Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #54

CHAPTER 53: Mak Beng

Tuesday

12.27 PM


Jarak dari pantai menuju Mak Beng sebenarnya tidak terlalu jauh.


Namun perjalanan singkat itu terasa lebih panjang karena tidak ada musik yang menyala di dalam mobil. Hanya suara pendingin udara, kendaraan yang sesekali melintas, dan petunjuk dari aplikasi navigasi yang memecah keheningan setiap kali Jakub harus berbelok.


Ia mengemudi dengan satu tangan. Tangan yang lain bertumpu di dekat persneling, sementara garis rahangnya masih terlihat lebih tegas daripada biasanya.


Darla telah meliriknya empat kali sejak mereka meninggalkan pantai.


Pada lirikan kelima, Jakub akhirnya berkata, “You’re staring at me.”


“Aku lagi lihat suamiku.”


“For a very long time.”


“Kamu diem banget.”


“I’m driving.”


“You can do both.”


“Apparently, so can you.” Jakub meliriknya singkat. “You’ve been thinking very loudly.”


Darla mengembuskan napas kecil. “Aku lagi nunggu kamu ngomong.”


“I already told you how I feel.”


“Jealous and annoyed.”


“Still accurate.”


Jawabannya begitu datar hingga Darla hampir tertawa. Hampir.


Ia kembali memandang jalan di depan mereka. “Terus kita mau diem-dieman sampai kapan?”


“We’re not giving each other the silent treatment, kochanie.” Tangan Jakub berpindah untuk membelokkan kemudi. “I would like to eat before we continue this conversation.”


“Kenapa harus makan dulu?”


“Because I was already hungry before Adrian appeared, and hunger is not improving my opinion of him.”


Kali ini tawa kecil benar-benar lolos dari bibir Darla.


“Dia nggak lagi diadili, baby.”


“Good.” Jakub memandang kaca spion. “I don’t think I would be impartial.”


Darla menggeleng, tetapi ketegangan di dadanya berkurang sedikit.


Setidaknya Jakub masih mau membiarkannya masuk. Ia tidak sedang membangun dinding atau menarik diri ke tempat yang tidak bisa dijangkau Darla. Kekesalan itu tetap ada, jelas terlihat, tetapi tidak diarahkan kepadanya.


Ketika mobil berhenti di dekat restoran, Jakub turun lebih dahulu. Ia berjalan mengitari bagian depan mobil dan membukakan pintu untuk Darla seperti yang selalu ia lakukan sejak mereka tiba di Bali.


Tangannya terulur.


Darla menerimanya.


Jakub tidak langsung melepaskan tangan itu bahkan setelah Darla berdiri di sampingnya. Jemari mereka tetap bertaut ketika ia mengunci mobil dan membawa Darla menyeberang menuju restoran.


Gerakan sederhana itu menjawab satu pertanyaan yang belum sempat Darla ucapkan.


Apa pun yang baru saja muncul dari masa lalunya, Jakub tidak akan menghukumnya dengan jarak.


⸻


Mak Beng sudah dipenuhi pengunjung ketika mereka tiba.


Aroma ikan goreng dan kuah panas menyambut sejak pintu masuk. Suara piring beradu, percakapan dari meja-meja yang letaknya berdekatan, serta pelayan yang memanggil pesanan membuat suasananya bertolak belakang dengan restoran tenang yang mereka datangi malam sebelumnya.


Tidak ada meja di ujung ruangan dengan pemandangan sawah. Tidak ada musik instrumental atau jarak yang sengaja diciptakan agar dua orang bisa berbicara tanpa didengar siapa pun.


Hanya ada satu meja kosong di dekat jendela, cukup untuk dua orang, dengan permukaan yang masih sedikit basah setelah dibersihkan terburu-buru.


Jakub menarik kursi untuk Darla sebelum duduk di seberangnya.


Seorang pelayan menghampiri mereka hampir bersamaan dengan Jakub meletakkan kacamata hitamnya di atas meja.


“Dua paket, ya?” tanyanya.


Darla mengangguk. “Iya, dua.”


