Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #56

CHAPTER 55: The Wrong Person

Wednesday

02.07 AM


Getaran pendek dari atas nakas membuat Jakub membuka mata.


Ia tidak langsung bergerak. Kamar masih gelap, pendingin ruangan berdengung pelan, dan Darla tertidur menghadap ke arahnya dengan satu tangan terselip di bawah bantal. Rambutnya menyebar sampai menutupi sebagian wajah.


Layar ponsel di sisi Darla sempat menyala, lalu kembali padam.


Jakub memejamkan mata lagi.


Beberapa detik kemudian, ponsel itu kembali bergetar.


Sekali.


Lalu sekali lagi.


Darla mengerutkan hidung dalam tidur dan menggeser wajahnya lebih dalam ke bantal.


Jakub melirik jam digital di dekat televisi.


02.07 AM.


“Who is texting you at two in the morning?” gumamnya.


Tidak ada jawaban, tentu saja.


Getaran berikutnya membuat Jakub akhirnya bangkit sedikit. Ia menjangkau ponsel itu hanya untuk mematikan suaranya sebelum Darla benar-benar terbangun. Namun saat layar menyala di tangannya, nama yang muncul membuat gerakannya berhenti.


Adrian sent you a message.


Di bawahnya ada beberapa notifikasi lain dari akun yang sama.


Jakub menatap layar lebih lama daripada yang seharusnya.


Pertemuan siang tadi langsung kembali kepadanya. Cara Adrian memanggil Darla seolah tidak ada tahun-tahun yang lewat di antara mereka. Tatapannya ketika melihat cincin di jari Darla. Lalu kalimat yang sempat ia ucapkan sambil tertawa kecil.


Gila. Cepet banget.


Ponsel kembali bergetar di telapak tangannya.


Adrian sent another message.


Jakub menoleh kepada istrinya.


Darla masih tertidur pulas. Setelah seharian sakit, minum antibiotik, lalu duduk bersamanya sampai lewat tengah malam untuk menceritakan semua yang ingin ia ketahui, perempuan itu akhirnya bisa beristirahat.


Jakub tidak curiga Darla menyembunyikan sesuatu darinya. Ia bahkan tidak berpikir Darla sudah lebih dahulu berbicara dengan Adrian. Kalau ada satu hal yang ia yakini setelah malam tadi, itu adalah Darla telah mengatakan yang sebenarnya.


Namun tujuh pesan pada pukul dua pagi tetap terasa salah.


Ia bisa membangunkan Darla.


Seharusnya memang begitu.


Jempolnya berhenti di atas layar.


Jakub tahu kode ponsel itu. Darla sendiri yang memberikannya beberapa hari lalu ketika memintanya membuka surel konfirmasi villa sementara ia mandi.


Enam angka itu masuk dengan terlalu mudah.


Sesaat setelah percakapan terbuka, Jakub tahu ia baru saja membuat pilihan yang tidak bisa disebut tidak sengaja.


Pesan-pesan Adrian memenuhi layar.


Adrian


You awake?


Sorry. Ignore that.


Actually, don’t.


I know it’s late.


I lied this afternoon.


Jakub membaca pesan berikutnya lebih perlahan.


When I said I was happy for you, that part was true.


But I wasn’t honest about the rest.


I can’t stop thinking about seeing you introduce someone as your husband.


I didn’t expect it to feel like that.


Tanda sedang mengetik muncul di bagian bawah layar. Menghilang. Lalu muncul kembali.


Three years, Darla.


I know we’re over. I’m not asking you to change anything.


But was I really that easy to replace?


Rahang Jakub mengeras.


Pesan lain masuk sebelum ia selesai membaca.


I know this sounds pathetic.


I just need to know I didn’t imagine what we were.


Tell me honestly.


Had you already stopped loving me before you met him?


Setelah itu, tidak ada lagi tanda sedang mengetik.


Jakub memandangi pertanyaan terakhir tersebut.


Ia tahu jawabannya. Darla baru saja memberikannya beberapa jam lalu di teras villa, bukan karena dipaksa, bukan karena sedang membela diri, tetapi karena ia ingin Jakub mengenal perempuan yang pernah menjadi dirinya.


