Monday
07.03 AM
Sinar matahari masuk dari sela tirai villa.
Pelan.
Hangat.
Menyentuh seprai yang masih berantakan dari malam sebelumnya.
Darla membuka mata.
Beberapa detik ia hanya diam.
Mengumpulkan kesadaran.
Lalu tangannya bergerak refleks ke sisi ranjang.
Kosong.
Ia mengernyit.
“Baby?”
Tidak ada jawaban.
Darla mengangkat kepala.
Pintu balkon terbuka.
Dan di sana…
Jakub sedang berdiri membelakanginya.
Kaus putih.
Celana pendek santai.
Rambut masih sedikit berantakan.
Satu cangkir kopi berada di tangannya.
Cangkir lain sudah menunggu di atas meja balkon.
Darla tersenyum sendiri.
“Morning.”
Jakub langsung menoleh.
Senyumnya muncul begitu melihatnya sudah bangun.
“Morning, kochanie.”
Darla mengangkat sebelah alis.
“You abandoned your wife.”
“I made your wife coffee.”
“Hmm.”
Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi.
“Acceptable defense.”
Jakub tertawa.
“Would you like it here?”
“Yes, please.”
Jakub membawa kopinya masuk.
Duduk di tepi tempat tidur.
Darla langsung mengambil cangkir itu.
“Thank you.”
“You’re welcome.”
Ia menyesap sedikit.
Kemudian menyipitkan mata puas.
Jakub memperhatikannya.
“Good?”
“Very.”
“Then I’ve redeemed myself.”
“For now.”
Jakub menggeleng geli.
⸻
Beberapa menit kemudian, Darla bangkit.
Baru berdiri…
ia berhenti.
Ekspresinya berubah sedikit.
Jakub langsung menyadarinya.
“What?”
Darla menggeleng.
“Nothing.”
“That wasn’t nothing.”
“Kayak…”
Ia mengerutkan hidung.
“…aneh aja.”
Jakub langsung terlihat lebih fokus.
“What feels strange?”
Darla berpikir.
“I don’t know.”
“Perut?”
“Nggak.”
“Pain?”
“Not really.”
Ia mengangkat bahu.
“Maybe I just need to pee.”
Jakub mengangguk.
“Go.”
Darla memutar mata.
“Yes, sir.”
“Don’t start.”
Darla tertawa sambil berjalan menuju kamar mandi.
⸻
Beberapa menit kemudian…
ia keluar lagi.
Jakub sedang merapikan tempat tidur seadanya.
Darla berjalan melewatinya.
Berhenti.
Kemudian menoleh.
“…That was weird.”
Jakub langsung berhenti.
“What happened?”
“Nggak apa-apa.”
“Darla.”
Darla langsung menatapnya.
“Don’t Darla me.”
“Then tell me.”
Darla mendesah.
“Kayak…”
Ia mencari kata.
“…pengen pipis, tapi pas udah ke toilet malah nggak banyak.”
Jakub mengernyit.
“Does it hurt?”
“Sedikit perih.”
Wajah Jakub langsung berubah.
Bukan panik.
Tapi jelas concerned.
Darla buru-buru mengangkat tangannya.
“Hey.”
“Sedikit.”
“I’m fine.”
Jakub masih menatapnya.
“Kita nggak harus pergi hari ini.”
“Lah.”
Darla langsung protes.
“Zoo.”
“We can go tomorrow.”
“Kita udah booking.”
“So?”
Darla menatapnya.
Jakub benar-benar tidak peduli dengan tiket.
Ia hanya peduli dengan istrinya.
Darla akhirnya tersenyum.
“Baby.”
“Hm?”
“Aku masih okay.”
Ia menyentuh lengannya pelan.
“Kalau makin nggak enak, aku bilang.”
Jakub tetap ragu.
“Promise?”
“Promise.”
“Immediately.”
“Iya.”
“Not two hours later.”
“Kuba.”
“I’m serious.”
Darla terkekeh.
“I know.”
Ia mengecup pipi Jakub cepat.
“Now relax.”
Jakub memandangnya.
“That was manipulation.”
“Did it work?”
“…A little.”
“Good.”
⸻
08.12 AM
Sarapan pagi itu lebih santai.
Mereka makan di teras villa.
Buah.
Telur.
Roti panggang.
Kopi.
Darla sudah terlihat normal lagi.
Setidaknya cukup normal sampai Jakub mulai berhenti memperhatikannya setiap tiga puluh detik.
“Kamu tuh…”
Darla akhirnya tertawa.
“What?”
“Stop checking.”
“I’m not.”
“You are.”
“I’m eating.”
“Sambil liatin aku.”
Jakub mengangkat cangkirnya.
“I often look at my wife.”
“Bukan kayak gini.”
“Like what?”
“Kayak lagi monitor pasien.”
Jakub menahan senyum.
“Occupational confusion.”
“You’re not a doctor.”
“I know.”
“Exactly.”
Jakub akhirnya tertawa.
Darla mengambil sepotong buah dari piringnya.
“Hari ini zoo.”
“Mhm.”
“Terus…”
Darla membuka ponselnya.
Jakub langsung menunjuk.
“No.”
“Hah?”
“No itinerary.”
“Aku cuma lihat Maps!”
“I know how this begins.”
Darla tertawa.
“Control freak rehabilitating another control freak?”
“Exactly.”
“That’s rich.”
⸻
09.34 AM
Bali Zoo.
Udara pagi masih cukup nyaman.
Beberapa keluarga sudah memenuhi area masuk.
Anak-anak berlarian dengan topi warna-warni.
Suara burung bersahut-sahutan dari pepohonan.
Begitu mereka masuk…
Darla langsung terlihat hidup lagi.
“Baby, look!”
Jakub mengikuti arah telunjuknya.
Seekor jerapah menjulurkan kepalanya dari kejauhan.
Darla langsung tersenyum lebar.
“Lucu banget.”
Jakub melihat jerapah itu.
Kemudian Darla.
“I think…”
“…one of you is more excited than the children.”
Darla langsung menatapnya.
“Let me live.”
“I am.”
“Without commentary.”
“That seems unreasonable.”
Darla menyenggol lengannya.
⸻
Mereka berjalan santai.
Tidak terburu-buru.
Melewati area rusa.
Burung.
Gajah.
Orangutan.
Lebih banyak melihat daripada mengambil foto.
Namun ketika sampai dekat jerapah…
Darla menyerahkan ponselnya.
“Kuba.”
“Hm?”
“Foto.”
Jakub menerima ponsel.
“Go.”
Darla berdiri beberapa meter di depannya.
Senyum.
Kemudian berubah pose.
Jakub mengambil beberapa foto.
“Done.”
Darla kembali.
“Lihat.”
Jakub menyerahkan ponselnya.
Darla scroll.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian menoleh.
“Bagus.”
“I know.”
Darla mengangkat alis.
“Pede.”
“I had a good subject.”
“Oh?”