Under Jakarta Skies

Yukino Chiba
Chapter #61

CHAPTER 60: Household Morale

Saturday

08.17 AM


Pagi itu datang tanpa alarm.


Cahaya matahari masuk melalui celah gorden dan membentuk garis tipis di lantai kamar. Pada hari kerja, suara kendaraan dari jalan besar biasanya sudah terdengar sejak pagi. Namun Sabtu membuat Jakarta bergerak sedikit lebih lambat, seolah kota itu pun memberi dirinya waktu untuk bangun tanpa terburu-buru.


Ketika Darla membuka mata, sisi ranjang Jakub sudah kosong.


Ia menemukannya di dapur beberapa menit kemudian, berdiri di depan mesin kopi dengan kaus gelap dan celana rumah. Dua cangkir telah menunggu di atas countertop, satu hitam milik Jakub, satu putih yang baru saja diisi susu.


Darla sendiri masih mengenakan kaus putih Jakub yang sejak Rabu malam resmi berada di sisi lemarinya. Rambutnya berantakan dan matanya belum sepenuhnya terbuka ketika ia berjalan mendekat, menyandarkan dahi ke bahu suaminya, lalu diam.


Jakub melirik ke samping. “Good morning.”


“Morning,” gumam Darla serak.


“Still asleep?”


“Mhm.”


“Yet somehow walking.”


“Professional skill.”


“It doesn’t look particularly professional.”


Darla mengangkat wajah sekadarnya. “Kamu merusak kepercayaan diri aku sebelum sarapan.”


Tawa kecil lolos dari Jakub. “I haven’t started.”


Ia membiarkan Darla tetap bersandar sementara menyelesaikan cangkir kedua. Tidak ada yang perlu mereka bicarakan selama beberapa detik berikutnya. Hanya mesin kopi yang berdengung, aroma biji kopi baru yang mereka pilih bersama di supermarket, dan hangat tubuh Jakub di sisi wajahnya.


“You made one for me too?” tanya Darla akhirnya.


“A different one.”


Darla membuka mata. “Different how?”


“Less coffee, more milk. You said the last one was too bitter.” Jakub menyerahkan cangkir putih itu kepadanya. “Try it before I make any further claims.”


Darla meniup permukaannya, lalu menyesap sedikit. Rasanya masih cukup kuat untuk membuatnya benar-benar bangun, tetapi tidak lagi meninggalkan pahit yang bertahan di lidah.


“Enak,” katanya. “You remembered.”


“I listened.”


“Those are different things.”


Jakub mengambil cangkirnya sendiri. “Are they?”


“Listening happens waktu aku ngomong. Remembering happens the next morning, pas aku udah nggak ada buat ngingetin.”


Jakub mempertimbangkan kalimat itu, kemudian mengangguk. “Then I did both.”


Jawabannya begitu tenang hingga Darla hanya bisa menyembunyikan senyum di balik cangkir. Ia kembali menyandarkan kepala ke bahu Jakub dan tetap di sana sampai kopinya cukup dingin untuk diminum tanpa ditiup.


Setelah sarapan, mereka berdiri bersama di depan kulkas yang terbuka. Belanja darurat pada malam kepulangan mereka memang memberi cukup makanan untuk beberapa hari, tetapi belum bisa disebut persediaan rumah. Jakub sedang memeriksa wadah bayam, jamur, dan beberapa tomat ketika Darla datang membawa ponsel.


“Why are you looking at the vegetables like they owe you money?” tanyanya.


“The spinach won’t survive another day.”


“Berarti dimasak hari ini.”


“That was also my conclusion.”


“Honey, itu bukan kesimpulan strategis. Itu memang tujuan kita beli makanan.”


Jakub menutup kulkas sambil tertawa. “Fine. We’ll use those tonight.”


Darla duduk bersila di karpet ruang keluarga dan membuka daftar belanja di ponselnya. Jakub menyebutkan apa yang masih mereka perlukan: bahan sarapan, buah, susu, kebutuhan dapur, persediaan kucing, dan beberapa barang rumah tangga yang baru mereka sadari telah habis.


