Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #58

CHAPTER 57: Coming Home

Wednesday

04.16 PM


Sepekan honeymoon mereka di Bali akhirnya sampai pada ujungnya.


Pagi terakhir telah mereka habiskan memenuhi satu janji yang sempat tertunda: melihat panda merah. Sekarang galeri ponsel Darla dipenuhi puluhan foto hewan itu dari sudut yang nyaris sama, diselingi beberapa foto Jakub yang menurut Darla terlihat terlalu serius untuk seseorang yang baru saja berdiri hampir dua puluh menit di depan satu kandang.


Setelah IGD, antibiotik, hujan, perubahan itinerary, satu malam yang terlalu panjang, dan percakapan yang akhirnya benar-benar selesai, rasanya aneh bahwa perjalanan itu tetap hanya memakan waktu tujuh hari.


Pesawat mulai menurunkan ketinggian.


Di balik jendela, hamparan Jakarta perlahan memenuhi pandangan. Deretan gedung tinggi muncul di bawah langit yang jauh lebih abu-abu daripada Bali. Jalanan tampak padat bahkan dari atas, garis-garis kendaraan bergerak lambat di antara bangunan.


Darla menempelkan sisi kepalanya ke sandaran dan melihat keluar.


“Jakarta,” gumamnya.


Jakub mengikuti arah pandangnya. “Gray, crowded, and apparently waiting for us.”


“Kamu bikin macet kedengarannya romantis.”


“I spent years in diplomacy. It would be embarrassing if I couldn’t.”


Darla terkekeh, lalu kembali menghadap jendela ketika suara pramugari terdengar melalui pengeras suara, menyambut mereka pulang dan meminta seluruh penumpang memasang sabuk pengaman.


“Padahal cuma seminggu,” katanya.


“It feels longer.” Jakub menyelipkan ponselnya ke saku kursi di depan. “I think we managed to fit an unreasonable amount of marriage into seven days.”


Darla mulai menghitung dengan jemarinya. “Honeymoon, IGD, antibiotik, mantan, terus panda merah.”


“When you list it like that, I think we’re entitled to another honeymoon.”


“Sama istri yang sama?”


Jakub menoleh kepadanya dengan wajah tenang. “I’ve only just learned how to make this one drink enough water. Starting over would be terribly inefficient.”


Mulut Darla terbuka tidak percaya sebelum tawanya lolos. Ia mencubit ringan lengan Jakub.


“Aku kira jawabannya bakal romantis.”


“It was. I’m choosing you again for practical and emotional reasons.”


“Practical-nya nggak usah disebut.”


“Noted for the second honeymoon.”


Darla menggeleng, tetapi tangannya tetap mencari tangan Jakub di atas sandaran di antara mereka. Jemari laki-laki itu langsung terbuka untuk menyambutnya.


Pesawat berbelok perlahan. Kota di bawah mereka semakin dekat.


“Aneh nggak?” tanya Darla beberapa saat kemudian.


“Which part? We’ve established that this week had several unusual parts.”


“Pulangnya.” Darla menoleh. “Kamu udah nggak kerja di embassy lagi. Nanti kita sampai Jakarta, tapi besok nggak ada kantor kedutaan yang nungguin kamu.”


Jakub terdiam sebentar, bukan karena tidak ingin menjawab, melainkan karena benar-benar memikirkan pertanyaan itu.


“A little strange,” katanya akhirnya. “I was there long enough that part of me still expects an embassy email every time my phone vibrates. But everything was finalized before the wedding. I chose to resign, and I think I’m ready to let that chapter stay finished.”


Seluruh proses pengunduran dirinya memang sudah resmi selesai sebelum mereka menikah. Tidak ada lagi laporan diplomatik yang harus diperiksa sepulang cuti, tidak ada agenda kedutaan yang menunggu di awal minggu, dan tidak ada jabatan yang untuk bertahun-tahun melekat begitu erat pada keseharian Jakub.


Corporations adalah bab berikutnya. Namun hari pertamanya belum dimulai.


Untuk sementara, Jakub berada di ruang sempit di antara dua kehidupan, bukan lagi diplomat, tetapi belum menjadi bagian dari rutinitas barunya. Anehnya, untuk pertama kali setelah sekian lama, kekosongan itu tidak membuatnya gelisah.


