UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #2

BAB 2 - Kelopak Pertama

Kabut perlahan menipis.

Bukan pagi seperti yang Arga kenal. Langit di tempat itu tidak benar-benar terang, tetapi juga tidak gelap. Cahaya putih lembut memenuhi udara tanpa matahari yang terlihat, membuat waktu terasa kehilangan maknanya.

Arga membuka mata dengan tubuh yang masih kaku.

Ia mendapati dirinya bersandar di batang pohon besar di tepi danau. Ingatan tentang kecelakaan semalam kembali berkelebat begitu saja, membuat dadanya sesak.

Refleks, pandangannya mencari sesuatu.

Lotus.

Bunga-bunga putih itu masih mengapung tenang di tengah danau, seolah tak pernah berubah sejak pertama kali ia melihatnya.

Tanpa sadar ia menghitung.

"Satu... dua... tiga..."

Hitungannya berakhir di angka dua puluh satu.

Arga mengembuskan napas lega.

Ia sendiri tidak tahu mengapa merasa lega.

Seakan ada sesuatu dalam dirinya yang memang berharap jumlah itu tetap sama.

Angin tipis berembus.

Nyaris tidak terasa.

Namun cukup untuk membuat permukaan danau beriak pelan.

Tatapan Arga terpaku pada salah satu bunga.

Satu kelopaknya bergerak perlahan.

Bukan karena layu.

Bukan karena rusak.

Kelopak putih itu terlepas begitu saja, lalu melayang ringan seperti bulu yang kehilangan tempat berpijak.

Arga bangkit berdiri.

"Kenapa..."

Kelopak itu terus turun.

"...kelopaknya jatuh?"

Saat ujungnya menyentuh permukaan air, riak kecil menyebar membentuk lingkaran-lingkaran sempurna.

Danau yang semula jernih tiba-tiba berubah.

Airnya menjadi bening seperti kaca.

Bukan memantulkan langit.

Melainkan memperlihatkan sesuatu yang lain.

Di belakang Arga, perempuan bergaun putih itu berdiri membisu.

Wajahnya kembali dipenuhi kesedihan.

Ia memandangi riak yang terus melebar tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Bayangan mulai terbentuk di permukaan air.

Mula-mula samar.

Lalu semakin jelas.

Arga menahan napas.

Yang dilihatnya bukan orang asing.

Itu dirinya sendiri.

Dan seorang perempuan yang sangat ia kenal.

Keira.

Mereka berjalan berdampingan di sebuah jalan kecil menjelang sore. Masing-masing membawa kantong belanja yang tampak terlalu penuh.

Keira mendesah panjang.

"Kamu beli kopi lagi?"

Arga dalam kenangan itu tersenyum polos.

"Diskon."

"Diskon bukan berarti harus beli lima bungkus."

"Kalau habis gimana?"

Keira mendelik.

"Kamu minum kopi kayak mau buka kafe."

Arga tertawa.

"Siapa tahu nanti pensiun."

Keira mencubit lengannya pelan.

Mereka saling melempar senyum.

Tak ada kejadian luar biasa.

Tak ada kata-kata besar.

Hanya dua orang yang pulang ke rumah sambil bercanda tentang hal-hal yang sangat sepele.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat dada Arga terasa diremas.

Lihat selengkapnya