Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #60

CHAPTER 59: Within Reach

Wednesday

11.37 PM


Lampu ruang kerja akhirnya dipadamkan mendekati tengah malam.


Dalam gelap, sticky note bertuliskan Shared Shelf masih menempel di sisi rak, sementara pigura kosong yang akan mereka isi besok berdiri di atas meja Jakub. Darla sempat menoleh sekali lagi sebelum keluar. Rasanya aneh melihat benda-bendanya berada di antara barang milik Jakub, tetapi bukan aneh yang membuatnya ingin menarik diri. Lebih seperti sebuah pemandangan baru yang perlu dibiasakan sampai suatu hari tidak lagi terasa baru.


Jakub menutup pintu ruang kerja di belakang mereka. Baru dua langkah menuju kamar, Darla berhenti.


“Wait. Aku haus.”


“Kitchen?”


“Mhm.”


Mereka kembali menuruni tangga dengan langkah yang lebih lambat daripada beberapa jam sebelumnya. Kardus-kardus yang tadi memenuhi lorong sudah dipindahkan ke sisi dinding, kantong belanja telah menghilang dari meja makan, dan seluruh lantai bawah hanya diterangi lampu kecil di atas dapur.


Rumah itu tidak lagi terasa kosong. Hanya lelah setelah menemani mereka sepanjang malam.


Darla membuka kabinet tempat gelas disimpan, lalu mendongak.


Semuanya berada di rak paling atas.


“Siapa yang naro gelas sehari-hari setinggi ini?” tanyanya.


Jakub berhenti di dekat meja pantry. “I did.”


Darla menoleh kepadanya. “Of course.”


“I was living alone at the time.”


“That is not a defense.”


“No. It’s context.”


Darla menggeleng, lalu berjinjit dan mengulurkan tangan. Ujung jarinya sudah menyentuh dasar salah satu gelas, tetapi belum cukup untuk menariknya keluar. Ia mencoba menggesernya sedikit lebih dekat.


Jakub masih berdiri di belakangnya.


“Kamu cuma mau nonton?”


“I was giving you an opportunity to succeed independently.”


“Honey.”


Tawa kecil lolos dari Jakub. Ia akhirnya mendekat, berdiri tepat di belakang Darla, lalu mengangkat satu tangan melewati kepalanya. Gelas itu berpindah ke tangannya tanpa ia perlu berjinjit atau bahkan meregangkan tubuh.


Ia menaruhnya di depan Darla. “For you, my love.”


Darla menerima gelas itu sambil memicingkan mata. “Show-off.”


“I have a vertical advantage.”


“Thirty-three centimeters,” jawab Darla cepat. “Aku udah hitung.”


Senyum Jakub semakin jelas. “Of course you did.”


Darla menunjuk rak kabinet dengan gelasnya. “Besok ini pindah ke bawah.”


Jakub melihat deretan gelas yang selama ini tidak pernah terasa terlalu tinggi baginya. “Agreed. Anything you use every day should be within reach.”


“My reach?”


“Yours.” Ia menutup pintu kabinet. “I don’t live alone anymore.”


Jawabannya sederhana, tetapi cukup untuk membuat Darla terdiam. Rumah ini memang milik mereka sekarang, meskipun sebagian besar masih dibangun berdasarkan ukuran tubuh, kebiasaan, dan kebutuhan Jakub. Menurunkan beberapa gelas satu rak mungkin tidak berarti banyak. Namun kenyataan bahwa laki-laki itu langsung memahami alasannya terasa seperti sesuatu yang lebih besar daripada memindahkan isi kabinet.


Darla baru hendak mengisi gelas ketika Jakub mengangkat tangan ke wajahnya. Jemarinya merapikan satu helai rambut yang terlepas dari ikatan dan terus jatuh di dekat pipi.


“There,” katanya.


Darla menyentuh rambut yang baru diselipkan ke belakang telinga. “Kenapa?”


“It was distracting.”


Senyum jahil segera muncul. “The hair or me?”


Jakub menatapnya. Tidak ada jeda panjang untuk mencari jawaban aman kali ini.


“You.”


Darla berkedip. “Oh.”


“You wanted an easy answer.”


“Aku ternyata nggak selalu siap menerimanya.”


Jakub tertawa pelan, kemudian menunduk dan mengecup keningnya. “Good night, kochanie.”


Ia sudah berbalik dan mencapai anak tangga pertama ketika Darla memanggilnya lagi.


“Honey.”


Jakub menoleh. “Hm?”


“Come back.”


“Did I forget something?”


“Mhm.” Darla masih berdiri di depan countertop, memegang gelas kosong. “Good night-nya terlalu cepat.”

Lihat selengkapnya