Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #52

CHAPTER 51: The Best Table

Monday

07.12 PM


Hujan telah benar-benar berhenti ketika Darla berdiri di depan cermin kamar.


Udara malam yang masuk dari pintu teras terasa lebih sejuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan dari halaman villa. Di luar, titik-titik air yang masih menempel pada daun memantulkan cahaya lampu taman.


Darla baru bangun setengah jam lalu. Tidur singkat di dada Jakub rupanya cukup untuk membuat tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Rasa tidak nyaman yang sejak siang mengganggunya juga sudah berkurang, meskipun belum sepenuhnya hilang.


Ia merapikan sisi pashmina krem di depan bahu, lalu memperhatikan pantulan dirinya sekali lagi. Malam itu ia memilih gamis sederhana bermotif kecil, tidak terlalu formal, tetapi cukup membuatnya merasa segar setelah menghabiskan sebagian besar sore di balik selimut.


Jakub muncul dari arah kamar mandi sambil memasang jam tangan.


Kemeja linen putih yang mereka beli sehari sebelumnya akhirnya ia kenakan. Dua kancing teratas dibiarkan terbuka dan lengan bajunya digulung sampai siku. Rambutnya masih sedikit lembap, jatuh tanpa banyak diatur di atas dahi.


Darla menoleh dan tanpa sadar menatapnya sedikit lebih lama.


“Cocok.”


Jakub mengikuti arah pandangnya ke kemeja yang ia pakai. “The shirt?”


“Iya. Untung kemarin jadi dibeli.”


“You were very persuasive.”


“Aku cuma bilang bagus.”


“Three times.” Jakub berdiri di belakangnya, menatap pantulan mereka di cermin. “I trusted my stylist.”


Darla tertawa kecil. “I’m not your stylist.”


“No?”


“I’m your wife.”


“Even better.”


Jawaban itu keluar tanpa ragu. Jakub menunduk untuk mengambil sehelai benang kecil yang menempel di bahu gamis Darla, lalu mengecup pelipisnya dari samping.


“You look beautiful, by the way.”


“By the way?” Darla mengangkat alis melalui cermin. “Kayak tambahan yang baru diingat.”


“I noticed the moment I walked out.” Senyum tipis muncul di wajah Jakub. “I was distracted by the way you were looking at me.”


“Aku lihat kemejanya.”


“Of course, honey.”


Darla berbalik dan merapikan satu lipatan kecil pada kerah kemeja itu. “Confidence kamu naik sejak nikah.”


“My wife keeps staring at me. It’s becoming difficult to remain humble.”


“Siapa yang staring?”


“You.”


“Fitnah.”


Jakub tertawa kecil. Kedua tangannya singgah di pinggang Darla, menahannya di sana ketika perempuan itu hendak menjauh.


“Before we go,” katanya, kali ini lebih lembut, “are you sure you feel well enough for dinner? We can eat here. I won’t mind.”


“I’m sure, baby. Restorannya juga dekat, kan?”


“About fifteen minutes.”


“Aku udah jauh lebih enakan. Terus aku harus makan sebelum minum obat.” Darla menepuk pelan dadanya. “So, yes. Kita pergi.”


Jakub masih mempelajari wajahnya sejenak, mencari tanda bahwa ia hanya memaksakan diri.


“Okay,” katanya akhirnya. “But if anything starts hurting again, you tell me. We leave immediately.”


“Yes, Nurse Jakub.”


“Husband,” koreksinya sambil mengambil tas kecil Darla dari atas tempat tidur. “Much more persistent.”


⸻


Restoran itu berada sedikit menjauh dari jalan utama, tersembunyi di balik barisan pohon dan jalan masuk berbatu yang masih basah oleh hujan.


Bangunannya tidak terlalu besar. Lampu-lampu gantung menyala hangat di bawah langit-langit kayu, sementara bagian belakang restoran terbuka langsung ke hamparan sawah yang kini gelap. Di kejauhan, beberapa lampu kecil dari rumah penduduk terlihat tersebar di antara garis pepohonan.


