Sunday
06.41 PM
Langit Bali telah berubah menjadi biru tua ketika mobil membawa mereka meninggalkan pantai.
Sisa warna merah muda masih terlihat tipis di horizon.
Darla duduk santai di samping Jakub.
Kakinya sedikit pegal setelah hampir seharian berjalan.
Tangannya masih berada di dalam genggaman suaminya.
Tidak ada percakapan selama beberapa menit pertama.
Bukan karena kehabisan bahan.
Hari itu justru terlalu penuh dengan percakapan.
Mereka hanya sedang menikmati sisa tenaganya.
Darla menyandarkan kepala ke bahu Jakub.
“Capek?”
tanya Jakub.
“A little.”
“Hungry?”
“Sedikit.”
“Dinner?”
Darla berpikir.
Kemudian menggeleng.
“Belum.”
Jakub menoleh.
“Hm?”
Darla menunjuk ke depan.
“Stop bentar boleh?”
“Where?”
“Convenience store.”
Jakub mengikuti arah jarinya.
Sebuah minimarket kecil terlihat di sisi jalan.
Lampunya terang di tengah deretan toko yang mulai tutup.
“For dinner?”
Darla langsung menatapnya.
“Please.”
Jakub tertawa.
“I had to ask.”
“Cuma mau beli minum sama cemilan.”
“Five minutes?”
“Five minutes.”
Jakub mengangguk.
“I’ve heard that before.”
Darla menyipitkan mata.
“Trust issues?”
“Experience.”
“Baru sehari nikah.”
“And already learning.”
Darla mencubit kecil punggung tangannya.
“Rese.”
⸻
Lima menit kemudian…
yang tentu saja berubah menjadi hampir sepuluh…
Darla keluar membawa kantong plastik kecil.
Jakub sedang bersandar di sisi mobil sambil memainkan ponselnya.
Begitu melihat Darla, ia memasukkan ponselnya ke saku.
“What did we acquire?”
Darla membuka kantong itu.
“Two iced teas.”
“Mhm.”
“Potato chips.”
“Essential.”
“Chocolate.”
“Very essential.”
Darla tertawa.
“Emergency supplies.”
Jakub membukakan pintu mobil.
Namun Darla belum masuk.
Ia melihat bangku beton kecil di depan minimarket.
Kemudian kepada Jakub.
“Five more minutes?”
Jakub mengikuti arah tatapannya.
“Again?”
“Last one.”
“You’re very convincing.”
“I know.”
Jakub menggeleng.
Namun beberapa detik kemudian…
mereka sudah duduk di bangku itu.
⸻
Tidak ada pemandangan cantik.
Tidak ada private beach.
Tidak ada lampu romantis.
Di depan mereka hanya parkiran kecil.
Motor keluar masuk.
Sesekali pintu minimarket berbunyi setiap ada pelanggan.
Darla membuka botol tehnya.
Meneguk cukup banyak.
Lalu mengembuskan napas puas.
“Nah.”
Jakub melihatnya.
“What?”
“Enak.”
“You’ve had better drinks today.”
“Beda.”
“How?”
Darla mengangkat botolnya.
“Ini tuh rasa convenience store after jalan seharian.”
Jakub mencoba memahami.
“That is apparently a separate category.”
“Exactly.”
Jakub membuka botolnya sendiri.
“I’m learning so much about you.”
“Useful knowledge.”
“Highly.”
Darla membuka keripik kentang.
Menyodorkannya ke arah Jakub.
“Mau?”
Ia mengambil satu.
“Thank you.”
Beberapa saat kemudian…
Darla tertawa sendiri.
Jakub menoleh.
“What?”
“Aku baru kepikiran.”
“Hm?”
“Aku nggak pernah ngebayangin honeymoon aku…”
Darla melihat sekeliling.
“…bakal duduk makan keripik di depan minimarket.”
Jakub ikut melihat parkiran.
“I don’t think this appeared in the brochure either.”
Darla tertawa.
“Regret it?”
Jakub menoleh kepadanya.
“Not even remotely.”
Jawabannya terlalu cepat untuk terdengar seperti basa-basi.
Darla tersenyum.
Kemudian mengambil satu keripik lagi.
⸻
Mereka duduk cukup lama.
Tidak membahas apa-apa yang penting.
Tentang sandal Darla yang sekarang penuh pasir.
Tentang kemeja sage yang tadi dibeli.
Tentang betapa buruknya kemampuan Darla mengucapkan ostrożnie.
Tentang pasangan Polandia yang mereka temui.
Sampai entah bagaimana…
percakapan berhenti sendiri.
Darla masih makan keripik.
Jakub sudah tidak lagi melihat ke jalan.
Tatapannya berhenti pada Darla.
Lama.
Darla tentu saja menyadarinya.
Ia mengambil satu keripik lagi tanpa menoleh.
“What?”
“Nothing.”
“Kuba.”
“Hm?”
“You’re staring.”
“I know.”
Darla akhirnya menoleh.
Jakub masih menatapnya.
Tidak buru-buru mengalihkan pandangan.
Ada sesuatu yang sedikit berbeda dari tatapannya.
Masih lembut.
Masih Jakub.
Tapi jauh lebih terang-terangan daripada pagi tadi.
Darla mengangkat sebelah alis.
“Everything okay?”
Jakub mengangguk kecil.
Kemudian mengembuskan napas.
“You know…”
“Hm?”
“I’ve come to realize something.”
Darla menutup bungkus keripiknya.
“This sounds serious.”
“It’s not.”
“Okay.”
Jakub masih menatapnya.
“I’ve missed you today.”
Darla berkedip.
Lalu melihat ke kiri.
Ke kanan.
Kemudian kembali kepadanya.
“…Excuse me?”
Jakub mulai tersenyum.
Darla menunjuk dirinya sendiri.
“We’ve literally been together…”
Ia menunjuk Jakub.