Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #59

CHAPTER 58: Shared Space

Wednesday

06.43 PM


Lima menit kemudian, koper yang masih terbuka di lantai kembali menuntut perhatian mereka.


Jakub mengangkat koper terbesar ke atas bangku di kaki tempat tidur, lalu membuka resletingnya sampai penuh. Pakaian yang tadi tersusun rapi sudah bergeser selama perjalanan, bercampur dengan kantong oleh-oleh, dua buku yang dibeli Darla di Bali, dan satu sandal yang entah bagaimana terlepas dari pasangannya.


“Would you like to do yours first, or should I start with mine?” tanyanya.


Darla berdiri di sebelah koper sambil mengikat rambutnya lebih tinggi. “Ladies first?”


“More like self-preservation. I still don’t know which shelf belongs to skincare and which one is apparently forbidden territory.”


“Tumben nggak langsung bikin sistem sendiri.”


“I’m experimenting with cooperation.” Jakub menyerahkan satu packing cube kepadanya. “So far, the results of marriage seem promising.”


“Baru promising?”


“It’s a longitudinal study, honey. We’ve only been married for a week.”


Darla menggeleng sambil tertawa. “Ya Allah. Nikah dijadiin penelitian.”


“The best one I’ve ever agreed to join.”


Jawaban itu datang begitu ringan hingga Darla terlambat menyadari bahwa suaminya baru saja merayunya. Ia hanya bisa memandang Jakub yang sudah kembali membongkar isi koper, seolah tidak mengatakan sesuatu yang pantas membuat pipinya menghangat.


Mereka mulai bekerja dari dua sisi. Darla memisahkan pakaian kotor dan bersih, sementara Jakub membawa perlengkapan mandi ke kamar mandi dan mengembalikan charger ke meja samping tempat tidur. Tidak ada pembagian tugas yang perlu dibicarakan panjang. Mereka hanya saling melihat apa yang belum dikerjakan, lalu mengambil bagian masing-masing.


Darla baru saja mengangkat tumpukan pakaian ketika sebuah kaus putih berukuran jauh lebih besar daripada miliknya jatuh ke pangkuan.


Ia mengenalinya.


Kaus yang dikenakannya di villa pada salah satu malam mereka di Bali.


“Honey, ini punya kamu.”


Jakub menoleh dari depan lemari. “It was mine when we left Jakarta.”


“Kok sekarang past tense?”


“You wore it, slept in it, and packed it in your suitcase. I assumed ownership had become disputed.”


Darla menunduk melihat kaus itu lagi. “Aku masukinnya tanpa sadar. Sorry, kecampur.”


“You don’t have to apologize. Keep it.”


“Kenapa?”


Jakub mendekat untuk mengambil beberapa gantungan kosong, lalu melirik kaus di tangan Darla. “It looked better on you. And now it smells more like you than me anyway.”


Tangannya berhenti di gagang lemari.


Darla pun berhenti melipat.


Tatapan mereka bertemu di atas koper yang terbuka.


“Kamu barusan ngomong apa?” tanya Darla perlahan.


Baru pada saat itulah Jakub tampak menyadari betapa jujur kalimat yang baru keluar dari mulutnya. Senyumnya bergerak samar, diikuti satu embusan tawa yang terdengar nyaris malu.


“You heard me perfectly. I’d like to preserve what remains of my dignity, so I’m not repeating it.”


“Oh, no. You don’t get to say something kayak gitu terus pura-pura lanjut beresin lemari.”


“I wasn’t pretending. The wardrobe still needs to be organized.”


“Jakub.” Darla berdiri sambil memegang kaus itu di depan dada. “Kamu bilang kaus kamu sekarang bau aku.”


“I also said I wasn’t complaining.”


Darla memejamkan mata, menahan senyum yang sudah telanjur muncul. “Kamu akhir-akhir ini bahaya banget.”


“That seems unfair. You asked me a direct question.”


“Dan aku nggak siap sama jawaban jujurnya.”


Jakub tertawa pelan. Ia mengambil kaus itu dari tangan Darla, melipat bagian lengannya sekali lagi, lalu meletakkannya di sisi lemari milik Darla.


“There. You can wear it again whenever you want.”


Darla menatap kaus yang kini resmi berada di antara pakaian rumahnya. “Aku pinjam, ya. Bukan nyita.”


“Of course. We’ll review the arrangement at the end of the study.”


“Masih penelitian juga?”


“I’m committed to methodological consistency.”


