Wednesday
09.11 AM
Sarapan mereka sudah hampir habis ketika Darla akhirnya membalik ponselnya.
Di atas meja dekat pintu kaca, hanya tersisa pinggiran roti panggang di piringnya, semangkuk kecil buah yang tinggal dua potong, dan teh yang sudah terlalu dingin untuk disebut hangat. Kopi Jakub juga belum habis setengah. Sejak tadi, laki-laki itu lebih sering memastikan Darla makan daripada mengingat minumannya sendiri.
Darla baru saja menelan antibiotik tanpa perlu diingatkan. Jakub melihatnya meletakkan gelas, lalu mengangguk kecil dengan wajah puas.
“Jangan lihat aku begitu.”
“Like what?”
“Kayak aku baru melakukan sesuatu yang sangat membanggakan.”
“You took your medicine without negotiating.” Jakub bersandar di kursinya. “I am impressed.”
“Aku minum antibiotik, bukan lulus bar exam.”
“Still.”
Darla menggeleng, tetapi sudut bibirnya terangkat. Ia menarik ponsel lebih dekat, lalu mengembuskan napas panjang.
“Okay.”
Jakub menoleh. “Okay?”
“Aku udah sarapan. Udah minum obat.” Darla mengetuk layar ponselnya sekali. “Departemen krisis eksistensial mantan resmi buka.”
Tawa pendek lolos dari Jakub sebelum sempat ia tahan.
“Jangan ketawa. Aku customer service-nya.”
“You don’t have to be.”
“I know.” Senyum Darla memudar sedikit. “Makanya aku mau selesaiin sekarang.”
Jakub tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menggeser kursinya mendekat ketika Darla membuka Instagram dan meletakkan ponsel di antara mereka.
Percakapan dengan Adrian masih berada di urutan paling atas. Tidak ada pesan baru setelah balasan terakhir Jakub. Hanya rangkaian kata dari pukul dua pagi yang kini terlihat jauh lebih melelahkan daripada saat Darla pertama kali membacanya.
Ia menggulir perlahan hingga kembali menemukan pertanyaan itu.
Had you already stopped loving me before you met him?
Darla memandangnya beberapa detik.
“Dia sebenarnya udah tahu jawabannya.”
“I think so too.”
“Dia tahu aku pernah sayang sama dia. Dia bahkan pakai momen aku minta dia jangan pergi buat ngebuktiin itu.” Jemarinya berhenti di sisi ponsel. “Terus kenapa masih tanya?”
“He wants to hear it from you again.”
“Iya.” Darla mengembuskan napas melalui hidung. “Biar dia yakin kalau selama tiga tahun itu dia memang penting.”
Jakub menunggu.
“Tapi aku nggak bisa jadi customer service perasaan dia selamanya, kan?” lanjut Darla. “Masa tiap dia insecure aku harus bikin presentasi PowerPoint tentang hubungan kami dulu?”
“Please don’t.”
Darla menoleh. “Kenapa? Takut aku pakai grafik?”
“I’ve seen your itineraries. There would be charts.”
Tawanya keluar meskipun ia sedang berusaha mempertahankan wajah serius. Darla menyenggol lengan Jakub dengan bahunya, lalu kembali melihat layar.
Beberapa saat kemudian, suaranya berubah lebih pelan.
“Aku sedih, baby.”
Jakub tidak buru-buru menenangkan. Tangannya hanya berpindah ke atas meja, cukup dekat dengan tangan Darla kalau perempuan itu ingin meraihnya.
“Bukan karena aku pengin balik,” lanjut Darla. “Atau karena aku masih nunggu sesuatu dari dia. Aku sedih karena dia kayak masih ngomong sama Darla umur dua puluh tiga.”
“The one who asked him to stay.”
Darla mengangguk.
