Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #47

CHAPTER 46: No Destination

Sunday

03.48 PM


Setelah makan siang…


Darla menutup Google Maps.


Jakub melirik.


“No itinerary?”


Darla menggeleng.


“Nggak.”


“I thought today was fully planned.”


“It was.”


“Terus?”


Darla memasukkan ponselnya ke dalam tas.


“Sekarang…”


“…kita nyasar aja.”


Jakub mengangkat sebelah alis.


“Intentionally?”


“Iya.”


“Bali itu kadang lebih seru kalau nggak dicari.”


Jakub tersenyum kecil.


“I’ve never scheduled getting lost before.”


“Nah.”


“Makanya dicoba.”



Mereka meminta sopir menurunkan mereka di sebuah jalan kecil.


“Pak,” kata Darla sambil tersenyum.


“Kita jalan kaki aja. Nanti saya share titik jemputnya.”


“Baik, Bu.”


Mobil pun pergi.


Menyisakan mereka berdua di jalan kecil yang dinaungi pepohonan.


Tidak ada tujuan.


Tidak ada jadwal.


Hanya langkah kaki.


Di kanan jalan, seorang ibu sedang menyapu halaman.


Anak-anak kecil bersepeda sambil tertawa.


Seekor anjing tidur di bawah pohon kamboja.


Udara sore membawa aroma dupa samar bercampur wangi bunga.


Darla menarik napas panjang.


“Aku suka bagian ini.”


“Which part?”


“Yang nggak masuk Instagram.”


Jakub menoleh.


“Hm?”


“Banyak orang ke Bali buat foto.”


Darla melihat sekeliling.


“Padahal yang bikin aku jatuh cinta justru yang kayak gini.”


Jakub ikut memperhatikan.


Tidak ada beach club.


Tidak ada antrean wisatawan.


Tidak ada musik keras.


Hanya kehidupan yang berjalan seperti biasa.


“I understand.”


Darla menoleh.


“You do?”


“I think I’m beginning to.”



Mereka terus berjalan.


Tanpa sadar jarak di antara keduanya semakin rapat.


Lengan mereka sesekali bersentuhan.


Lalu Darla mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Jakub.


Bukan menggenggam.


Hanya mengait.


Iseng.


Jakub menoleh.


“What was that?”


Darla pura-pura polos.


“Hm?”


“You just kidnapped my finger.”


Darla tertawa.


“I did.”


“Any objections?”


Jakub melihat jari mereka yang masih saling terkait.


Lalu tanpa melepaskannya, ia membalik telapak tangannya.


Kini genggaman mereka menjadi utuh.


“No.”


“None.”


Darla tersenyum.


Lalu mereka melanjutkan perjalanan begitu saja.



Mereka berhenti di depan sebuah toko kecil yang menjual homemade gelato.


Darla langsung menunjuk.


“Es krim?”


Jakub melihat papan kecil di depannya.


“I thought we already had coffee.”


“Terus?”


Jakub menoleh kepadanya.


Darla menjawab dengan wajah sangat serius.


“Perutku punya special compartment.”


“Hm?”


“For dessert.”


Jakub mengangguk pelan.


“That sounds scientifically questionable.”


“It is.”


“But it’s true.”



Satu menit kemudian, Darla keluar membawa dua cup gelato.


“Yang ini buat kamu.”


“Apa rasanya?”


“Coba dulu.”


Jakub mencicipi.


Beberapa detik.


“Pistachio?”


Darla membulatkan mata.


“Kok tahu?”


“I guessed.”


“Lucky.”


“Halah.”


“Mengaku aja.”


“I did.”


Jakub mengambil suapan kedua.


“After the second bite.”


Darla tertawa sampai harus berhenti berjalan.


“Curang.”


“I prefer observant.”



Matahari sore mulai turun perlahan.


Cahayanya menembus sela-sela pepohonan yang menaungi trotoar.


Mereka berhenti di sebuah persimpangan kecil.


Lampu penyeberangan berubah hijau.


Saat Darla hendak melangkah, tali sandal kirinya sedikit tersangkut pada celah paving.


“Ehh…”


Refleks.


Jakub langsung meraih siku Darla agar tidak kehilangan keseimbangan.


“Ostrożnie.”


Hati-hati.


Darla langsung menoleh.


“Hm?”


Jakub baru sadar.


“Oh.”


“Sorry. I forgot.”


“It was Polish.”


“Apa artinya?”


“Careful.”


“Ooo…”


Darla mencoba mengulanginya.


“Ostro…?”


“Ostrożnie.”


Darla mengerutkan hidung.


“Okay, never mind.”


Jakub tertawa kecil.


Belum sempat mereka melanjutkan langkah, terdengar suara dari belakang.


“Przepraszam… pan jest z Polski?”


Permisi… Anda dari Polandia?


Jakub menoleh.


Matanya sedikit membesar.


Di belakang mereka berdiri sepasang suami istri berusia sekitar lima puluhan.


Berpakaian santai.


Masih mengenakan topi pantai.


Jakub tersenyum sopan.


“Tak.”


Ya.


Wajah pria itu langsung berbinar.


“Ja też!”


Aku juga!


Dalam hitungan detik…


percakapan mereka berubah sepenuhnya menjadi bahasa Polandia.


Cepat.


Lancar.


Dengan intonasi yang belum pernah Darla dengar sebelumnya.


Darla berdiri di samping Jakub.


Cup gelato masih berada di tangannya.


Ia hanya tersenyum sopan sesekali.


Tidak mengerti satu kata pun.


Bahasa Polandia yang ia tahu praktis baru sebatas cześć dan dzień dobry. Yang kurang lebih artinya Hai/Good Day.


Jadi ia memilih memperhatikan Jakub.


Dan ternyata…

Lihat selengkapnya