Darla mencubit ringan sisi pinggangnya sebelum kembali ke koper. Jakub menangkap tangannya, mengecup punggung jemarinya sekilas, lalu membiarkannya kembali melipat pakaian dengan senyum yang belum benar-benar hilang.


Tidak sampai setengah jam kemudian, koper itu sudah jauh lebih ringan. Pakaian kotor masuk ke keranjang cucian, perlengkapan mandi menemukan tempatnya, dan oleh-oleh mereka dikumpulkan di satu sisi meja agar tidak terlupakan.


Darla membawa dua botol kecil ke kamar mandi, kemudian turun untuk mencari sesuatu yang bisa mereka makan. Jakub menyusul beberapa saat kemudian sambil membawa pouch obat dan satu kantong berisi charger yang salah masuk koper.


Ia menemukan istrinya berdiri di depan kulkas yang terbuka.


Darla menoleh dengan ekspresi serius. “Aku punya kabar buruk.”


Jakub ikut melihat ke dalam. Di sana hanya ada air minum, beberapa butir telur, dua cup yogurt, mentega, dan sepotong keju yang masih terbungkus rapat.


“The refrigerator looks exactly as I expected.”


“Kamu memang berharap kulkas kita menyedihkan?”


“We were away for a week. If I had left vegetables in there, I would be considerably more worried if they were still alive.”


Darla tertawa dan menutup pintu kulkas. “Oke, itu valid.”


Ia membuka salah satu kabinet, menemukan roti yang tanggal kedaluwarsanya tinggal sehari lagi, lalu kembali menghadap Jakub.


“Lapar?”


“A little. But before you offer to cook, may I ask you something?”


Darla yang memang baru hendak membuka mulut akhirnya mengangguk.


Jakub meletakkan pouch obat di meja pantry. “Do you actually feel like cooking, or are you asking because this is our first night home and you think you should?”


Pertanyaan itu membuat Darla diam lebih lama daripada yang ia perkirakan.


“Dua-duanya, mungkin,” jawabnya jujur. “Aku suka masak. Tapi aku juga masih kebawa kebiasaan merasa harus nawarin. Apalagi sekarang aku istrinya.”


Jakub mengangguk pelan. Tidak buru-buru membantah perasaan itu, tetapi juga tidak membiarkannya tanpa jawaban.


“Then let’s make the distinction clear from the beginning. If you want to cook, I’ll cook with you. If I want to cook, I will. If neither of us wants to, we order something.” Ia bersandar ringan di sisi meja, tetap menghadap Darla. “I expect us both to eat, honey. I don’t expect you to become responsible for every meal simply because we’re married.”


Ekspresi Darla melembut. “Kamu benar-benar nggak expect aku harus masak tiap hari?”


“No. I expect you to tell me when you’re tired, and I’ll do the same. We’ll figure out the rest together.”


Darla mendekat dan merapikan ujung lengan kemejanya yang sedikit terlipat. Gerakan kecil yang tidak diperlukan, tetapi Jakub sudah mulai mengenalinya sebagai salah satu cara Darla menyentuh ketika hatinya sedang penuh.


“Thank you for asking,” katanya.


Jakub menunduk dan mengecup keningnya. “You’re welcome. Consider it our first kitchen treaty.”


“Tetap aja namanya dibikin formal.”


“Former diplomat. It may take some time to recover.”


Darla terkekeh, lalu kembali melihat isi kabinet. “Masalahnya, bahkan kalau aku mau masak, kita nggak punya banyak bahan.”


“We need food for breakfast too. We can restock tonight and make something simple when we get back, but only if you still have the energy.”


“Aku masih kuat.” Darla menunjuk pouch obat di meja. “Asal kita nggak kelamaan. Aku harus minum itu jam delapan.”


“I know. I’m bringing it with us just in case.” Jakub memasukkan pouch tersebut ke dalam tote bag kecil. “And before you protest, that’s preparedness, not power abuse.”


“Aku belum ngomong apa-apa.”


“You made the face.”


Darla langsung tertawa karena mengenali kalimat yang sama dari sore mereka di villa. “Fine. Tapi aku ikut milih belanjaannya.”


“That was always the plan, kochanie.”


⸻


Sepuluh menit kemudian, mobil mereka sudah keluar dari halaman.


Darla masih mengenakan pakaian yang dipakainya dari bandara, hanya mengganti sepatu dengan sandal dan mengambil tas kecil. Jakub sempat menyarankan agar ia beristirahat di rumah, tetapi Darla menolak. Ia ingin ikut dalam belanja kebutuhan rumah pertama mereka, meskipun tujuannya hanya sebuah supermarket di deretan ruko tidak jauh dari Cipete.


