Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #51

CHAPTER 50: A Different Kind of Honeymoon

Monday

04.07 PM

Villa terasa jauh lebih tenang ketika mereka kembali sore itu.

Hujan turun tipis di balik pintu kaca, meninggalkan lingkaran-lingkaran kecil di permukaan kolam. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Suaranya sengaja dikecilkan, nyaris tenggelam oleh rintik air dan gesekan dedaunan di halaman.

Darla duduk berselonjor di salah satu ujung sofa dengan selimut tipis menutupi kakinya. Rambutnya telah diikat seadanya, wajahnya bersih tanpa riasan, dan semangkuk buah potong yang dibawakan Jakub hampir setengah jam lalu masih utuh di pangkuannya.

Jakub muncul lagi dari dapur kecil villa membawa sebuah nampan. Dua cangkir teh hangat ada di atasnya, bersama segelas air putih dan obat yang harus diminum Darla setelah makan.

“Tea for you, tea for me, and another glass of water before you start negotiating.”

Darla memandangi gelas itu, lalu mendongak kepadanya. “Air lagi?”

“Yes, honey. Air lagi.” Jakub meletakkan nampan di meja. “You can complain after you finish half of it.”

“Aku bahkan belum ngomong apa-apa.”

“You made the face.”

“What face?”

Jakub duduk di sampingnya, mengambil mangkuk buah dari pangkuan Darla, lalu mengangkat kedua kakinya ke atas pahanya sendiri seolah itu memang tempatnya sejak awal.

“The one that says your husband is being unreasonable.”

“Honey, aku udah minum terus dari kita keluar rumah sakit.”

“I know. I’m very proud of you.”

Darla menyipitkan mata. “Kamu ngeledek aku?”

“A little.” Senyum kecil muncul di wajah Jakub. “But I’m also trying to keep my wife away from the ER for the rest of our honeymoon, so please cooperate, kochanie.”

Darla masih memasang wajah tidak rela ketika menerima gelas itu, tetapi akhirnya minum juga. Jakub menunggu sampai beberapa teguk sebelum mengangguk puas.

“Kamu ternyata cocok juga jadi perawat.”

“The nurse was more qualified.”

“Tapi kamu lebih cerewet.”

“I can live with that.”

Tangannya turun ke pergelangan kaki Darla dan mengusapnya pelan di balik selimut.

“Now tell me properly. How are you feeling?”

“Better.”

“That’s the short answer. I want the honest one.”

Darla menahan senyum. “Beneran udah better. Masih agak nggak nyaman, tapi nggak sesering tadi.”

“No pain in your back? No chills?”

“Nggak ada. Aku juga nggak demam, Nurse Jakub.”

Jakub tetap memeriksanya sendiri. Punggung jemarinya menyentuh dahi Darla, lalu berpindah ke sisi lehernya. Setelah memastikan suhu tubuhnya terasa normal, ia mencondongkan tubuh dan mengecup kening Darla singkat.

“Good. That means I’m allowed to worry five percent less.”

“Cuma lima persen?”

“I saw you in pain two hours ago, baby. You’ll have to negotiate harder than that.”

Darla mengambil satu potong apel dari mangkuk di meja dan menggigitnya. “Ini supaya kamu nggak lihat aku kayak gitu terus.”

“Like what?”

“Kayak aku akan pingsan kalau nggak makan satu potong apel sekarang.”

“I wasn’t looking at you like that.”

“You were.”

“I was admiring my wife.”

Darla mengangkat alis. “While staring at the apple in her hand?”

“I can multitask.”

Tawa kecil Darla terdengar di antara suara hujan. Jakub mengambil cangkir tehnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain tetap berada di atas kaki Darla.

Beberapa menit mereka habiskan seperti itu—menyesap teh, mendengarkan hujan, dan sesekali mengomentari acara televisi yang bahkan tidak mereka ikuti sejak awal.

“Maaf ya, baby,” ucap Darla kemudian.

Jakub langsung menoleh. “Hey. What are you apologizing for?”

Darla menggerakkan ujung sendok di antara potongan buah. “Hari ini.”

“You didn’t schedule a UTI into our itinerary, kochanie.”

“I know, but still. We went to the zoo, left before seeing the red pandas, spent hours at the ER, terus pulang bawa obat.” Ia melirik deretan obat di atas meja. “That sounds pretty ruined to me.”

Jakub mengusap betisnya pelan. “No, honey. It changed. That’s not the same as ruined.”

“Di hari ketiga honeymoon kita.”

“Then we had one terrible afternoon on the third day of our honeymoon.” Ia mengangkat bahu ringan. “We still have tonight, tomorrow, and several red pandas waiting for you.”

“Kamu yakin mereka masih nungguin aku?”

“I checked.”

Darla menatapnya tidak percaya. “Kamu ngecek lagi?”

“Of course. I married a woman who is emotionally invested in one very specific animal. I have responsibilities now.”

Darla tertawa, lalu menyenggol perutnya dengan ujung kaki. “Nyebelin.”

Jakub menangkap kaki itu sebelum sempat ditarik kembali dan menahannya di atas paha. “Careful. I’m still in charge of your medicine.”

“Nah, kan. Power abuse.”

“And yet you married me willingly.”

Senyum Darla belum hilang, tetapi rasa bersalah di wajahnya juga belum sepenuhnya pergi.

“Harusnya kita jalan-jalan,” katanya. “Kamu udah bikin itinerary sebagus itu.”

“And I can move it. I’m very powerful like that.”

“Kamu yang paling rajin ngecek itinerary itu tiap pagi.”

“Because I made it for you, baby. Not because Bali will fine us if we miss a stop.” Jakub menaruh cangkirnya, lalu menatapnya dengan lebih serius. “I came here to be with you. If today means drinking tea in the villa while you complain about water, then that’s what we do. I’m not keeping score.”

Darla memandangnya beberapa detik. “So you came to Bali only to spend time with me?”

Tatapan Jakub berubah samar. Ia memiringkan kepala, seolah sedang mempertimbangkan seberapa jujur jawaban yang sebaiknya diberikan.

“That,” katanya akhirnya, “and before this afternoon, I had a few other plans involving my wife.”

Darla menahan tawa. “Honey!”

“What?”

“Dokter baru aja melarang.”

“I heard him. Very clearly.” Jakub ikut tertawa. “He made eye contact with me for an unnecessarily long time.”

Lihat selengkapnya