Unexpected Changes

La Riei
Chapter #3

Chapter 3: Pelatihan

"Setahuku simbol Undead itu hanya ada tiga? Bagaimana bisa kau bilang aku berstatus Abu?"

Aku mengingat-ingat saat masih menjadi manusia. Dari apa yang sudah kutelaah selama bertahun-tahun. Simbol Undead yang pernah kulihat tak pernah lepas dari warna Kuning, Hijau dan Biru.

Noa yang sudah siap dengan segala peralatan untuk melatihku itu pun mendelik. "Kau meragukan ucapanku?!" ujarnya penuh penekanan.

Aku hanya menghela napas pelan dan menatap Padang rumput luas di depanku. Sebelumnya, Noa bilang, semua yang ada di sekitar sini merupakan Undead baru—sama denganku. Dan mereka yang mengenakan seragam hitam merupakan mentornya.

"Aku tidak meragukan, kok. Hanya saja, semua ini masih terasa begitu asing bagiku." Aku diam sesaat. Merasakan hembusan angin sejuk yang menerpa wajahku. Lalu, aku berbalik kembali melihat Noa. "Aku masih belum memaafkanmu, tahu!" bisiku sembari menatap tajam ke arah mentorku itu.

Noa berjalan mendekat. Dan tanpa kusadari, ia melemparkan sebilah pedang tepat di depanku. Pedang itu tampak kecil, warnanya mengkilap dan tampak begitu tajam. Pegangannya berwarna silver dengan ukiran permata biru di tengahnya.

Karena terkejut, aku pun langsung berkata, "Hei! Kau mau membunuhku lagi, ya?!"

"Goresan pedang tidak akan berpengaruh pada Undead berstatus Abu. Ayo berdiri dan kita lihat seberapa kuat Mana-mu." Noa mengayunkan pedang yang dipegangnya tanpa sekali pun menoleh padaku.

Aku ingin sekali membalas ucapannya itu. Namun, setelah kupikir-pikir. Sepertinya aku akan membalas ucapannya dengan sengaja mengacaukan latihan hari ini. Aku akan menusukmu dengan pedang yang ia lemparkan ini. Lihat saja.

"Baiklah, pak!" ucapku dan langsung beranjak.

Aku mengangkat pedangku sampai sejajar dengan wajahku dan mengarahkannya ke Noa. Aku bersyukur karena pedang yang kupegang tak berat seperti yang pernah dibuat Tax. Namun, tetap saja, aku sebenarnya tidak begitu paham cara menggunakan pedang ini. Noa pun kulihat hanya diam. Bahkan tak sekalipun terlihat mau mengayunkan pedangnya.

"Hei, aku sudah siap. Ayo, kau bilang kita mau latihan," ujarku.

Noa menunduk sebentar. Lalu, ia mulai mengangkat pedangnya juga, akan tetapi tak setinggi seperti yang kulakukan. Ia hanya mengangkatnya setinggi bahunya dan mengarahkannya padaku.

"Semangat yang bagus, Riela. Ayo, serang aku. Jika gagal, mungkin kau akan mati sekali lagi." Ia menyeringai senang.

Aku benar-benar ingin membunuhnya. Semoga Mana-ku benar-benar melampaui miliknya. Dengan begitu, aku yang akan membuatnya mati kali ini.

Aku berkali-kali mengarahkan pedangku pada Noa. Namun, tak satu pun seranganku mengenainya. Mana- ku pun tak keluar-keluar.

"Sebenarnya apa yang ingin kau ajarkan padaku. Daritadi kau terus menghindar!" Aku kesal sekali karena semua seranganku berhasil ia tangkis. Ia juga tidak memberitahuku bagaimana cara mengaktifkan Mana.

"Seharusnya kau tanyakan hal itu pada dirimu sendiri. Kaulah yang lemah. Karena itu seranganmu tak bisa mengenaiku."

Lihat selengkapnya