Darla mengetik sambil mengangguk, kemudian berhenti ketika menyadari sesuatu.


“Kamu nyebutinnya berdasarkan urutan lorong supermarket?”


“Yes.”


“Dari sayuran, dairy, pantry, terus household?”


“It minimizes unnecessary walking.”


Darla menaruh ponselnya di karpet, merangkak mendekat, lalu memegang wajah Jakub dengan kedua tangannya.


Laki-laki itu membeku. “What are you doing?”


“Confirming something.”


“What?”


Ibu jari Darla mengusap pipinya pelan. “That I really married this wonderfully strange man.”


Senyum Jakub muncul perlahan. Tangannya turun ke pinggang Darla untuk menahannya tetap dekat. “And?”


“Confirmed.”


“Any regrets?”


Darla pura-pura berpikir cukup lama. “Only one.”


Jakub menunggu.


“Aku seharusnya nikah sama kamu lebih cepat.”


Alih-alih kehilangan jawaban, Jakub mencondongkan tubuh dan mengecup bibirnya singkat.


“I would have said yes sooner,” katanya.


Darla terdiam satu detik. “That was smooth.”


“I’ve had coffee.”


Tawa Darla langsung memenuhi ruang keluarga. Ia mengambil kembali ponselnya, sementara Jakub menambahkan reusable bag ke bagian paling atas daftar agar mereka tidak melupakannya.


⸻


Supermarket lebih ramai daripada Rabu malam, tetapi belum cukup penuh untuk membuat mereka harus berebut troli. Jakub mendorong satu troli dengan dua reusable bag terlipat di dalamnya, sementara Darla berjalan di sampingnya sambil memegang daftar.


“You brought the bags,” katanya.


“It was first on the list.”


“Aku tahu. Aku cuma senang kamu selalu ingat.”


Jakub meliriknya. “If I say I’ll bring something, I bring it.”


“Exactly.” Darla menyelipkan tangannya sebentar ke lekuk lengan Jakub. “That’s one of the things I like about you.”


Jakub tidak menganggap membawa tas belanja sebagai pencapaian yang layak dipuji. Namun senyum kecil di wajahnya bertahan ketika mereka memasuki lorong sayuran.


Belanja berlangsung jauh lebih cepat berkat daftar yang tadi ditertawakan Darla. Karena sayuran lama akan mereka habiskan malam itu, bayam dan tomat baru untuk beberapa hari berikutnya ikut masuk bersama paprika, wortel, dan beberapa bahan lain. Jakub sesekali memeriksa layar ponsel, sementara Darla mengambil barang berdasarkan ingatannya tentang isi kulkas.


“You’re not checking the list,” kata Jakub.


“Aku tahu isi kulkas.”


“I’m impressed.”


“Aku yang paling sering buka.”


“Fair.”


“Tapi kamu tetap akan verify semuanya, kan?”


“Only enough to avoid buying a third carton of eggs.”


Darla menatap isi troli mereka. “Kita punya dua?”


“Exactly.”


“Fine. Verification approved.”


Di lorong buah, Darla sempat mengambil sekotak stroberi, tetapi mengembalikannya setelah melihat harga. Jakub memperhatikannya tanpa berusaha memasukkan kembali kotak itu ke troli.


“Kamu nggak akan bilang aku boleh beli?” tanya Darla.


“You are allowed to buy it. You also looked at the price and decided you didn’t want it that much.”


“Correct.”


“Would you like me to interfere with your decision?”


Darla tersenyum. “No. Aku cuma sedang mengecek apakah kamu masih suka ikut observasi.”


“Constantly.”


Mereka menggantinya dengan jeruk dan pisang sebelum melanjutkan ke lorong camilan. Di sana, Darla berhenti di depan satu rasa baru yang belum pernah mereka coba. Ia mengambil bungkusnya, membaca deskripsi di bagian belakang, lalu memeluknya ke dada.


“Kita coba?”


Jakub melihat troli mereka. “Do we need it?”


“Need is a flexible concept.”


Lihat selengkapnya