Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #53

CHAPTER 52: The Unexpected Tide

Tuesday

11.42 AM


Pantai Sanur tidak seramai yang Darla bayangkan.


Matahari sudah meninggi, tetapi angin dari laut membuat udara tetap terasa ringan. Beberapa wisatawan berjalan tanpa alas kaki di bibir pantai. Sepasang anak kecil berlarian mengejar ombak yang nyaris tidak bergelombang, sementara perahu-perahu berwarna cerah tampak diam jauh di atas air.


Setelah suara kendaraan dan deretan bangunan yang mereka lewati sepanjang perjalanan, ketenangan itu terasa seperti sesuatu yang baru saja dibuka perlahan di hadapan mereka.


Darla menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan puas.


“Enak banget.”


“It is.”


Jakub berdiri di sampingnya dengan satu tangan masuk ke saku celana. Kacamata hitam bertengger di hidungnya, sementara kemeja linen putih yang dikenakannya bergerak ringan tertiup angin.


Darla, di sisi lain, masih sibuk menyelamatkan ujung pashmina kremnya yang sudah tiga kali terbang ke depan wajah.


“Aku kelihatan berantakan nggak?” tanyanya.


Jakub menoleh dan mempelajarinya sejenak.


“A little windswept.”


“Itu bahasa halus dari berantakan?”


“It’s the more romantic version.”


Darla mendengus pelan, tetapi senyumnya muncul juga. Ia membenahi sisi pashmina di dekat pipi sebelum menoleh ke hamparan laut sekali lagi.


“Baby.”


“Hm?”


“Foto.”


Jakub menurunkan pandangan kepadanya. “Now?”


“Iya. Sebelum aku makin berantakan.”


Ia menyerahkan ponselnya, lalu berjalan beberapa langkah mendekati air. Jakub menerima tugas itu tanpa protes. Ia berdiri cukup jauh, mengangkat ponsel, dan memandang layar dengan keseriusan yang selalu membuat Darla merasa sedang difoto untuk keperluan yang jauh lebih penting daripada koleksi honeymoon mereka.


“Aku mau lautnya masuk semua,” kata Darla.


“Then move a little to your left.”


Darla bergeser ke kanan.


“Your other left, kochanie.”


Ia langsung tertawa. “Yang mana, sih?”


Jakub menunjuk dengan tangannya. “That one.”


“Kenapa dari tadi nggak langsung tunjuk?”


Senyum kecil muncul di balik wajahnya yang masih tampak serius. “I wanted to see how long it would take.”


“I hate you.”


“You don’t.”


Klik.


Jakub mengambil foto tepat ketika Darla masih tertawa. Ia tidak memberinya waktu untuk kembali berpose. Dua foto berikutnya diambil ketika Darla menahan pashminanya dengan satu tangan dan memicingkan mata ke arah matahari.


“Udah?”


“One more.”


“Katanya one more dari tadi.”


Jakub hanya menggerakkan telunjuknya, menyuruh Darla tetap di tempat. Setelah beberapa kali menekan layar, ia akhirnya menurunkan ponsel.


Darla segera menghampirinya dan berdiri rapat di sisinya untuk melihat hasilnya. Beberapa foto pertama terlihat seperti yang ia minta, laut terbentang luas di belakangnya, warna biru pucat bertemu dengan langit yang hampir tanpa awan. Namun sebagian besar foto berikutnya justru menangkapnya ketika tidak sedang menatap kamera.


Ada foto saat ia tertawa karena salah arah. Ada ketika tangannya sibuk menahan pashmina. Ada pula satu foto ketika ia sedang menunduk, dengan senyum yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.


“Kok candid semua?”


“Not all of them.”


“Yang bagus malah pas aku nggak siap.”


Jakub menoleh kepadanya. “You looked happy.”


Jawaban itu membuat keluhan Darla berhenti sebelum sempat diteruskan.


Ia kembali melihat foto di layar, memperbesar salah satunya, lalu berusaha menyembunyikan senyum puas yang tentu saja tetap dilihat oleh Jakub.


“Bagus,” akunya akhirnya.


“I know.”


Darla menyenggol lengannya. “Sombong.”


Jakub mengembalikan ponselnya, kemudian menggenggam tangan Darla sebelum perempuan itu sempat menjauh. “You’re welcome.”


Mereka melanjutkan berjalan di sepanjang bibir pantai.


Tidak ada tujuan tertentu yang sedang dikejar. Kadang-kadang Darla berhenti untuk mengambil gambar perahu atau anjing kecil yang berlari di dekat pemiliknya. Kadang Jakub menariknya sedikit menjauh ketika ombak datang lebih jauh daripada yang mereka perkirakan. Selebihnya, mereka hanya berjalan dengan tangan bertaut dan membiarkan angin memenuhi keheningan di antara mereka.


Hampir setengah jam kemudian, Darla mulai memperhatikan deretan tempat makan yang terlihat di kejauhan.


“Mak Beng masih jauh?” tanyanya.


“Not far.” Jakub melirik jam tangan. “Are you hungry?”


“Mulai.”


“Then we should go before ‘mulai’ becomes an emergency.”


Darla hendak membalas ketika sebuah suara terdengar dari belakang mereka.


“Darla?”


Langkahnya berhenti.


Bukan perlahan. Bukan pula karena ia perlu memastikan bahwa suara itu benar-benar ditujukan kepadanya. Tubuhnya mengenali panggilan tersebut lebih cepat daripada pikirannya.


Jemari yang bertaut dengan Jakub mendadak diam.


Darla menoleh.


Seorang laki-laki berdiri sekitar lima meter dari mereka dengan kaus abu-abu, celana pendek gelap, dan kacamata hitam yang diselipkan di atas kepala. Sebuah tote bag menggantung di salah satu bahunya. Wajahnya menunjukkan campuran antara terkejut, tidak percaya, dan rasa geli seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang terlalu kebetulan untuk masuk akal.


“Ya ampun,” katanya, lalu tertawa pendek. “Beneran kamu.”


Nama itu keluar dari mulut Darla hampir seperti refleks.


“Adrian.”


Jakub tidak bergerak, tetapi perhatiannya berubah sepenuhnya.


Nama itu tidak asing baginya. Selama ini Adrian hanya hadir sebagai bagian dari masa lalu yang pernah diceritakan Darla tanpa wajah, tanpa suara, dan tanpa kemungkinan berdiri beberapa meter dari mereka di tengah honeymoon.

Lihat selengkapnya