Tidak ada musik keras. Hanya alunan instrumental yang samar, suara serangga malam, dan percakapan pelan dari beberapa meja yang terisi.


Seorang pelayan menghampiri mereka di pintu masuk.


“Selamat malam.”


“Selamat malam. Reservasi atas nama Mr. Zieliński,” kata Jakub.


Pelayan itu memeriksa daftar di hadapannya, lalu tersenyum. “Betul, Pak. Silakan ikut saya.”


Mereka dibawa melewati beberapa meja sebelum berhenti di sisi paling ujung. Hanya ada satu meja lain di dekatnya, terpisah cukup jauh oleh beberapa pot tanaman. Dari sana, pandangan mereka terbuka langsung ke sawah, tanpa terhalang kursi atau orang yang berlalu-lalang.


Mata Darla seketika berbinar.


“Baby, this is beautiful.”


Jakub menarik kursi untuknya. “I had a feeling you’d like it.”


Darla duduk, lalu kembali memandang sawah di hadapan mereka. “Kita beruntung banget dapat meja ini.”


“It wasn’t luck.”


Darla menoleh. “Hah?”


Jakub duduk di seberangnya dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengungkapkan sesuatu. “I called this afternoon and asked for the quietest table they had.”


“Kamu sempat telepon restoran juga?”


“While you were asleep.”


“Aku kira kamu cuma mindahin itinerary besok.”


“I’m capable of doing two things in one afternoon, kochanie.”


“Why the quietest one?”


Jakub membuka serbet dan meletakkannya di pangkuan. “You said yesterday that happiness doesn’t have to be loud. I thought we could test the theory over dinner.”


Darla memandangnya beberapa detik. “Aku ngomong gitu?”


“You did.”


“And you remembered?”


“I remember most things you tell me.” Jakub mengambil gelas air di hadapannya, lalu menambahkan, “Especially when they help me secure a very good table.”


Senyum Darla melebar. “So romantic, but still trying to act practical.”


“I arranged a chair, baby.”


“A chair with the best view.”


“A very good chair,” ia mengakui.


Pelayan datang membawa dua buku menu sebelum Darla sempat menggodanya lebih jauh. Setelah menjelaskan beberapa rekomendasi malam itu, ia meninggalkan mereka untuk memilih.


Darla membuka menu dan langsung membaca dari bagian pertama. Jakub membalik dua halaman, memperhatikannya sebentar, lalu meletakkan buku itu kembali di atas meja.


“Already?” tanya Darla. “Kamu udah tahu mau pesan apa?”


“I know I want you to choose.”


Darla mengangkat wajah. “Serius?”


“Pick a few things you think I should try. We’ll share.”


“Kamu bahkan belum baca semuanya.”


“I read enough to know that you’ve already decided what looks good.” Jakub menunjuk sudut menu Darla. “You’ve been staring at the same two dishes for almost a minute.”


Darla mengikuti arah telunjuknya, lalu menutup sebagian menu seolah baru saja tertangkap basah. “Maybe aku masih mikir.”


“Of course.”


“Kalau pilihanku nggak enak gimana?”


“Then I’ll eat it politely and complain to my wife later.”


“No refund.”


“That seems unfair.”


“Kalau enak?”


“I’ll admit you were right, which I understand is one of your favorite things.”


Darla menyandarkan punggung sambil tersenyum puas. “Win-win for me.”


“Marriage appears to be working exactly as you planned.”


Pada akhirnya, Darla memilih beberapa hidangan untuk mereka bagi berdua. Jakub hanya menambahkan satu pesanan setelah Darla selesai, semata-mata karena menurutnya tidak mungkin mereka datang ke tempat dengan daftar dessert sepanjang itu tanpa mencoba salah satunya.


“Katanya aku yang pilih,” protes Darla.


“You chose dinner. I’m protecting dessert.”


“Padahal belum tentu habis.”

Lihat selengkapnya