“Padahal aku udah melewati banyak hal setelah itu. Aku nggak malu pernah jadi perempuan itu. Aku memang pernah sayang banget sama Adrian. Pernah nangis jelek. Pernah minta dia jangan pergi.” Ia mengangkat satu bahu. “It happened. Aku nggak mau pura-pura enggak cuma karena sekarang aku nikah sama kamu.”
“You shouldn’t.”
“Tapi aku juga nggak mau terus balik ke momen paling hancur dalam hidup aku cuma supaya dia merasa better tentang dirinya sendiri.”
Jakub mengangguk pelan. “Then don’t.”
Jawabannya sederhana. Tidak ada usaha menyusun keputusan untuk Darla atau memberi tahu kalimat apa yang harus dikirim.
Darla menatap profil suaminya sejenak.
“Makasih, ya.”
Jakub beralih kepadanya. “For what?”
“Semalam kamu bisa aja jelek-jelekin dia. Bilang dia asshole atau apa.”
“I considered several words.”
“Nah, kan.”
“I didn’t use them.”
“That’s my point.” Darla menyelipkan jemarinya di antara jemari Jakub. “Kamu juga nggak nyuruh aku bilang tiga tahun itu nggak berarti. Padahal kamu jealous.”
“Very.”
Darla menoleh cepat. “Masih?”
“We’ll get to that.”
“Oh, jadi ada agenda?”
“You opened a department. I assumed there was a queue.”
Darla tertawa lagi. “Nyebelin.”
Jakub mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Write what you want to say, kochanie.”
Darla memandangi kolom balasan yang kosong.
“Kalau aku bilang aku memang pernah cinta sama dia, kamu gimana?”
Jakub tidak langsung menjawab. Garis rahangnya menegang tipis, cukup jelas untuk membuat Darla hampir tersenyum.
“I won’t enjoy reading it,” katanya akhirnya.
“Very honest.”
“You asked.”
“But?”
“But it’s true.” Tatapannya kembali ke layar. “I may dislike the sentence. I won’t ask you to change it.”
Darla memperhatikan wajahnya beberapa detik. “That was very mature and very annoyed at the same time.”
“Both can be true.”
“Eh, itu kalimat aku.”
“I’m learning from my wife.”
“Cepat banget kalau bagian yang menguntungkan kamu.”
Senyum kecil muncul di wajah Jakub. Darla melepaskan tangannya hanya untuk mulai mengetik.
Ia sempat menghapus kalimat pertamanya dua kali. Jakub tidak mencoba membaca sebelum Darla selesai. Ia mengambil kopinya yang sudah dingin, minum satu teguk, lalu membuat wajah samar yang langsung ditangkap Darla dari sudut mata.
“Udah dingin, kan?”
“A little.”
“Salah sendiri dari tadi ditinggal.”
“I was busy supervising breakfast.”
“Aku nggak perlu disupervisi.”
Jakub melirik dua potong buah yang sengaja masih ditinggalkan di mangkuk.
“Don’t,” kata Darla sebelum ia sempat membuka mulut.
Jakub kembali pada kopinya. “I said nothing.”
Darla menahan senyum dan melanjutkan mengetik. Setelah beberapa menit, ia meletakkan ponsel di depan Jakub.
“Read.”
Jakub mengangkat alis. “Are you sure?”
“Aku bilang kamu boleh lihat, kan?”
Ia mengambil ponsel itu.
Darla
Adrian, what we had was real. I did love you, and those three years mattered to me. You don’t need to keep asking for proof of that.
But they ended. I’m not going to reopen that part of my life now.
I’m married, I’m happy, and I need you to respect that. Please don’t message me like this again.
Jakub membacanya sampai selesai. Tidak ada perubahan besar pada wajahnya, kecuali satu gerakan kecil di rahang ketika sampai pada kalimat kedua.
Darla melihatnya. Tentu saja.
“Your face doesn’t like the I did love you part.”
“My face is allowed an opinion.”
“Terus kamu?”