Tuesday
05.48 PM
Sore sudah hampir habis ketika mereka berhenti di salah satu titik pandang di Ubud.
Di balik pagar kayu, sawah membentang dalam warna hijau dan kuning keemasan. Matahari turun pelan di ujungnya, membuat permukaan air di sela-sela padi sesekali memantulkan cahaya. Angin sore terasa lebih dingin daripada udara Sanur siang tadi.
Darla berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pagar. Sejak turun dari mobil, ia hanya beberapa kali mengomentari pemandangan. Selebihnya, ia diam.
Jakub tidak mengganggunya. Ia berdiri di samping Darla, cukup dekat hingga lengan mereka sesekali bersentuhan, tetapi tidak mencoba mengisi setiap jeda.
“Beautiful,” ucap Darla akhirnya.
“It is.”
Mereka kembali memandang sawah.
“Capek?” tanya Jakub beberapa saat kemudian.
“Sedikit.”
“Physically?”
Darla menggeleng. “Emotionally, maybe.”
“I thought so.”
Ia menoleh. “Kelihatan banget?”
“Only because I’ve been watching you all day.”
“Kalau orang lain?”
“They would probably think you’re enjoying the view.”
“Bagus.” Darla mengembuskan napas panjang, lalu kembali menghadap ke depan. “Berarti aku masih kelihatan normal.”
“You unexpectedly met someone who used to matter to you, kochanie. I’d be surprised if you weren’t tired.”
Jemari Darla bergerak pelan di atas pagar. Percakapan mereka di Mak Beng sudah membuat dadanya jauh lebih ringan. Ia tahu Jakub tidak marah kepadanya. Ia juga sudah mengatakan semua yang dibutuhkan suaminya saat itu.
Namun pertemuan di pantai tadi masih menyisakan banyak hal untuk dipikirkan. Bukan cuma soal Adrian. Untuk pertama kalinya, masa lalu Darla muncul langsung di hadapan pernikahan mereka yang baru berumur beberapa hari.
“Baby.”
“Hm?”
“Kamu takut nggak sih nikah sama orang yang punya masa lalu?”
Jakub menoleh. “Is that what you think I’m feeling?”
“Aku nggak tahu.” Darla mengangkat satu bahu. “Kamu baru beberapa hari jadi suamiku, terus mantan aku yang hampir tiga tahun pacaran sama aku tiba-tiba muncul pas honeymoon kita. Kalau aku di posisi kamu, mungkin aku juga akan mikir macam-macam.”
“I did think many things.”
“Nah.”
“But I wasn’t afraid of your past.”
Darla memperhatikan wajahnya. “Really?”
“Really.” Jakub kembali memandang sawah. “Everyone has one.”
Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan, “Including me.”
“Kamu?”
Senyum tipis muncul di wajah Jakub. “A different kind, but yes. There are years of my life you weren’t there for. Things that changed me before I knew you existed.”
Darla tidak langsung bertanya lebih jauh. Jakub baru membuka sedikit cerita tentang dirinya. Untuk sekarang, itu cukup.
“Terus apa yang bikin kamu takut?” tanyanya.
Jakub berpikir cukup lama sebelum menjawab.
“The blanks.”
“Maksudnya?”
“The things I don’t know.” Ia menggeser tangannya di atas pagar, lebih dekat ke tangan Darla. “If I’m not careful, I can fill them in myself. Decide what you felt, what you meant, or what seeing him must have done to you without actually asking.”
Darla mengangguk pelan. “Makanya kamu tanya langsung waktu makan.”
“Yes. I would rather hear something uncomfortable from you than believe a convenient story I made up in my head.”
“Terus menghukum aku gara-gara cerita yang kamu bikin sendiri.”
Tatapan Jakub beralih kepadanya. “Exactly. I don’t want to do that to you.”
Darla merapatkan bibir. Ada rasa hangat yang pelan-pelan memenuhi dadanya, bercampur dengan lelah yang sejak siang belum benar-benar hilang.
“Untung aku nikah sama orang yang sabar,” katanya.
Jakub tertawa pendek. “You saw me at lunch. I wasn’t particularly graceful.”
“Kamu bilang kamu jealous, annoyed, dan nggak suka Adrian setelah kenal dia lima menit. I know.”
“Very patient of me.”
“Tapi kamu ngomong. Kamu nggak bikin aku nebak sendiri.”
“I’m learning.”
Angin berembus lebih kencang. Ujung pashmina Darla terangkat, diikuti beberapa helai rambut yang lolos di dekat pelipisnya. Jakub mengangkat tangan dan merapikannya tanpa banyak pikir, lalu menahan sisi kain itu sebentar sampai tidak lagi mengenai wajah Darla.
