Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #50

CHAPTER 49: Stop Googling

Monday

02.14 PM

Mobil berhenti di depan villa.

Pintu terbuka.

Darla turun lebih dulu, disusul Jakub yang membawa kantong obat dari rumah sakit.

Hari masih terang.

Bali masih sama cantiknya.

Langit biru.

Pohon-pohon bergerak pelan tertiup angin.

Kolam villa masih memantulkan cahaya matahari.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal beberapa jam sebelumnya mereka berangkat dengan rencana menghabiskan hari di Bali Zoo.

Dan sekarang mereka pulang membawa obat.

Begitu pintu villa tertutup—

Darla menjatuhkan tasnya ke sofa.

Lalu dirinya menyusul.

Ia menenggelamkan wajah ke bantal.

Diam.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Kemudian—

“…This is so embarrassing.”

Jakub yang sedang meletakkan kantong obat di meja menoleh.

“You’ve said that several times.”

Suara Darla teredam bantal.

“Because it keeps being embarrassing.”

Jakub menahan senyum.

Ia membuka botol air mineral, menuangkannya ke gelas, lalu meletakkannya di meja dekat Darla.

“Honey.”

Tidak ada respons.

“Drink.”

Satu tangan muncul dari balik bantal.

Meraba-raba meja.

Jakub mengambil gelas itu dan langsung meletakkannya ke tangan istrinya.

“Thank you.”

“You’re welcome.”

Darla akhirnya mengangkat wajah.

Ekspresinya antara kesal, malu, dan ingin tertawa pada nasib sendiri.

“Our third day.”

“Hm?”

“Third day of marriage.”

Jakub mengangguk.

“I’m aware.”

“We went to the emergency room.”

“I was also there.”

Darla menatapnya datar.

“Kuba.”

Sudut bibir Jakub bergerak.

“Sorry.”

Darla akhirnya tertawa kecil.

Kemudian menutupi wajahnya lagi.

“I had plans today.”

“So did I.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Darla perlahan menurunkan tangannya.

Tatapan mereka bertemu.

Jeda.

Satu detik.

Dua.

Darla mengangkat alis.

“…Did you?”

Jakub menyadari jebakannya terlambat.

Ia berdeham kecil.

“For the zoo.”

“Oh.”

“Obviously.”

Darla menyipitkan mata.

“Obviously.”

Jakub mengambil botol airnya sendiri.

Darla masih memperhatikannya.

Lalu keduanya gagal mempertahankan ekspresi serius.

Mereka tertawa.

Setelah tawanya reda, Darla menyandarkan kepala ke sofa.

“I feel a little guilty too.”

Senyum Jakub menghilang perlahan.

“Why?”

Darla memutar gelas di tangannya.

“I don’t know. Maybe we got… carried away.”

Jeda.

“Very carried away.”

Jakub menunduk sebentar.

Lalu terkekeh kecil karena tidak ada gunanya menyangkal.

“Yes.”

Darla meliriknya.

“See?”

“I wasn’t disagreeing.”

“Nah.”

Ia menunjuk Jakub dengan gelasnya.

“Shared responsibility.”

Jakub mengangguk.

“Absolutely.”

Namun setelah beberapa detik, ekspresinya berubah sedikit.

Lebih serius.

“I still should’ve been more careful.”

Darla langsung mengernyit.

“Kuba.”

“I mean it.”

“So do I.”

“I know, but—”

“No.”

Darla memotongnya.

“You’re not taking the whole blame.”

Jakub diam.

“We were both there, remember?”

“I remember quite clearly.”

Darla langsung memelototinya.

Jakub menahan senyum.

“Sorry.”

“Kuba!”

Kini Jakub benar-benar tertawa.

Darla mengambil bantal di sebelahnya dan memukul lengan suaminya sekali.

“I’m trying to have a serious conversation!”

“I know.”

“You’re impossible.”

“I apologize.”

Masih sambil tersenyum.

Darla menggeleng.

Namun senyumnya sendiri sudah muncul.

“Pokoknya nggak ada yang salah sendiri. We got too excited. Bad judgment. Lesson learned.”

Jakub mengangguk.

“Lesson learned.”

“And I’m okay.”

“I know.”

“It’s just a bad day.”

“I know.”

“Not the end of our honeymoon.”

Kali ini Jakub tersenyum lebih lembut.

“Definitely not.”

“Good.”

Darla mengulurkan tangannya.

Jakub menyambutnya.

Jemari mereka bertaut.

“Truce?”

Jakub mengangkat tangan mereka sedikit.

“I wasn’t aware we were fighting.”

“Just say yes.”

“Yes.”

“Nah.”