“Terus habis ini kerja kantoran,” kata Dea.


“Later.” Ibu jari Jakub bergerak pelan di punggung tangannya. “My first day at work will come soon enough. Tonight, I’m going home with my wife, and I’d like to do one thing at a time.”


Senyum Dea berubah lembut. “Sounds like a good plan.”


“I occasionally have those.”


“Occasionally?”


“I’m trying to stay humble, honey.”


“Oh, sekarang humble.”


“Diplomacy is over. I’m exploring new qualities.”


Tawa Dea kembali terdengar tepat sebelum roda pesawat menyentuh landasan.


Pesawat mendarat dengan mulus. Begitu tanda sabuk pengaman padam, beberapa penumpang langsung berdiri dan memenuhi lorong, meskipun pintu pesawat bahkan belum dibuka.


Darla sempat mengangkat tubuh dari kursinya sebelum tangan Jakub menyentuh ringan lengannya.


“Let’s wait until the aisle clears,” katanya. “Your bag is above me, and standing here for fifteen minutes won’t get us home any faster.”


Darla melihat barisan orang yang berhenti total di lorong, lalu duduk kembali.


“Aku tahu.” Ia menyandarkan tubuh dengan tenang. “Aku cuma kebawa suasana.”


“I know. You’re very susceptible to collective panic.”


“Itu bukan collective panic. Itu budaya mendarat.”


Jakub menahan senyum. “My apologies. I’m still learning.”


“Nanti aku bikin orientation.”


“With charts?”


“Obviously.”


“Then I look forward to it.”


⸻


Bandara Soekarno-Hatta langsung mengembalikan mereka pada ritme Jakarta.


Suara roda koper beradu dengan lantai, pengumuman penerbangan datang silih berganti, dan orang-orang bergerak cepat ke berbagai arah. Setelah menunggu bagasi, Jakub mendorong troli yang memuat dua koper besar, sementara Darla berjalan di sampingnya dengan tas selempang dan tote bag di bahu.


Begitu keluar dari area kedatangan, Jakub memeriksa sebuah pesan di ponselnya.


“Our driver is near pillar three, but the pickup lane is moving slowly,” katanya. “We have about five minutes. Do you want to sit, or are you tired of sitting?”


“Tired of sitting. Kita tunggu di sini aja.”


“All right.” Jakub memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu mengulurkan tangan ke arah tote bag Darla. “Give me that one. Your shoulder has carried it since Bali.”


“Nggak berat, baby.”


“I know you can carry it.” Tatapannya turun sebentar pada tali tas yang mulai meninggalkan bekas di bahu Darla. “I’m asking because I want to, not because I think you can’t.”


Darla memandangnya sesaat, lalu menyerahkan tote bag itu tanpa protes lagi. “Thank you.”


“You’re welcome.”


Sambil menunggu, Darla memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka. Ada seorang anak kecil yang berlari menyambut ayahnya, sepasang orang tua yang memeluk putrinya bergantian, dan seorang laki-laki yang berdiri sambil mengangkat papan nama terlalu tinggi hingga menutupi wajahnya sendiri.


Tanpa sadar, Darla tersenyum.


Jakub menangkap perubahan itu. “What are you looking at?”


“Orang-orang pulang.”


Ia mengikuti pandangan Darla beberapa detik sebelum kembali menatap istrinya. “And that makes you smile?”


“Aku baru kepikiran aja.” Darla menggeser tubuh lebih dekat agar tidak menghalangi orang lewat. “Sekarang kalau aku pulang, aku pulangnya sama kamu, ya.”


Wajah Jakub melunak. Kali ini ia tidak hanya tersenyum kecil lalu membiarkan kalimat itu lewat.


“Yes,” katanya. “And if everything goes the way I hope, we’ll keep doing that for a very long time.”


Pipi Darla langsung menghangat. Jemarinya menyentuh lengan Jakub sebelum akhirnya menyelip di antara jemarinya.


“Aamiin.”


Jakub menggenggam tangannya dan mengecup singkat pelipisnya. “Aamiin, kochanie.”


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Sopir turun dan membantu memindahkan koper dari troli ke bagasi.

Lihat selengkapnya