Hujan turun tanpa belas kasihan.
Butir-butir air menghantam kaca depan mobil, lalu disapu wiper yang bergerak tanpa lelah, menciptakan irama monoton yang menemani perjalanan malam Arga. Jalan raya hampir kosong. Lampu-lampu kota memantul di aspal basah, berubah menjadi garis-garis cahaya yang memanjang setiap kali mobil melaju.
Arga mengembuskan napas panjang.
Seragam kantornya masih melekat rapi meski bagian kerah mulai kusut. Matanya sembap karena lembur beberapa malam terakhir. Bahunya pegal, jemarinya masih terasa kaku setelah berjam-jam menatap layar komputer.
Di kursi penumpang tergeletak sebuah kotak hadiah yang dibungkus sederhana dengan pita biru. Di sampingnya ada seikat bunga lili putih yang mulai kehilangan kesegarannya. Kelopak-kelopaknya sedikit menunduk, seolah ikut kelelahan menunggu terlalu lama.
Di bawah bunga itu terselip sebuah amplop putih.
Arga sempat meliriknya sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan.
Semua itu ia beli dari hasil lembur berbulan-bulan.
Bukan hadiah yang mahal.
Namun cukup untuk mengatakan sesuatu yang selama ini selalu ia tunda.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Layar di dashboard menyala.
Keira Calling...
Senyum tipis muncul di wajah Arga.
Ia mengulurkan tangan, tetapi hanya menyentuh layar sebentar hingga nada dering berhenti.
"Jangan marah dulu..." gumamnya pelan.
Tatapannya kembali lurus ke depan.
"Aku bawa kejutan."
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Mobil kembali melaju menembus hujan.
Beberapa menit kemudian...
Sesuatu terdengar.
Pelan sekali.
Nyaris tidak lebih keras daripada suara napasnya sendiri.
"..."
Arga mengernyit.
Ia menurunkan volume radio.
Musik menghilang.
Namun suara itu tidak ikut menghilang.
Justru semakin jelas.
Seolah berasal dari tempat yang tidak mungkin.
Bukan dari luar mobil.
Bukan dari kursi belakang.
Bukan pula dari ponsel.
Suara itu terdengar langsung di dalam kepalanya.
Lembut.
Perempuan.
Sangat lirih.
Seperti seseorang yang memanggil dari tempat yang sangat jauh.
Arga menoleh ke kanan.
Kosong.
Ke kiri.
Tak ada siapa-siapa.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Hanya hujan.
Dan suara mesin mobil yang kembali memenuhi kesunyian.
Arga menggeleng pelan, mencoba mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap ke dalam dadanya.
Mungkin ia hanya terlalu lelah.
Ia kembali memandang jalan.
Saat itulah semuanya terjadi begitu cepat.
Sebuah cahaya putih menyilaukan muncul dari depan.
Terlalu terang.
Terlalu dekat.
Klakson panjang memekakkan telinga.