Beberapa menit kemudian Jakub masuk ke kamar mandi.

Darla tetap di sofa.

Dan setelah beberapa saat menatap langit-langit—

ia meraih ponselnya.

Nama Kak Hana ada di layar.

Darla menatapnya cukup lama.

Ia sudah tahu ini keputusan buruk.

Tetapi ia juga tahu kalau tidak cerita kepada seseorang, kepalanya akan terus memutar kejadian di ruang dokter tadi sampai malam.

Ia menekan tombol panggil.

Tak lama kemudian—

“Assalamualaikum?”

“Waalaikumsalam, Kak.”

“De?”

“Hm.”

“Kok tumben telepon siang-siang? Honeymoon gimana?”

Darla memejamkan mata.

“That’s actually why I’m calling.”

“Oh?”

“Kak.”

“Hm?”

“Promise me something.”

“Apa?”

“Don’t laugh.”

Hana terdiam.

“…Kalau pembukaannya begini aku malah takut.”

“Promise.”

“Okay. I promise.”

Darla menarik napas.

“Kita tadi ke IGD.”

Nada Hana langsung berubah.

“Hah? Kenapa? Kamu kenapa?”

“I’m fine. I’m fine now.”

“Terus?”

Darla mulai bercerita.

Tentang pagi tadi.

Tentang rasa tidak nyaman sejak sarapan.

Tentang bolak-balik toilet di Bali Zoo.

Tentang akhirnya Jakub membawa dia ke rumah sakit.

Tentang pemeriksaan dokter.

Sampai—

“…terus dokternya bilang aktivitas fisik dikurangi dulu.”

“Oh, iya. Ya bagus—”

“Jakub thought she meant the zoo.”

Sunyi.

Darla sudah tahu.

“Kak.”

Masih sunyi.

“Kak Hana.”

Ada suara napas tertahan dari seberang.

“Don’t.”

“Darla, I’m so sorry—”

“Don’t you dare.”

“HAHAHAHAHAHAHA—”

Darla langsung menjauhkan ponsel dari telinga.

“I KNEW IT!”

“MAAF! MAAF!”

Hana sudah tertawa sampai kalimatnya terputus-putus.

“Tapi—ya ampun—dia pikir—zoo?!”

“He was concerned!”

“AKU TAHU!”

“Stop laughing!”

“Aku berusaha!”

“You promised!”

“Aku terlalu percaya diri waktu janji!”

Darla menutup wajahnya.

Namun beberapa detik kemudian—

ia sendiri mulai tertawa.

“Terus dokternya bilang, ‘Saya nggak ngomong soal jalan-jalan, Pak.’”

Tawa Hana kembali pecah.

“STOP!”

“YOU BROUGHT IT UP!”

Dari sisi lain sambungan terdengar suara Faris.

“Kamu kenapa?”

“Sebentar.”

“Kenapa ketawa begitu?”

Hana rupanya menjauhkan ponsel.

Namun Darla masih bisa mendengar bisikan samar.

“Darla sama Mas Jakub…”

Lalu beberapa kata yang tidak jelas.

Sunyi.

Kemudian suara Faris terdengar.

“…Oh.”

Darla langsung menunjuk ponselnya meski tak seorang pun bisa melihat.

“JANGAN KASIH TAU MAS FARIS!”

“Too late.”

“KAK!”

Suara Faris kini terdengar sedikit lebih dekat.

“De?”

Darla menutup mata.

“…Iya, Mas.”

“You okay?”

“I am.”

“Good.”

Jeda.

Kemudian—

“Poor Mas Jakub.”

Darla membuka mata.

“Hah?”

Hana pun terdengar protes.

“Loh, kok Mas Jakub?”

Faris tertawa kecil.

“Because I know that type of man.”

“What type?”

“The one who gets worried and starts researching.”

Darla berhenti.

Hana ikut diam.

Kemudian Hana berkata pelan—

“…Actually.”

Darla mengernyit.

“What?”

“Coba cek.”

“Cek apa?”

“Suami kamu.”

“Kak, dia lagi mandi.”

“Laptopnya?”

Darla menoleh.

Di meja kerja dekat jendela—

laptop Jakub terbuka.

“…”

Oh no.

Sementara itu—

Jakub ternyata tidak langsung mandi.

Shower belum dinyalakan.

Ia berdiri beberapa detik di depan wastafel, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.

Sejak meninggalkan rumah sakit tadi, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya.

Darla bilang dia baik-baik saja.

Dokter juga sudah menjelaskan bahwa kondisinya bukan sesuatu yang perlu membuat mereka panik.

Jakub tahu itu.

Secara rasional.

Lihat selengkapnya