
“Nanti dipikirin.”
“Good to know there’s a development plan.”
Darla langsung tertawa.
“Kalau kamu?”
Jakub bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir.
“Kochanie.”
Sayang.
Darla diam.
Senyumnya langsung berubah.
Lebih kecil.
Lebih malu.
“Oh.”
Jakub memperhatikannya.
“You don’t like it?”
“No.”
Darla merapat sedikit.
“I really do.”
“Good.”
Ia membawa tangan Darla sedikit lebih dekat ke dirinya.
“Then kochanie it is.”
Darla menggigit bibir menahan senyum.
“Okay, baby.”
Jakub menoleh.
“Kochanie.”
“Stop.”
“You started it.”
“I know.”
Keduanya tertawa.
Dan percakapan itu selesai begitu saja.
Tanpa mereka sadari…
dua kata baru baru saja masuk ke dalam pernikahan mereka.
⸻
Menjelang siang, mereka sampai di Sanur.
Mereka tidak langsung makan.
Breakfast tadi masih terlalu dekat.
Jadi mobil ditinggalkan, lalu mereka berjalan.
Tanpa tujuan yang terlalu jelas.
Darla membeli air mineral.
Jakub berhenti melihat beberapa buku tua di sebuah toko kecil.
Mereka sempat duduk hampir dua puluh menit di pinggir pantai hanya karena anginnya sedang enak.
Tidak ada yang memeriksa jam.
Tidak ada yang merasa waktu terbuang.
Sesekali Darla bercerita tentang kunjungan-kunjungannya sebelumnya.
Jakub mendengarkan.
Lalu membalas dengan cerita Bali versinya sendiri.
Conference room.
Hotel bar.
Dinner bersama kolega.
Beach club bersama teman.
Darla sampai menggeleng.
“Your Bali sounds exhausting.”
“It wasn’t bad.”
“Sounds like networking with palm trees.”
Jakub tertawa.
“That is unfortunately accurate.”
⸻
Hampir pukul sebelas ketika Darla akhirnya berdiri.
“Lapar?”
Jakub ikut bangkit.
“Getting there.”
Senyum Darla langsung muncul.
“Good.”
Jakub melihat ekspresi itu.
“Oh no.”
“What?”
“That face.”
“Muka aku kenapa?”
“You’ve been waiting for this.”
Darla sudah berjalan lebih dulu.
“Come on, baby.”
Jakub berdiri beberapa detik.
Menatap punggungnya.
Baby lagi.
Senyumnya muncul sendiri.
“Yes, kochanie.”
Darla langsung menoleh dari kejauhan.
“Jangan dibales terus dong!”
Jakub hanya tertawa.
⸻
11.06 AM
Warung Mak Beng sudah ramai ketika mereka tiba.
Begitu turun dari mobil, Jakub melihat papan namanya.
Lalu bangunannya.
Lalu Darla.
“This is the place?”