UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #3

BAB 3 - Jalan Pulang

Kabut masih menggantung di atas danau ketika Arga membuka mata.

Tempat itu tetap sama. Langit tanpa matahari. Udara tanpa arah angin. Air danau yang tenang seperti kaca.

Lotus putih masih mengapung di tengah danau.

Arga menghitungnya sekali lagi.

Dua puluh.

Jumlah itu belum berubah sejak kemarin. Namun entah mengapa, melihat bunga-bunga itu membuat dadanya semakin gelisah. Ia tidak tahu apa arti setiap kelopak, tetapi nalurinya mengatakan bahwa masing-masing memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar bunga yang mengapung.

Ia mengembuskan napas panjang.

Menunggu tidak akan mengubah apa pun.

Jika tempat ini memang memiliki jawaban, ia harus mencarinya sendiri.

Arga berdiri.

Tatapannya menyusuri hutan berkabut di seberang danau.

"Kalau memang ada jalan keluar..." katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "aku akan menemukannya."

Suara itu memecah keheningan.

Rumi, yang sejak tadi duduk memandangi permukaan danau, menoleh perlahan.

Beberapa saat ia hanya menatap Arga.

Lalu mengangguk kecil.

"Kalau begitu..."

Ia bangkit dari tempat duduknya.

"...aku ikut."

Arga menatapnya heran.

"Kenapa?"

Rumi berpikir sejenak, seolah sedang mencari jawaban yang tepat.

"Aku juga ingin tahu."

Jawaban itu sederhana.

Namun ada sesuatu dalam tatapan Rumi yang tidak sempat ia ucapkan.

Ia tidak ingin Arga menghilang seperti orang-orang yang pernah ia lihat berjalan memasuki kabut... lalu tak pernah kembali.


Mereka memasuki hutan.

Pepohonannya menjulang tinggi hingga puncaknya hilang ditelan kabut. Batangnya berwarna pucat, sementara dedaunannya memantulkan cahaya keperakan yang membuat seluruh hutan tampak seperti lukisan yang kehilangan warna.

Tak ada angin.

Namun daun-daun terus berguguran.

Melayang perlahan.

Jatuh tanpa suara.

Arga menengadah.

"Kenapa daunnya jatuh terus?"

Rumi ikut melihat ke atas.

"Aku juga tidak tahu."

Jawaban itu mulai terasa akrab di telinga Arga.

Di tempat ini, hampir semua pertanyaan berakhir dengan ketidaktahuan.

Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak yang nyaris tertutup akar pohon.

Di sela-sela kabut, Arga melihat beberapa sosok berdiri di antara pepohonan.

Seorang pria tua.

Seorang anak kecil.

Seorang perempuan yang memeluk sesuatu di dadanya.

Mereka diam.

Tak bergerak.

Arga mempercepat langkah.

"Halo!"

Belum sempat ia mendekat, kabut bergerak pelan.

Sosok-sosok itu lenyap.

Seolah tidak pernah ada.

Arga berhenti.

"Kau lihat mereka?"

Rumi mengangguk pelan.

"Mereka siapa?"

Rumi memandang ke arah kabut yang kembali kosong.

"Entahlah."

Ia menarik napas pelan.

Lihat selengkapnya