Cerita itu diberikan kepada suaminya.


Bukan kepada Adrian.


Jakub seharusnya mengunci layar dan meletakkan ponsel itu kembali.


Sebaliknya, ia menyentuh kolom balasan.


Kalimat pertama keluar tanpa banyak pikir.


Do not contact my wife again.


Jakub membaca lima kata itu, lalu menghapusnya.


Terlalu mudah. Terlalu terdengar seperti awal pertengkaran yang hanya akan mengubah Darla menjadi sesuatu yang sedang diperebutkan.


Ia mencoba lagi.


Jakub


Adrian. This is Jakub.


Darla is asleep. She hasn’t seen your messages.


I have.


Jempolnya berhenti.


Jakub menoleh kepada Darla sekali lagi. Perempuan itu tetap tidak bergerak, kecuali napasnya yang membuat ujung selimut naik dan turun pelan.


Ia kembali mengetik.


You already know those three years mattered.


They wouldn’t have hurt when they ended if they meant nothing.


Kalimat itu membuatnya ragu.


Itu bagian dari cerita Darla. Ia tahu persis dari mana jawaban itu berasal dan mengapa dirinya tidak seharusnya menggunakannya tanpa bertanya.


Namun ia tetap melanjutkan.


But you’re asking her to open something she worked hard to close just so you can feel better about your place in it.


We’re on our honeymoon.


Don’t message her like this again.


Jakub membaca seluruh balasan tersebut dua kali.


Ia tidak menyukainya. Bukan karena ada kata yang salah, melainkan karena semua kata itu datang dari dirinya ketika Adrian tidak pernah bertanya kepadanya.


Tetap saja, ia menekan Send.


Status di bawah pesan berubah.


Seen 02.16 AM.


Beberapa detik kemudian, tanda sedang mengetik muncul.


Menghilang.


Muncul lagi.


Jakub bersandar pada kepala ranjang sambil menunggu. Di sampingnya, Darla menggerakkan tangan di atas seprai tanpa membuka mata. Ujung jemarinya menyentuh paha Jakub, lalu berhenti di sana seolah tubuhnya hanya perlu memastikan laki-laki itu masih berada di dekatnya.


Pesan baru masuk.


Adrian


I wasn’t expecting you.


Jakub tidak membalas.


Pesan-pesan berikutnya datang satu per satu.


I don’t want to disrespect your marriage.


I’m not asking her to come back.


If she chose you, then that’s her choice. I can live with that.


What I can’t live with is believing I never meant anything to her.


Jakub mengembuskan napas perlahan.


She loved me.


I know she did.


Jeda di antara pesan berikutnya sedikit lebih panjang.


I watched her beg me not to leave.


I didn’t imagine that.


Jemari Jakub mengencang di sekeliling ponsel.


Adrian sudah memiliki jawabannya. Ia hanya ingin mendengarnya lagi dari Darla sekarang, setelah semua selesai, agar rasa sakit perempuan itu dulu bisa meyakinkannya bahwa dirinya masih penting.


Jakub mulai mengetik.


Then you already know.


You mattered.


Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan satu kalimat terakhir.


You don’t need to make her hurt again just to hear her say it.


Pesan itu terkirim.


Tanda sedang mengetik muncul kembali, tetapi Jakub tidak menunggu. Ia keluar dari percakapan, mematikan notifikasi Instagram sampai pagi, lalu meletakkan ponsel Darla ke tempat semula.


Tangannya masih berada di atas paha Jakub.


Ia menyentuh punggung tangan itu pelan. Darla langsung menggeser tubuhnya lebih dekat dalam tidur, dahinya menemukan sisi pinggang Jakub, lalu napasnya kembali tenang.


Jakub memandangi wajahnya cukup lama.


“I should’ve woken you,” bisiknya.


Kali ini, ia tidak mencoba mencari alasan lain.


Ia berbaring kembali dan membiarkan Darla merapat sampai kepalanya berada di bahunya. Namun setelah memejamkan mata, tidur tidak datang lagi semudah sebelumnya.

Lihat selengkapnya