"Kami bangsa manusia! Kami bangsa yang lemah!"
"Kami bangsa manusia! Kami bangsa yang lemah!"
"Kami bangsa manusia! Kami bangsa yang lemah!"
Seruan itu terdengar seperti lolongan anjing yang terus menggema di mana-mana. Tak ada yang berani membantah satu orang pun. Semuanya tampak patuh dan diam meski harga dirinya diinjak-injak. Para Undead di depan kami tampak kegirangan, merasa seakan diri mereka adalah Raja di tanah kelahiran kami. Ingin sekali kucabik-cabik wajah mereka hingga hancur tak bersisa. Menyisakan mulut mereka yang tertawa tak tahu diri itu.
Semenjak terjadi pemberontakan beberapa tahun lalu oleh bangsa Undead yang berasal dari galaksi luar. Bangsa manusia di Planet Myenka semakin tertindas, kami seolah tak memiliki harga diri. Perbedaan kekuatan kami terlalu jauh dibandingkan para manusia yang bangkit dari kematian itu. Kami diperbudak tanpa bayaran, disiksa tanpa ampun, juga dijatah seminggu sekali hanya untuk mendapat semangkuk nasi yang hampir basi.
"Giliranmu!" bentak salah seorang Undead yang mengenakan simbol kuning, menunjukkan ia memiliki status yang agak rendah di kelompoknya. Setelah mengamati selama bertahun-tahun, aku baru mengerti soal sistem status bangsa mereka itu. Biru untuk tingkat atas, hijau untuk tingkat menengah dan kuning untuk tingkat rendah.
"Serukan seruanmu itu, bodoh!" bentak Undead berstatus rendah itu sembari tertawa terbahak-bahak bersama kawanannya yang lain. Jumlah mereka ada lima orang, dan tak satu pun yang tampak bersimpati pada kami. Selain itu, mereka semua laki-laki. Dari apa yang pernah kudengar, Undead perempuan tak pernah ditugaskan untuk mengawasi manusia.
Aku bergeming untuk beberapa saat. Deru napasku berat—menahan amarah yang ingin sekali kulampiaskan. Mulutku tertutup rapat menyembunyikan gigiku yang bergemaltuk. Namun, sahabatku, Aina yang juga mengantre di belakang tiba-tiba berbisik ke telingaku, "Turunkan harga dirimu, Riel. Jangan bersikap angkuh. Kita tak pernah tahu apa yang akan mereka lakukan padamu jika terus bersikap seperti ini."
Aina seakan mengingatkanku untuk tak bersikap seperti ibuku beberapa pekan lalu. Karena ucapannya yang mengatakan para Undead sebagai zombie tak tahu diri, ia harus berakhir di balik sel bawah tanah sampai sekarang. Aku bahkan tidak tahu apa yang orang-orang keji itu lakukan padanya.
Akhirnya, dengan berat hati, aku menyerukan Seruan menjijikan itu. "Kami—bangsa manusia! Kami bangsa yang lemah!"
Meski mengucapkannya dengan suara kecil dan agak terbata-bata karena malas, para Undead itu tak mempermasalahkannya. Entahlah, kurasa hari ini hati para Undead itu sedang bahagia. Itu pun kalau mereka benar-benar punya hati.
Setelahnya, aku bisa mengambil semangkuk nasi. Setidaknya untuk kali ini saja, aku akan menerima semua perlakuan buruk mereka itu, akan tetapi, baru saja kuayunkan tanganku untuk mengambilnya. Undead dengan simbol kuning itu melemparkan mangkuk yang akan kuambil. Dan karena ulahnya, jatah nasiku berkurang setengah, karena sebegiannya lagi berceceran ke tanah.
Melihat itu, aku hanya bisa mematung dan menghela napas beberapa kali—mencoba menahan amarahku yang hampir membuncah. Tawa para Undead itu terdengar pecah melihatku. Dua orang di antaranya bahkan mengatai wajahku tampak bodoh.
Aku harus tetap sabar. Ya, aku mencoba meyakinkan diri seperti itu. Sekarang bukan saatnya untuk memberontak. Jadi, dengan langkah gusar, aku pun memungut mangkuk dengan nasi yang sudah berceceran itu. Di saat yang sama, aku teringat pernah sekali memberontak, mungkin sekitar tiga tahun yang lalu, aku membuang nasi yang kudapatkan. Alasannya, karena perutku mual setiap kali memakan nasi yang para Undead itu berikan.
Namun, kejadian itu langsung ketahuan oleh para Undead terkutuk itu. Hingga akhirnya, mereka menghukumku dengan cara menyekapku—memaksaku untuk memakan nasi yang sudah kubuang itu, dengan cara; Undead pertama, memegangi tanganku, Undead ke dua memegang erat kakiku dan Undead ke tiga menjejalkan nasi basi itu ke mulutku. Setelah semua nasi itu habis, aku muntah-muntah dan sakit selama tiga minggu. Itu adalah pengalaman terburuk sepanjang hidup yang pernah aku rasakan.
Mulai hari itu, meski tidak suka dengan apa yang kudapatkan, aku tetap makan semuanya sampai habis. Seperti sekarang, aku memasukkan nasi yang lembek dan bau ini perlahan-lahan ke mulutku. Rasanya tidak aneh, jika jumlah manusia meninggal setiap harinya di planet Myenka muncul terus-menerus. Kurasa salah satu penyebab terbesarnya dalah makanan ini.
"Riel, kau tak apa?" tanya Bibi Grace yang menyadarkanku. Sebelah tangannya mengelus pundakku pelan.
"Iya, aku tidak apa-apa." Aku tersenyum dengan penuh paksaan. Masalahnya, bibirku sangat susah sekali untuk tersenyum dalam keadaan makan makanan yang nyaris basi.
Bibi Grace duduk di sebelahku, sembari menenteng mangkok nasinya yang kulihat sudah hampir habis.