“Minumnya?”


Jakub menoleh kepada Dea.


Tatapan itu sudah cukup untuk membuatnya tahu jawaban apa yang diharapkan.


“Air mineral dua,” kata Darla sebelum suaminya sempat berbicara.


“Good choice,” ujar Jakub setelah pelayan pergi.


Darla menyipitkan mata. “Jangan mulai.”


“I didn’t say anything.”


“Muka kamu bilang banyak.”


“You told me last night I was becoming easier to read.”


“Aku mulai menyesal.”


Senyum kecil muncul di sudut bibir Jakub, tetapi tidak bertahan lama. Pandangannya turun ke meja, lalu beralih ke jalan di balik jendela.


Darla memutar cincin di jarinya pelan.


“Baby.”


“Hm?”


“Kamu pengin aku mulai dari mana?”


Jakub kembali menatapnya. “I don’t want a report.”


“Aku tahu.”


“And I’m not going to interrogate you.”


“Former prosecutor menahan diri?”


“With considerable effort.”


Darla tersenyum tipis. Jakub tidak.


Laki-laki itu menyandarkan punggung ke kursi, lalu memandangnya dengan perhatian yang tenang dan utuh.


“I want to know what seeing him did to you,” katanya.


Pertanyaan itu membuat jemari Darla berhenti bergerak di atas cincinnya.


“Did to me?”


“You froze when he called you.” Jakub berhenti sejenak. “Then you looked at him for several seconds after he left.”


Tidak ada tuduhan di dalam suaranya. Justru karena itulah Darla tahu ia harus menjawab tanpa sekadar mengatakan tidak ada apa-apa.


Ia menurunkan kedua tangannya ke pangkuan.


“Awalnya shock,” katanya. “Kayak otakku tahu itu Adrian, tapi tetap nggak ngerti kenapa dia bisa ada di depan aku. Di Bali. Pas kita honeymoon.”


Jakub mendengarkan tanpa menyela.


“Terus waktu dia pergi…” Darla mencari kata yang tepat. “Aneh.”


“Aneh how?”


“Kayak ada bagian hidup aku yang selama ini cuma ada di ingatan, terus tiba-tiba jalan ke arah aku dan mulai ngomong.” Ia mengembuskan napas perlahan. “Aku tahu orangnya. Aku masih ingat cara dia ngomong, cara dia bercanda. Tapi hidup yang ada di sekitar dia itu udah nggak terasa kayak hidup aku.”


Tatapan Jakub tidak meninggalkan wajahnya.


“I didn’t look at him and wonder what would have happened if we were still together,” lanjut Darla. “Aku lihat dia, terus yang paling terasa justru… itu benar-benar sudah selesai.”


Jakub menunduk sebentar. Ibu jarinya mengusap sisi telunjuknya sendiri, satu-satunya tanda bahwa kalimat Darla sedang diproses lebih dalam daripada yang terlihat di wajahnya.


“Okay,” katanya akhirnya.


“Cuma okay?”


“I’m letting it settle.”


Darla mengangguk kecil. Ia berusaha memberi Jakub waktu seperti yang tadi diminta laki-laki itu, tetapi pikirannya sendiri tidak ikut diam.


“Aku nggak kangen dia,” tambahnya. “Kalau itu yang kamu khawatirkan.”


“I wasn’t worried you would leave the beach with him.”


“Aku tahu, tapi…”


“Darla.” Suara Jakub tetap lembut. “I believe you.”


Pelayan datang membawa dua botol air beserta gelas. Percakapan mereka terpaksa berhenti ketika botol-botol itu dibuka dan diletakkan di meja.


Jakub menuangkan air ke gelas Darla lebih dahulu.


“Minum,” katanya.


Darla menatap gelas itu, kemudian menatapnya. “Kamu lagi ganti topik?”


“No. Your antibiotics did not stop mattering because Adrian appeared.”


Darla menurut dan minum beberapa teguk. Baru setelah gelas itu diletakkan kembali, Jakub meneruskan.


Lihat selengkapnya