Kabut masih menggantung rendah di atas danau.
Arga berdiri di tepinya, menatap hamparan lotus putih yang mengapung tanpa bergerak. Jumlahnya tetap dua puluh, tetapi satu kelopak tampak bergetar pelan diterpa embusan angin yang nyaris tak terasa.
Entah mengapa, ia merasa takut.
Takut kehilangan satu lagi.
Takut waktu di tempat ini bergerak lebih cepat daripada harapannya.
Di sampingnya, Rumi berdiri dalam diam. Tatapannya tak pernah benar-benar lepas dari danau, seolah ia sudah hafal setiap perubahan kecil yang terjadi di sana.
Lalu angin itu datang lagi.
Pelan.
Satu kelopak terangkat dari mahkotanya.
Melayang tanpa tergesa.
Tak layu.
Tak rusak.
Hanya melepaskan diri, seolah memang sudah waktunya pergi.
Arga menahan napas.
Kelopak itu menyentuh permukaan air.
Riak kecil menyebar membentuk lingkaran-lingkaran sempurna.
Permukaan danau yang semula bening berubah menjadi cermin.
Arga spontan melangkah mendekat.
Kini ia tahu.
Setiap kelopak yang gugur selalu membawa sesuatu.
"Apa yang akan muncul kali ini?" tanyanya lirih.
Rumi menggeleng.
"Tidak ada yang tahu."
Bayangan mulai terbentuk.
Mula-mula hanya warna-warna samar.
Kemudian dinding putih.
Lampu yang redup.
Suara bip... bip... bip... terdengar pelan, ritmis, memecah keheningan.
Arga membeku.
Sebuah ruang perawatan intensif.
Di atas ranjang terbaring seorang laki-laki dengan wajah pucat, tubuhnya dipenuhi selang dan kabel monitor.
Laki-laki itu adalah dirinya sendiri.
Arga tak berkedip.
Dadanya sesak.
Jadi...
Tubuhnya masih ada.
Masih bernapas.
Di sisi ranjang, seorang perempuan duduk dengan kepala tertunduk.
Rambut panjangnya berantakan.
Matanya sembab karena terlalu lama menangis.
Tangannya menggenggam erat jemari Arga yang tak mampu membalas.
Keira.
Melihatnya lagi membuat seluruh kekuatan Arga runtuh seketika.
Ia tampak jauh lebih kurus daripada terakhir kali mereka bertemu.
Ada kelelahan yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Namun ia tetap bertahan di sana.
Tetap menunggu.
Keira mengusap perlahan punggung tangan Arga.
Lalu tersenyum tipis.
Senyum yang rapuh.
"Katanya..."
Suaranya hampir tak terdengar.
"...kamu selalu tepat janji."
Ia menarik napas panjang.
"Sekarang kenapa lama sekali pulangnya?"
Arga menatapnya tanpa berkedip.
Rasa rindu yang selama ini ia tahan menghantam dadanya sekaligus.
Ia mengulurkan tangan ke arah permukaan danau.
"Keira..."