“Thanks,” ucap Darla.
Jakub hanya mengangguk kecil. Tangannya turun, tetapi tidak kembali ke pagar. Ia membiarkannya berada di antara mereka, dekat dengan tangan Darla.
“Aku boleh nanya satu lagi?”
“Always.”
“Waktu Adrian datang tadi, apa yang pertama kali kamu pikirin?”
“Honestly?”
“Iya. Yang jujur. Bukan yang udah kamu rapihin.”
Jakub menarik napas pelan. “At first, I thought I didn’t like the way he said your name.”
Darla tertawa kecil. “Itu aku udah tahu.”
“Then I wondered what you were like when he knew you.”
Tawanya mereda.
Jakub tidak tampak marah saat mengatakannya. Ekspresinya justru lebih tenang daripada ketika mereka duduk di Mak Beng.
“He mentioned how you plan things, and you immediately knew what he was talking about,” lanjutnya. “You had an old rhythm with him. I hated hearing it, but it also made me realize there’s a version of you I’ve never met.”
Darla menunduk sebentar. “Darla umur dua puluh tiga.”
“Yes. Darla at her first job. Darla before all the things that happened between then and now.” Tatapan Jakub menetap di wajahnya. “I know the woman I married. I’m not wishing you were someone else. I just found myself wondering who you were before Allah brought you to me.”
Tenggorokan Darla terasa mengencang.
“Kenapa kamu pengin tahu?”
“Because she’s part of you.” Jakub mengangkat bahu kecil. “And I want to know you. As much as you’re willing to let me.”
Darla tidak segera menjawab. Ia hanya menggeser tangannya sampai ujung jemarinya menyentuh punggung tangan Jakub.
Jakub membalik telapak tangannya, lalu menyelipkan jemari mereka.
“Aku dulu lebih childish,” kata Darla setelah beberapa saat.
“That’s difficult to imagine.”
Darla menoleh tajam. “Maksud kamu aku masih childish?”
“I said it was difficult to imagine.” Wajah Jakub tetap tenang, tetapi sudut bibirnya sudah terangkat. “You decided what it meant all by yourself.”
“Oh, sekarang pakai teori assumptions buat ngeledek aku?”
“I’m applying what we learned.”
Darla menyenggol lengannya dengan bahu. Jakub tertawa pelan, lalu mengangkat tangan mereka yang masih bertaut dan mengecup punggung tangan Darla.
“You don’t have to tell me today,” katanya.
Darla memandang matahari yang tinggal menyisakan setengah lingkaran di ujung sawah. “Maybe I want to.”
“Then I’ll listen.”
“Nanti.”
“Whenever you’re ready, kochanie.”
Mereka tetap di sana sampai matahari benar-benar hilang. Jakub tidak melepaskan tangannya. Darla pun tidak meminta.
⸻
Langit sudah berubah ungu ketika mobil memasuki jalan menuju villa.
Mereka tidak terus mengobrol sepanjang perjalanan pulang, tetapi suasananya jauh lebih ringan daripada saat meninggalkan Sanur. Sesekali Darla menunjukkan sesuatu di luar jendela atau mengomentari pengendara motor yang berhasil membawa terlalu banyak barang sekaligus. Jakub menjawab, lalu kabin kembali sunyi dengan sendirinya.
Darla sedang menyusun cerita yang ingin ia sampaikan. Jakub tahu itu dan tidak mendesaknya.
Begitu sampai, Darla melepas sepatunya di depan pintu dan mengembuskan napas lega.
“Ya Allah, capek.”
Jakub menutup pintu di belakang mereka. “Long day.”
“Very.” Darla berjalan masuk sambil membuka peniti pashminanya. “Aku mau mandi terus nggak bergerak lagi sampai besok.”
“You’ll have to move once for your antibiotics.”
Darla menoleh dengan wajah tidak rela. “Kamu inget terus, ya?”
“One of us has to.”
Pashmina itu akhirnya terlepas. Darla meletakkannya di sandaran kursi, lalu mengurai ikatan rambutnya. Rambut panjangnya jatuh melewati bahu, sedikit kusut setelah seharian tertutup. Ia mengacak bagian atasnya dengan kedua tangan.
“Nah,” katanya puas. “Baru bisa napas.”
Jakub yang sedang meletakkan kunci mobil menoleh. Tatapannya tinggal beberapa detik lebih lama daripada yang diperlukan.
Darla menangkapnya melalui pantulan pintu kaca.
“What?”
“Nothing.”
“Jangan nothing. Kamu liatin aku.”
“I did.”
Darla berbalik menghadapnya. “Kenapa?”
Jakub tampak mempertimbangkan jawabannya. “I’m still getting used to it.”
“Sama rambut aku yang berantakan?”