Unexpected Changes

La Riei
Chapter #2

Chapter 2: Bukan Manusia

Kurasakan tubuhku berbaring di atas kasur dengan seprai yang terasa halus, aku menggigil. Namun, beberapa kali juga merasa hangat. Seperti ada sebuah selang yang yang tertempel dan menembus dadaku, tidak terasa sakit, akan tetapi kurang nyaman. Telingaku berkali-kali menangkap seseorang berbicara, tetapi mataku terlalu berat untuk terbuka. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?

"Harusnya dia bisa bangun dalam beberapa jam lagi."

Suara wanita terdengar begitu jelas di sebelahku. Apakah 'dia' yang dimaksud itu aku? Lalu, dengan siapa wanita itu berbicara?

"Baiklah, kalau begitu kabari aku dengan cepat saat gadis itu bangun." Kali ini suara laki-laki terdengar menanggapi. Rasanya aku pernah mendengar suara laki-laki itu.

Suara derap langkah kaki terdengar menjauh dan suara pintu terdengar menutup. Kurasa laki-laki barusan segera pergi dari sini. Lalu, bagaimana dengan wanita sebelumnya, siapakah dia? Apakah dokter?

Aku ingin sekali membuka mata. Namun, rasanya seperti dikunci rapat-rapat. Mulutku juga tak menuruti keinginanku untuk sekedar terbuka dan bersuara.

Lalu, wanita tadi terdengar mendekat ke arahku. Dia menyentuh bagian selang yang terpasang ke dadaku. Tak lama, kurasakan kelopak mataku terasa ringan. Akhirnya, mataku bisa terbuka.

Aku mengerjapkan mataku perlahan. Hal pertama yang kulihat adakah sosok wanita dengan jas panjang berwarna putih. Rambutnya coklat terang dengan mata abu dan wajah yang sudah agak keriput. Dis bekah kanan jasnya terdapat palan nama yang bertuliskan, 'Susan' dan dia tersenyum melihatku.

"Siapa?" Aku mencoba bertanya untuk memastikan. Aku masih terbaring karena kepalaku agak berat untuk bangun.

"Akhirnya sadar juga. Tadinya, kupikir kau benar-benar tidak bisa diselamatkan?" Ia menarik pelan selang yang tertempel di dadaku. Selang itu ternyata benar-benar menembus sampai ke dalam perut. Luka bolongan di sana langsung menutup perlahan tanpa meninggalkan sisa sedikit pun.

Aku tercengang. Luka sebesar itu bisa tertutup dengan mudah, seolah-olah perutku tak pernah terluka sedikit pun.

"A-apa yang terjadi? Bagaimana bisa lukanya—?"

Susan menarik napas pelan. Ia mengusap lembut bahuku seraya berkata, "Jangan terkejut. Hal seperti ini akan menjadi pemandangan biasa untukmu." Ia menarik kembali tangannya dan memandangiku sembari tersenyum. "Beradaptasilah dengan baik. Mulai saat ini, kau harus mulai terbiasa," jelasnya.

Lihat selengkapnya