“First evening as newlyweds in Jakarta,” kata Darla sambil memasang sabuk pengaman. “Dan date kita ke supermarket.”


Jakub menyalakan mesin, kemudian menoleh kepadanya. “You once told me ordinary places become special because of the person beside you. I’m collecting evidence.”


Darla memicingkan mata. “Mantan jaksa tetap aja nyari evidence.”


“Old habits. Besides, I think this case will be easy to prove.”


Darla masih memandanginya ketika mobil mulai bergerak. “Dulu kerja kamu memang sebanyak itu sama bukti? Aku selalu ngebayangin prosecutor lebih banyak duduk baca berkas yang udah dikumpulin polisi.”


“I read more files than I care to remember, but I didn’t simply wait for the police to finish a case and hand it to me.” Jakub membelokkan mobil keluar dari jalan rumah mereka. “In Poland, a prosecutor either conducts or supervises the investigation. I worked with the police from the beginning, deciding which direction the investigation needed to follow, what was still missing, and which questions had not been answered.”


“Jadi kamu yang kasih arahan ke polisi?”


“Often, yes. They did much of the fieldwork, but I could order specific investigative steps, examine the evidence as it came in, sit in on questioning, or conduct it myself. And when the evidence was sufficient, I was the one who had to decide whether it justified bringing charges.” Ia melirik Darla sekilas. “By the time a case reached court, it had already been my responsibility for quite a while.”


Darla menyandarkan tubuhnya kembali. Selama ini ia mengenal bagian-bagian terpisah dari riwayat hidup Jakub, fakultas hukum di Warsawa, tahun-tahun sebagai prokurator, lalu karier diplomatik yang membawanya ke Indonesia. Namun baru sekarang ia membayangkan suaminya bukan hanya berdiri tenang di ruang sidang atau membaca berkas di balik meja, melainkan berada di antara panggilan dari penyidik, hasil pemeriksaan yang belum lengkap, dan keputusan-keputusan yang dapat mengubah arah sebuah perkara.


“So you really were Mr. Prosecutor,” katanya.


Jakub tertawa kecil. “I was, although no one at work called me that.”


“Pantas sekarang supermarket aja dibikin case.”


“This one has considerably lower stakes and better snacks.”


Jawaban itu membuat senyum Darla bertahan sepanjang perjalanan singkat mereka.


Supermarket tidak terlalu ramai. Begitu pintu otomatis terbuka, Jakub mengambil keranjang beroda dari dekat pintu dan menarik gagangnya.


“Aku bisa bawa itu,” kata Darla.


“I know. You can choose what we need, and I’ll pull it. If you change your mind, you may take over at any time.”


Darla menatapnya sejenak, lalu mengangguk puas. “Baik. Consent documented.”


Jakub tertawa. “You’ve been married to me for seven days and you’re already using my language against me.”


“Aku adaptasinya cepat.”


“I’ve noticed. It’s becoming dangerous.”


Mereka memulai dari lorong kebutuhan sehari-hari. Air minum masuk lebih dahulu, kemudian susu, telur, roti, keju, buah, yogurt, dan beberapa bahan yang bisa disimpan untuk hari berikutnya. Jakub menambahkan persediaan air lebih banyak daripada yang menurut Darla mereka perlukan.


“Kita kedatangan tamu?” tanyanya.


“No. I’ve simply learned not to underestimate how much water you should drink.”


“Masih trauma IGD?”


“Educated by experience,” koreksi Jakub. “There’s a difference.”


Darla tidak membantah. Ia hanya menyentuh singkat lengan suaminya sebelum bergerak ke lorong berikutnya.


Di depan rak camilan, tangannya otomatis mengambil sebungkus keripik kentang rasa rumput laut. Ia membaca harganya, berpikir sebentar, lalu mengembalikannya.


Jakub yang berdiri di samping keranjang melihat seluruh proses itu. “You wanted it.”


“Pengen, tapi nggak penting-penting amat.”


“Not everything we buy has to make a meaningful contribution to the household.” Ia mengambil kembali bungkus tersebut dan memasukkannya ke keranjang. “You’ll think about it again after dinner, and then we’ll both regret leaving it here.”


Darla menahan senyum. “Kamu yakin aku bakal kepikiran?”


“You looked back at the shelf after putting it down. I’m reasonably confident.”


“Jangan senang dulu karena bisa baca aku.”


“I’m not pleased with myself.” Jakub mulai menarik keranjang lagi. “I’m pleased that my wife will have her chips.”


Lihat selengkapnya